|
||||||
.: PUBLICATIONS :. Articles |
PERILAKU KONSUMEN PENDIDIKAN * A.B. Susanto Majalah Eksekutif edisi Maret kemarin mengulas mengenai fenomena masuknya sejumlah nama asing di bidang pendidikan yang masuk Jakarta seperti High/Scope, Tutor Time, Gymboree, Kidspot, Kinderland, dan lain-lain. Kecuali High/Scope semuanya lebih banyak bermain dijenjang play group. Mengapa lebih banyak berada dijenjang ini ? Tentu pertimbangan pasar dan besarnya investasi yang menjadi alasannya.
Biaya pendidikan yang dipatok pun tergolong tinggi. Uang pangkal untuk play group mencapai Rp. 7 juta (High /Scope) dan untuk SD Rp. 35 juta (High/Scope) sampai Rp. 61,8 juta (Global Jaya). Biaya ini sering lebih tinggi dari biaya masuk SMU bahkan Perguruan Tinggi sekalipun. Padahal logikanya pendidikan yang lebih tinggi membutuhkan biaya yang lebih besar. Tentu ini tak terlepas dari nuansa bisnis yang mulai ditampilkan secara terang-terangan. Dengan sistem waralaba dan kewajiban franchisee menyediakan dana Rp. 800 juta sampai Rp. 1 milyar, maka pertimbangan bisnis menjadi pertimbangan utama.tidak seperti masa lalu yang berat di aspek sosial, atau ada pula yang pendekatan bisnis tetapi berkedok sosial. Munculnya trend uang pangkal dan SPP untuk Kelompok Bermain dan TK yang cukup mahal ini bukan hanya terjadi untuk merek-merek impor saja. Play Group dan TK lokal pun berlomba untuk mematok tarif tinggi. Beberapa diantaranya memakai merek berbau asing untuk mengangkat gengsinya. Yang lain menjual program dwi bahasa, fasiltas komputer, jumlah siswa yang sedikit per kelas, kolam renang dan AC. Kondisi ini agak kontraditif dengan berita yang baru saja dilansir oleh Business Week beberapa waktu lalu. Di AS dunia perguruan tinggi justru mengalami krisis, karena di tengah membengkaknya biaya, pendanaan malah semakin cekak. Misalnya Virginia Polytechnic Institute & State University terpaksa harus menggusur 154 tenaga pengajar dan menghapus hampir 400 mata kuliah. Sebagai institusi pendidikan yang ditopang negara, berkurangnya subsidi negara berdampak serius. Apakah ini berarti industri pendidikan di tanah air tengah berbinar ? Fenomena ini menarik mengingat beberapa tahun yang lalu banyak SD di Indonesia terutama di kota besar yang kekurangan murid. Bahkan di Jakarta ada SD yang terpaksa digabungkan. Terdapat juga berita SMU di kota Medan sempat berebut calon murid. Fenomena kekurangan murid ini disebabkan oleh masuknya generasi yang mencerminkan keberhasilan program KB di Indonesia. Program KB di Indonesia yang sempat dipuji keberhasilannya sampai di tingkat internasional, telah menyebabkan keluarga-keluarga dengan anak yang lebih sedikit. Konsekuensinya kapasitas pendidikan yang disediakan untuk generasi sebelumnya, dimana setiap keluarga masih mempunyai banyak anak menjadi berlebih. Hal ini nampak terutama di kota besar yang program wajib belajarnya terlaksana. Sehingga berlaku hukum permintaan dan penawaran, permintaan sedikit dan penawaran banyak. Masalahnya mengapa di tengah situasi penawaran banyak dan permintaan menurun justru sekarang banyak dibangun sekolah baru terutama di tingkat TK dengan biaya pendidikan yang sangat tinggi ?. Inilah kalau kita hanya bertumpu pada data-data demografis belaka dan berlandaskan asumsi-asumsi ekonomi saja. Pendekatan ini tampak bias dan tidak dapat dipakai untuk menganalisis permasalahan. Sehingga diperlukan data-data psikografis lebih lanjut untuk menganalisa perilaku konsumen pendidikan. Keluarga kecil dengan dua anak yang sekarang banyak terlihat di perkotaan, mestinya mempunyai alokasi biaya untuk masing-masing anak lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga besar dengan enam orang anak. Disertai kesadaran dan komitmen yang lebih tinggi terhadap pendidikan di kalangan menengah, karena mereka juga merupakan produk dari pendidikan yang lebih tinggi dari generasi sebelumnya, maka kesediaan untuk menyisihkan penghasilan kepada pendidikan menjadi lebih besar. Fenomena ini juga diperkuat oleh terjadinya kecenderungan karir ganda pada keluarga-keluarga muda perkotaan. Keluarga dengan karir ganda ini hanya mempunyai sedikit waktu bagi anak-anaknya di satu sisi, sementara di sisi yang lain memiliki alokasi dana yang lebih besar bagi mereka. Ketika anaknya lahir dan berusia dua sampai tiga bulan, si Ibu harus kembali ke kantor untuk bekerja karena masa cuti hamilnya habis. Di beberapa keluarga Indonesia yang pada umumnya menganut extended family, mereka mengundang keluarga besarnya (yang biasanya neneknya) untuk terlibat mengawasi pengasuhan anak mereka yang diserahkan kepada baby sitter. Tetapi tidak semua keluarga dapat berbagi seperti ini karena terpisah oleh tempat tinggal. Sebagian keluarga muda ini menitipkan anaknya ke tempat penitipan anak. Dalam situasi seperti ini sebagian waktu aktif anak tidak didampingi orang tua mereka. Sehingga timbul keinginan yang kuat untuk memasukkan anak ke dalam institusi pendidikan dalam usia yang masih sangat dini. Beberapa institusi pendidikan anak bahkan menerima pendidikan anak sejak usia 6 bulan, walaupun sebagian besar di usia 2 tahunan. Di masa lampau Taman Kanak-Kanak dianggap kurang penting sehingga institusi pendidikan yang besar kurang mempunyai perhatian terhadap jenjang ini. Pendidikan Taman Kanak-Kanak sering diselenggarakan di dekat pemukiman dengan menyulap sebuah rumah menjadi tempat pendidikan. Kemudian institusi pendidikan besar yang biasanya mulai dari jenjang SD sampai perguruan tinggi mulai mengikutsertakan jenjang Taman Kanak-Kanak di dalam institusinya. Pada saat ini masih jarang institusi pendidikan besar yang melibatkan diri dalam jenjang pendidikan kelompok bermain. Namun di masa yang akan datang akan banyak institusi besar yang mengintegrasikan pendidikannya dari jenjang kelompok bermain sampai perguruan tinggi. Pada keluarga muda berkarir ganda ini terdapat kebutuhan untuk memberi pendidikan yang lebih baik dibandingkan pada masa kecilnya, disertai kesediaan untuk memberi alokasi dana yang lebih tinggi pula. Kebutuhan ini menimbulkan permintaan baru sehingga banyak bermunculan pendidikan pra sekolah yang baru, dengan motif bisnis yang lebih kuat dan menyediakan fasilitas-fasilitas yang lebih baik dengan biaya yang lebih mahal. Pendidikan bukanlah sekedar mempunyai functional benefit belaka, tetapi juga self expression benefit. Keluarga-keluarga di Asia bangga jika anaknya sekolah di AS, Eropa, atau Australia, dan menaikkan gengsinya. Fenomena ini juga menghinggapi keluarga muda di Jakarta. Mereka bangga dan merasa terangkat gengsinya jika anaknya dapat mengenyam pendidikan di institusi pendidikan pra sekolah yang elit ini, apalagi yang impor. Dan bukan hanya itu. Kelompok orang tua akan masuk dalam komunitas yang elit ini. Jika dibandingkan dengan sekolah SMU yang anaknya sudah mandiri yang orang tuanya jarang ketemu, maka orang tua anak-anak balita ini kemungkinan akan sering ketemu dan membentuk suatu community. Keanggotaan dalam community ini merupakan suatu prestise tersendiri dan dapat dimanfaatkan untuk ajang promosi bagi pemasaran institusi ini. Karena promosi yang paling efektif adalah words-of-mouth. Kebanggaan mereka terhadap institusi pendidikan dan keanggotaannya dalam komunitas orang tua murid, dapat menjelma menjadi customer advocacy. Mereka akan memuji, membela dan memberi referensi bagi rekan-rekannya jika mereka merasa puas dan bangga terhadap institusi itu. Sebuah nilai lebih dari bisnis ini. Tertarik ? <EKSEKUTIF> *Managing Partner The Jakarta Consulting Group. |
|