logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



The Millennium Development Goal
Himawan Wijanarko*


Kabarnya angka penduduk miskin membengkak sebesar satu juta, menjadi 16,5 juta Sungguh ironis, justru saat PBB mencanangkan pengurangan angka kemiskinan sebagai Millennium Development Goal. Banyak sisi pandang untuk menjelaskan masalah kemiskinan mulai dari sisi ekonomi, sosiologi, antropologi, psikologi dan lainnya. Tetapi tidak ada satu pun yang menyarankan charity sebagai solusi.

Keyakinan yang sama yang menyertai sebuah tim dari Harvard University ketika mengembangkan Achievement Motivation Training di suatu komunitas di Rajahmundri, India. Landasan pelatihan semacam ini adalah kerangka berpikir yang diungkapkan oleh McClelland mengenai kebutuhan berprestasi, yang bermaksud menyebarkan virus nach (need for achievement) bagi para pesertanya, agar memiliki daya juang yang tinggi dalam meraih prestasi.

Jika kita melihat beberapa daerah di Indonesia, kita akan menemukan bagaimana keterbatasan sumber daya alam justru mencetak manusia-manusia yang tangguh, ulet dan pekerja keras. Misalnya alam Gunung Kidul dan Madura yang sering melahirkan para pekerja keras dan ulet. Sebagian dari mereka berhasil menjadi para wirusahawan yang berhasil. Keterbatasan yang ada, tidak menjadikan mereka pasrah kepada nasib.

Salah satu ciri wirausahawan adalah merasa memiliki kontrol terhadap nasib mereka sendiri. Howard H. Stevenson mengajukan teori yang memilah-milah perasaan itu di antara dua kutub. Kutub pertama disebutnya "promoter." Ini adalah ciri wirausahawan yang terus mengejar kesempatan tanpa mempedulikan apakah ia punya cukup sumber daya atau tidak. Kutub lainnya adalah "trustee" yang selalu memeriksa sumber dayanya terlebih dahulu dan baru mengejar kesempatan berdasar apa yang dimilikinya itu. Tentu saja, tidak ada seorang pun yang murni "promoter" atau sebaliknya "trustee" sempurna. Namun, seorang wirausahawan cenderung mendekati tipe "promoter" di dalam spektrum kontrol nasib ini. Mereka terus-menerus membuat keputusan berdasarkan kesempatan yang muncul.

Dalam konteks budaya kita, dapat dipilah antara menerima nasib dan menerima takdir. Nasib acap dihubungkan dengan sikap fatalistik, dan barangkali memang sebagai salah satu cara yang efektif untuk menerima suatu keadaan apa adanya tanpa rasa frustrasi atau stres. Sikap fatalistik ini sering dituding sebagai sumber dari budaya kemiskinan (proverty culture). Budaya kemiskinan merupakan mekanisme adaptif terhadap situasi yang serba terbatas agar dapat, dan diwariskan. Sementara dalam makna takdir: seseorang berusaha dahulu, walaupun Tuhan yang akan menentukan hasilnya. Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang, jika orang itu tidak berusaha merubahnya.

Jadi dalam keyakinan banyak pihak charity bukanlah jawaban karena hanya akan menimbulkan ketergantungan dan menghilangkan inisiatif. Pertama kali yang harus dilakukan adalah mengentas dari budaya kemiskinan, terutama persepsi terhadap nasib. Kemudian tingkatkan achievement motive mereka, serta fasilitasi mereka dengan sarana. Salah satu sarana yang dipakai oleh PBB mempermudah akses finansial kepada mereka dengan ditetapkan tahun 2005 sebagai The International Year of Microcredit bertema Building inclusive financial service to achieve the Millennium Development Goal.

Program ini bukanlah program charity. Kita dapat pula menyimak pengalaman BRI Unit yang menggeluti kredit mikro. Awalnya program ini adalah program bersubsidi. Ketika subsidi dihentikan, mereka pun harus bertransformasi menjadi unit usaha komersial. BEP diraih dalam dua tahun, dan dalam tahun ketiga operasi secara komersial sudah bebas subsidi. Dan ternyata NPL kredit mikro tidak pernah melampaui angka tiga persen. Bahkan ketika bangsa ini menghadapi titik nadir krisis ekonomi yang lalu. Saat itu, kinerja pinjaman mikro BRI Unit justru meningkat, tanpa disertai peningkatan NPL yang signifikan! Bandingkan dengan usaha besar!

Ternyata menolong yang kecil juga bisnis yang menguntungkan.<Majalah Trust>


* GM Strategic Services The Jakarta Consulting Group