|
||||||
.: PUBLICATIONS :. Articles |
Monster Ancol Himawan Wijanarko* Kalau dahulu ada Si Manis Jembatan Ancol yang legendaris, sekarang muncul Monster Ancol yang katanya seperti Piranha. Bedanya Si Manis Jembatan Ancol ”dihidupkan” oleh komunikasi dari mulut ke mulut, hanya ada dalam imajinasi. Terbentuknya perlahan, legendanya pun bertahan lama. Sementara Monster Ancol ’meledak’ dengan cepat yang ”dihidupkan” dari sepotong video di You Tube, dan ”dibesarkan” oleh media dan komunikasi dari mulut ke mulut, terutama oleh imajinasi orang yang tidak melihat videonya secara langsung di You Tube. Maklum, komposisi orang yang melek internet di negeri kita tergolong rendah. Apalagi judul video itu cukup seram, Monster Ancol Like Piranha. Dan seperti biasanya, komunikasi berantai menyebabkan makna isi pesan menjadi melenceng. Sebenarnya dalam video itu sudah dijelaskan bahwa binatang yang dimaksud adalah kutu air, tidak provokatif seperti judulnya, bahkan mengandung unsur edukatif. Walaupun si pembuat video membuat judul yang sensasional, kesalahan intrepretasi bak bola salju ini di luar perkiraan si pembuatnya sendiri, yang masih ABG. Terlepas dari tidak adanya unsur kesengajaan untuk menjatuhkan nama Ancol, tetapi rumor yang tersiar tentu merugikan Ancol, yang kabarnya merupakan tempat rekreasi dengan pengunjung terbesar ketiga di dunia. Respon cepat Jaya Ancol, patut diacungi jempol. Keterbukaannya terhadap media, sangat membantu meluruskan kembali berita yang beredar. Rumus utama aktivitas PR dalam rangka meluruskan kesalahpahaman dan mispersepsi adalah mengidentifikasi masalah, respon yang cepat, manfaatkan media secara optimal, jangan sembunyikan fakta dan jelaskan langkah-langkah ’telah’ dilaksanakan dan apa yang ’akan’ dilakukan. Adanya ”kutu air” di pantai Ancol adalah fakta yang harus diakui. Sementara ”monster” adalah opini terhadap fakta, yang bermula dari persepsi yang keliru. Antara fakta dan persepsi mesti dipilah. Dalam kasus ini, krisis tidak bersumber dari fakta, tetapi dari persepsi terhadap fakta. Sehingga titik beratnya adalah manajemen terhadap persepsi. Sejatinya sumber masalah dipicu oleh terminologi monster, diasosiasikan pula dengan Piranha. Visualisasi yang kuat yang ditimbulkan video memunculkan kecemasan terhadap keselamatan pengunjung Ancol. Langkah Ancol untuk menginvestigasi dan kemudian mengakui fakta bahwa kutu air memang terdapat di pantai Ancol merupakan langkah yang tepat, karena di balik pengakuannya terhadap fakta juga sudah ada upaya untuk meluruskan bahwa ‘monster’ itu adalah kutu air. Memakai pihak ketiga yang kredibel (LIPI) untuk meluruskan terminologi ‘monster’ itu juga merupakan langkah yang tepat. Barangkali yang terlewat dari perhatian adalah membuat video ‘tandingan’, bahwa makhluk ini tidak berbahaya bagi manusia dengan visualisasi yang kuat. Bagaimanapun penggambaran visual memberikan impresi lebih kuat dan ’menancap’ di benak daripada pernyataan. Media televisi lebih membutuhkan video daripada pernyataan seseorang, sehingga tetap saja mereka memutar video ’monster’ karena lebih menarik bagi pemirsa. Jika ada video tandingan, televisi juga akan memutarnya. Kemunculan video pembuktian ini lebih penting ketimbang membahas ketidakseimbangan ekosistem. Video tandingan itu berupa pembuktian bahwa kutu air tidak berbahaya bagi manusia. Misalnya dengan mempertunjukkan bagaimana kutu ikan itu memakan bangkai ikan, tetapi tidak ‘memakan’ manusia. Bahkan jika berpikir kreatif mengapa Jaya Ancol tidak membuat pertunjukan ”spektakuler”, dengan menggelar atraksi ”Monster Ancol” yang menggambarkan manusia yang dikerubuti ‘monster’ tersebut ternyata tidak apa-apa. Bukankah sebenarnya dalam sebuah problema selalu terdapat peluang? Kreatifitas semacam ini juga merupakan cerminan dari tata nilai unggulan (core values) Think Wild sebagai bagian dari budaya ANCOL SPECTACULER. * GM Strategic Services The Jakarta Consulting Group Pernah dimuat di Majalah Trust |
|