|
||||||
.: PUBLICATIONS :. Articles |
ELPIJI Himawan Wijanarko* Wapres minta maaf atas kelangkaan ELPIJI kemasan 3 kg. (ELPJI sebenarnya adalah brand name dari produk LPG yang dipasarkan Pertamina, tetapi orang sering mempertukarkan istilah LPG dan ELPIJI). Kabarnya yang menjadi penyebabnya adalah infrastruktur pengisian tabung dan distribusi kurang siap. Alasan lainnya Pertamina tidak memiliki tangki timbun besar untuk cadangan. Ketidaksiapan ini diperparah oleh permintaan yang melonjak, di luar prediksi pemerintah. Namun sebenarnya ada yang menarik dalam bisnis ELPIJI bagi Pertamina, karena posisi Pertamina - yang telah menjadi PT - dari sisi bisnis menjadi tidak jelas. Dahulu sebelum ada program konversi minyak tanah menjadi LPG, sebenarnya Pertamina menjalani bisnis LPG ini dengan setengah hati. Betapa tidak, dalam statusnya sebagai perseroan terbatas, Pertamina harus menanggung subsidi untuk pelanggan rumah tangga. Semakin laku ELPIJI, semakin besar rugi yang akan ditanggung Pertamina. Tentu logika ini bertentangan dengan prinsip perusahaan sebagai makhluk pencari laba alias economic animal. Lantas secara bertahap Pertamina mulai menaikkan harga menuju harga keekonomian. Bisnis LPG adalah bisnis yang besar, sehingga kompetitor seperti Petronas dan Shell mengambil ancang-ancang untuk masuk, di samping kompetitor lama macam Blue Gaz. Saya pernah melihat salah satu kantor distributor LPG Petronas ini di Bintaro. Pertamina juga sudah berancang –ancang untuk berbenah diri dalam bisnis LPG ini, seperti halnya pembenahan yang dilakukan di bisnis SPBU-nya. ”Penyesuaian harga” secara bertahap mendekati nilai keekonomian ini, walaupun menimbulkan protes tapi tidak sempat menimbulkan gejolak yang mengundang intervensi politik. Mengapa? Salah satu asumsinya, pemakai ELPIJI (tabung 12 kg) adalah golongan menengah yang memang tidak seharusnya menikmati subsidi. Yang layak menikmati subsidi adalah golongan bawah pemakai kompor minyak tanah. Tatkala harga minyak membumbung tinggi, subsidi yang digelontorkan untuk mensubsidi minyak tanah membengkak. LPG ditasbihkan sebagai pengganti minyak tanah untuk mengurangi beban subsidi negara. Sebuah ide yang bagus dan dilandasi niat yang baik, serta keberanian untuk mengambil keputusan. Tentu saja langkah ini membutuhkan subsidi untuk kompor dan tabung 3 kg yang diberikan gratis, serta harga isi LPG-nya. Subsidi untuk tabung ELPIJI 3 kg inilah yang menjadikan rumit. Seperti halnya konsumen BBM yang terbagi menjadi non industri dan industri, konsumen LPG terbagi menjadi industri (pembelian jumlah besar, biasanya dalam satuan ton dalam bentuk curah, ditampung dalam tangki), komersial (misalnya restoran, biasanya dilayani dengan tabung 50 kg) dan rumah tangga (dan usaha kecil, dalam tabung 12 kg). Munculnya tabung 3 kg ini menciptakan kategori keempat, kategori ”rumah tangga bersubsidi” (termasuk pedagang kecil seperti penjual mie keliling). Saat ELPIJI 12 kg dijual dengan harga Rp 5.750 per kg, ELPIJI 3 kg dijual Rp 4.250 per kg. Lantas sebagian konsumen tabung 12 kg bermigrasi ke wilayah tabung isi 3 kg. Ketika ELPIJI isi 12 kg disesuaikan dengan harga keekonomian, migrasi makin banyak. Maklum harga tabung ELPIJI 3 kg hanya sekitar Rp 125 ribu, sementara ELPIJI 12 kg bisa mencapai Rp 800 ribu. Terjadilah kelangkaan ELPIJI isi 3 kg dan Presiden melakukan intervensi politik agar ELPIJI isi 12 kg tidak dinaikkan untuk mencegah migrasi lebih banyak dan membahayakan keberhasilan program konversi minyak tanah. Padahal dari target tahun ini yang 20 juta paket, sampai akhir November pemerintah baru bisa menyalurkan 12,5 juta paket. Ujung-ujungnya Pertamina harus melakukan subsidi, yang makin laris jualannya makin besar ruginya. Para kompetitor yang sudah bersiap-siap untuk masuk ke bisnis ini menunda langkahnya. Era kompetisi seperti yang terlihat dalam bisnis SPBU, yang memaksa Pertamina untuk berbenah, agak tertunda. Mungkin harapan kita untuk melihat Pertamina ”baru” seperti program ”Pasti Pas” di SPBU-nya, masih menunggu waktu untuk diterapkan dalam bisnis LPG. Lha, makin bagus layanannya, makin laku jualannya, makin besar ruginya, makin jelek kinerja finansialnya. * GM Strategic Services The Jakarta Consulting Group Pernah dimuat di Majalah Trust |
|