logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
CSR
Entrepreneurship
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Reputation Management
Soft Skill
Strategy
Others



Majalah Trust - Tantangan Pemimpin Pasar
Himawan Wijanarko*

Inilah kisah sukses Nokia menjadi pemimpin pasar. Keberhasilan Nokia tidak terlepas dari strateginya dalam memposisikan Nokia sebagai produsen telepon seluler yang memberikan sentuhan manusiawi terhadap produknya. Nokia menantang konsep tradisional telepon seluler yang hanya menonjolkan keunggulan teknis. Dalam banyak kasus, hal ini direpresentasikan dalam tagline ” "We call this human technology". Nokia memberi perhatian kepada “dimensi manusiawi” komunikasi seluler. Kemudian berubah menjadi ”Conecting People”.

Menjadi pemimpin di pasar global, Nokia juga menjadi pemimpin pasar di Indonesia. Salah satu strateginya adalah price skimming. Sebuah produk baru premium yang fiturnya canggih dijual dengan harga tinggi. Volume penjualan memang terbatas, namun keuntungannya tinggi pada setiap unitnya. Kemudian menurun setelah periode awal, yang biasanya sekitar 2 bulan. Tentu saja dengan profit margin yang lebih rendah per unit, tetapi dikompensasi dengan volume penjualan lebih banyak. Ujung-ujungnya dengan volume penjualan yang tinggi, Nokia meraup banyak keuntungan.

Harga tinggi selalu diasosiasikan dengan kualitas tinggi. Jadi sejatinya penetapan harga tinggi ini adalah sebuah upaya membangun image. Misalnya yang paling terkenal saat meluncurkan Communicator. Strategi harga ini dibarengi dengan promosi yang gencar. Sehingga citra Nokia secara keseluruhan terangkat, bukan hanya yang dipromosikan saja. Promosi ini secara tidak langsung juga “mensubsidi” produk-produk Nokia yang juga menyasar pasar medium dan low end.

Jaringan distribusinya dan layanan purna jualnya juga kuat. Nokia memiliki jaringan pusat layanan terbesar di Indonesia, yang mempunyai 5 distributor. Sebagai penunjangnya, Nokia juga mendirikan Nokia Priority Dealers (NPD), Nokia Professional Center (NPC), dan Nokia Sales and Care Center (NSCC). Saat ini Nokia telah memiliki 100 Nokia Priority Dealers (NPD), 23 Nokia Professional Center (NPC) di 12 kota dan satu Nokia Sales and Care Center (NSCC) di Jakarta. Kuatnya distribusi dan layanan purna jual ini juga berdampak pada harga jual kembali yang relatif tinggi dibandingkan merek lainnya. Sebuah value tersendiri bagi konsumen Indonesia! Reseller value yang tinggi ini juga memudahkan pelanggan untuk tukar tambah dengan produk yang lebih baru.

Pendek kata. bauran pemasaran Nokia bekerja efrektif, karena mereka mampu memahami konsumen Indonesia dan "berbicara” dengan sejumlah besar konsumen di segmen pasar yang berbeda-beda.

Namun dalam dinamika pasar di Indonesia, sebenarnya Nokia tengah terhimpit oleh produk-produk Cina bermerek lokal seperti Nexian, Blueberry/CSL, i-Mobile dan sejenisnya untuk kelas low end. Selain harganya murah fiturnya semakin lengkap, dan kualitasnya secara bertahap juga semakin baik. Produk Cina bermerek lokal ini juga lebih tajam dalam mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan pasar lokal, khususnya pasar low end, dan melayani setiap segmen dengan lebih baik. Misalnya ponsel dua kartu, yang mengakomodasi pulsa murah dalam kegiatan promosi harga.

Sementara untuk produk high end, terdesak oleh kehadiran Blackberry, yang pada tahun 2009 pertumbuhan pasarnya mencapai 500%, tertinggi di dunia. Walaupun secara produk kualitas dan teknologinya, Nokia lebih baik, tapi Blackberry memenuhi ketiga fungsi branding yaitu self actualization benefit (memenuhi gengsi penggunanya), emotional benefit dan functional benefit (terutama push email dan BBM). Terbentuknya komunitas BBM, merupakan keunggulan tersendiri. Apalagi layanan Blackberry semakin terjangkau, dipecah menjadi unit layanan yang lebih kecil dan satuan waktu yang lebih kecil (harian), sehingga lebih terjangkau. Kunci kemenangan Blackberry adalah dia tidak hanya menjual produk, tetapi juga layanan sebagai augmented product.

Inilah yang sedang dilakukan Nokia, dengan OVI-nya. Salah satunya adalah Nokia OVI Life Tools, yang membidik petani para petani. Mengapa para petani yang selama ini kerap dipandang sebelah mata? Tahun 2011, penetrasi telepon seluler di Indonesia diperkirakan mencapai 97,8 persen, termasuk pengguna baru seperti para petani.