logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



RELATIVITAS BUDAYA PERUSAHAAN
A.B. Susanto*


Jika kita melakukan boarding untuk penerbangan internasional, kita merasakan perbedaan kualitas layanan diantara berbagai maskapai penerbangan, yang petugasnya sama-sama orang Indonesia. Di maskapai perusahaan asing tertentu, layanannya lebih baik. Demikian pula kalu kita berhadapan dengan front line officer di Bank Asing tertentu, mengapa bisa lebih baik, padahal sesama oranga Indonesia ? Tetapi mengapa sesama orang Indonesia dapat memberi layanan yang berbeda-beda? Salah satu jawabnya adalah karena budaya perusahaan masing-masing maskapai berbeda, yang tercermin dari perilaku aktual yang berwujud layanan kepada masing-masing penumpang.

Bagaimanakah budaya perusahaan yang baik? pertanyaan ini adalah pertanyaan yang kurang tepat, yang tepat adalah bagaimanakah budaya perusahaan yang sesuai dengan perusahaan kita?. Karena budaya tidak dapat dikatakan baik atau buruk, dan setiap organisasi akan memiliki budaya yang berbeda sesuai dengan karakteristik organisasi tersebut. Misalnya perusahaan minyak yang tidak banyak memberi peluang deferensiasi produk di pasar akan cenderung mengadopsi budaya perusahaan yang berbasis post efisiensi sebaliknya perusahaan farmasi yang sangat mengandalkan penemuan-penemuan baru dalam bidang pengobatan akan menginvestasikan dana yang cukup besar untuk penelitian dan pengembangan. Perusahaan-perusahaan seperti rokok dan kosmetik, akan membelanjakan dana yang cukup besar untuk kegiatan promosi. Jadi tidak ada budaya perusahaan yang baik dalam semua perusahaan.

Banyak faktor yang menentukan apakah budaya perusahaan sesuai (suitable) untuk sebuah organisasi dalam waktu tertentu. Faktor yang utama adalah tujuan perusahaan, serta visi dan misinya, kedua adalah lingkungan bisnisnya. Lingkungan bisnis ini akan mempengaruhi perusahaan dalam mencapai tujuannya yang dituangkan dalam strategi. Dalam melaksanakan strategi ini diperlukan budaya yang dapat mendukung organisasi mencapai tujuannya. Jadi budaya organisasi dalam kurun waktu tertentu dimasa lalu dan sesuai dengan sebuah perusahaan belum tentu sesuai lagi dimasa kini karena lingkungan yang berubah. Lingkungan bisnis yang berubah, misalnya dari monopoli menuju oligopoli, akan menuntut perubahan bisnis demikian pula berbagai regulasi yang menjadikan pasar bebas dan mendorong persaingan bebas. Lingkungan yang berubah ini menuntut perusahaan untuk mengubah strateginya. Dan perubahan strategi dalam taraf tertentu menuntut perubahan budaya untuk mendukung strategi tersebut, misalnya berbagai BUMN yang ada sekarang dituntut untuk bersaing dalam kompetisi bebas.

Dengan demikian diperlukan kompatibilitas (compatibility) antara budaya dan strategi. Artinya untuk strategi tertentu dibutuhkan budaya tertentu. Beberapa BUMN yang terbiasa dengan hak monopolinya ketika menghadapi persaingan bebas harus merubah budaya perusahaannya berarti pula harus dilakukan management budaya perusahaan sebagai strategic tools untuk memenangkan persaingan.

Relativitas budaya yang artinya adalah masing-masing perusahaan membutuhkan budaya tertentu dapat dilihat dalam perusahaan.com. Kehadiran internet dalam bisnis sebuah perusahaan menuntut nilai-nilai tertentu misalnya budaya dalam perbankan, sebagaimana institusi keuangan yang lain membutuhkan nilai-nilai yang conservative, prudent. Disatu sisi divisi IT untuk mendukung e-banking membutuhkan nilai-nilai yang bertumpu pada kecepatan dalam pengambilan keputusan, yang berarti pula memperbesar keberanian untuk mengambil resiko. Bagaimanakah menyelaraskan nilai-nilai yang relatif bertentangan ini? pertama adalah melakukan strategi penerapan budaya secara paralel disini bidang yang menangani internet itu dapat ditampung dalam organisasi sendiri (spin off), dapat pula dengan mendirikan divisi internet dengan sharp culture tertentu, atau hanya membentuk suatu gugus tugas (tasks forces). Strategi kedua adah strategi hybrid strategies, yaitu menggunakan kedua pendekatan: pendekatan model bisnis tradisional maupun model e-business dalam divisi yang berbeda. Kemudian strategi ketiga adalah strategi terintegrasi, yang memaksa seluruh divisi untuk mengadopsi nilai-nilai yang dibutuhkan dalam e-business, yang berarti pula mengkonversi seluruh proses bisnis menuju internet.<BISNIS INDONESIA>


* Managing Partner The Jakarta Consulting Group