|
||||||
.: PUBLICATIONS :. Articles |
SDM dan Identitas Korporat Memasuki era bisnis yang lebih dilandasi oleh tuntutan akan value menyebabkan kita perlu lebih giat dalam membentuk kekuatan internal. Akan tetapi, kekuatan internal saja belum cukup untuk menghadapi situasi persaingan yang akan semakin ketat ini.
Sebenarnya, identitas korporat perlu dibentuk, didefinisikan, dikomunikasikan baik secara internal maupun eksternal dan diaplikasikan dalam setiap aspek organisasi agar memberikan landasan kompetisi yang lebih mapan. Selain memberikan kekuatan daya saing dalam benak konsumen masa sekarang, kekuatan identitas dapat dimanfaatkan untuk membentuk persepsi konsumen masa depan, yang berarti juga menjamin kelanjutan kehidupan dan penerimaan produk dan jasa perusahaan untuk jangka panjang. Di samping itu, memiliki identitas yang kuat akan mendorong terciptanya derajat integrasi yang tinggi sehingga memperkokoh perusahaan dalam menghadapi berbagai tantangan dan ancaman masa sekarang dan mendatang. Identitas korporat sebenarnya merupakan wadah untuk mewujudkan kepribadian perusahaan, nilai-nilai yang dianut, falsafah pemikiran, spirit yang melekat, serta berkaitan dengan gambaran komitmen perusahaan melalui visualisasi dari karakter dan manfaat dari produk atau jasa yang ditawarkan. Identitas korporat memiliki misi ganda. Yang pertama, identitas korporat menjalani misi badging atau misi sebagai alat identitas dasar, yaitu agar konsumen mengenal bahwa produk/jasa yang dibeli berasal dari perusahaan tertentu. Yang kedua adalah misi sebagai penentu gaya (style) perusahaan. Misi ini lebih kompleks karena meliputi hal-hal yang lebih abstrak seperti kepribadian perusahaan. Pemahaman akan misi yang disandang ini amat membantu perusahaan dalam menciptakan identitas korporat secara lebih efektif dan tepat sasaran. Pengembangan konsep dan penyempurnaan identitas korporat dapat dilaksanakan melalui berbagai pendekatan strategis, sedangkan aktualisasinya dapat dinyatakan melalui berbagai macam sarana. Untuk dapat menanamkan identitas ini ke benak konsumen internal dan eksternal, perusahaan perlu memiliki sistem komunikasi yang efektif, baik yang ditujukan untuk kalangan intern maupun ekstern. Dalam kesempatan kali ini, saya tidak ingin larut dalam proses yang lebih teknis, melainkan ingin mengkaitkannya dengan tanggung jawab dari seluruh sumber daya manusia yang menjadi anggota perusahaan. Sebagai bagian dari perusahaan, setiap karyawan harus dapat mencerminkan dan menghidupkan identitas perusahaan, serta akhirnya mendukung terciptanya citra yang lebih mantap di mata konsumen dan masyarakat luas. Dalam salah satu kesempatan berdiskusi dengan salah seorang eksekutif madya yang bekerja di salah satu perusahaan yang cukup ternama. Ternyata, dalam pembicaraan dan pembahasan mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan perusahaannya, saya tidak memperoleh kesan adanya cerminan dari identitas perusahaan dalam diri eksekutif tersebut. Juga tidak nampak kebanggaan dari nada bicaranya. Hal ini bertolak belakang dengan citra perusahaannya di kalangan masyarakat. Saya menyayangkan adanya kebocoran ini karena fungsi yang disandang sebagai contact person dan cerminan dari perusahaan tidak dapat dijalankan dengan baik. Apabila kebocoran ini merembet ke jajaran sumber daya manusia lainnya, maka kemungkinan dapat menimbulkan pengaruh negatif pada perusahaan secara keseluruhan. Sumber daya manusia masa sekarang mendudukkan dirinya sebagai sumber kekuatan intelektual perusahaan dan menginginkan adanya hubungan yang lebih bersifat partnership dengan perusahaan tempat meniti karir. Dengan demikian, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kemampuan perusahaan untuk dapat membentuk kontrak psikologis dan keterikatan emosional dengan karyawannya merupakan kunci utama untuk memperoleh dukungan penuh dalam menghidupkan identitas perusahaan. Tentunya hal ini hanya dapat dikembangkan dengan adanya penerapan sistem manajemen yang berpedoman pada E2, yaitu empowerment dan excellence. Keterikatan emosional dan kontrak psikologis ini hanya dapat terbentuk secara nyata jika sebelumnya telah dapat diciptakan perasaan bangga di kalangan anggota perusahaan bila disebut sebagai bagian dari perusahaan. Bagi saya, menciptakan kebanggaan berawal dari kemauan perusahaan untuk dapat mempercayai kemampuan anggotanya dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memberikan kontribusi secara signifikan. Dengan kata lain, perusahaan sebaiknya mengacu pada konsep manajemen partisipasi dan pada pembinaan trust. Asosiasi diri karyawan dengan perusahaannya sebenarnya juga dapat ditingkatkan dengan adanya sistem komunikasi yang benar-benar mengalir dan memiliki arti. Komunikasi ini berkaitan erat konsep care management yang mengutamakan kepedulian perusahaan, termasuk dari manajemen level atas, terhadap berbagai hal, permasalahan maupun kesejahteraan dari anggotanya. Perusahaan perlu mewaspadai gejala yang sering disebut sebagai Cassandra information tidak terjadi dalam perusahaan. Cassandra information mengacu pada informasi yang sebenarnya penting tetapi tidak mendapat perhatian dari manajer yang berwenang. Hadirnya kondisi ini di lingkungan perusahaan akan menghambat terbentuknya sikap peduli dan dengan sendirinya akan memperlambat terbentuknya kontak psikologis yang diharapkan terjadi dan memperlambat proses pelaksanaan fungsi sebagai cermin perusahaan. Menjadi sarana untuk menciptakan citra perusahaan memang tidak mudah. Hal ini memerlukan dukungan dari semua pihak dalam perusahaan dan perlu selalu diaktualisasikan sesuai dengan perkembangan perusahaan dan dilaksanakan secara konsisten. |
|