logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
CSR
Entrepreneurship
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Reputation Management
Soft Skill
Strategy
Others



Majalah Trust - Agustusan
Himawan Wijanarko*

Kemeriahan perayaan untuk mengenang hari proklamasi kemerdekaan kita tampaknya mulai menyurut. Dahulu kemeriahan itu terasa sampai ke pelosok negeri ini. Di berbagai sekolah, instansi pemerintah, dan perusahaan-perusahaan juga diadakan upacara bendera. Acap dalam upacara dilakukan penyerahan berbagai penghargaan. Agustusan adalah sebuah peristiwa budaya, yang di dalamnya ada upacara, ritual dan perayaan.

Dalam konteks perusahaan, perlu pula peristiwa budaya macam Agustusan, yang mempunyai unsur perayaan, upacara dan ritual. Tujuannya untuk memperkuat budaya perusahaan. Perusahaan dengan budaya yang kuat senantiasa merayakan aneka peristiwa penting dan juga kegembiraan, seperti saat berhasil mencapai target atau ada karyawan yang mampu mengukir prestasi tinggi. Salah satunya oleh Deal dan Kennedy sebagai ritual pengakuan.

Ritual pengakuan tidak boleh dianggap remeh. Jika diabaikan akan timbul ketidakpastian, kebingungan, serta perasaan tidak adil dan tidak dihargai. Contoh ritual pengakuan adalah perayaan bagi karyawan yang baru dipromosikan pada sebuah kantor pusat perusahaan asuransi terkemuka. Di perusahaan tersebut, promosi identik dengan kantor baru dengan perlengkapan baru untuk menciptakan lingkungan yang segar. Pada hari dilakukannya promosi disediakan makanan bagi para undangan yang datang memberikan ucapan selamat. Ritual tersebut merupakan sebuah seremoni yang menandai transisi dari status yang lama kepada status yang baru. Contoh lainnya adalah sebuah perusahaan farmasi yang memberikan pengehargaan bagi anggota tim penelitian dan pengembangan (R&D) bila hasil penemuan mereka berhasil memperoleh hak paten.

Di banyak perusahaan acap diadakan acara makan malam atau pesta perpisahan bagi karyawan yang akan memasuki masa pensiun Acara tersebut merupakan bentuk pengakuan dan penghargaan bagi karyawan yang telah mengabdikan dirinya bagi perusahaan. Acara tersebut, seperti halnya acara penghargaan bagi karyawan yang berprestasi, kerap diisi oleh penyampaian pidato dan cerita serta penganugerahan hadiah. Sejatinya, hal ini dilakukan untuk memperkuat nilai-nilai perusahaan serta menempatkan pahlawan-pahlawan perusahaan dalam hati setiap karyawan.

Dalam melembagakan ritual pengakuan, pemimpin perusahaan memegang peran penting. Mereka harus mampu menyisipkan aspek-aspek dramatis dari sebuah ritual pengakuan. Jika tidak, perusahaan akan kehilangan peluang untuk memanfaatkan ritual pengakuan tersebut untuk memperkuat nilai-nilai perusahaan. Hal ini pada gilirannya akan melemahkan budaya perusahaan.

Pemimpin perusahaan yang cerdas memainkan peran aktif dalam ritual melembagakan ritual pengakuan. Mereka berpartisipasi misalnya dalam orientasi karyawan baru, mengorkestrasi perayaan promosi, memastikan bahwa seluruh anggota organisasi memahami alasan-alasan dipromosikannya seseorang, serta menobatkan seseorang yang memasuki masa pensiun sebagai pahlawan budaya dalam rangka menanamkan nilai-nilai inti dan keyakinan yang dimiliki perusahaan.

Bagaimanapun, ritual pengakuan selayaknya berperan lebih dari sekedar perayaan peristiwa-peristiwa penting. Pemimpin yang baik akan berusaha untuk melembagakan ritual seraya menyempurnakan proses manajemen, strategi, sistem, dan struktur perusahaan. Mereka tidak larut dalam kegembiraan yang berlebihan merayakan kesuksesan. Mereka sadar bahwa di samping kesuksesan yang telah diraih, masih banyak peluang-peluang yang dapat dimanfaatkan secara optimal untuk perbaikan.

Yang tak kalah penting diperhatikan adalah masalah sumber daya. Penyelenggaraan ritual pengakuan acap memerlukan sumber daya dalam jumlah yang tidak sedikit. Oleh karenanya perlu ditetapkan skala prioritas dalam pengelolaan sumber daya tanpa mengurangi nilai penghargaan atas prestasi yang telah dicapai. Juga jangan sampai ritual pengakuan, yang sedianya bertujuan untuk merayakan keberhasilan dan memberikan penghargaan, justru menjadi beban dan sumber perpecahan sehingga berpotensi menurunkan moral, motivasi, kinerja, dan rasa memiliki diantara sesama karyawan. Jika demikian, ritual sebagai bagian dari budaya organisasi gagal berfungsi sebagai pengikat, pemersatu, sumber energi, simbol identitas, serta pemicu peningkatan nilai organisasi. Untuk mengatasi hal ini, kriteria pengukuran keberhasilan dan pemberian penghargaan harus ditetapkan dengan adil dan transparan.


* GM Strategic Services THE JAKARTA CONSULTING GROUP