logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



Overlap Perusahaan & Keluarga
Himawan Wijanarko*


Salah satu karakteristik perusahaan keluarga adalah adanya dua kepentingan dalam satu domain. Di satu sisi ada keperluan bisnis bagi perusahaan (business needs) dan di sisi yang lain ada kepentingan intern keluarga (family interests). Acap kali kedua kepentingan ini tidak dapat dipisahkan secara mutually exclusive layaknya membelah bambu karena adanya tumpang tindih (overlap) di antara keduanya.

Secara umum tidak ada formula khusus yang mengatur ke mana kepentingan lebih diutamakan, ke sisi perusahaan atau keluarga, karena yang lebih bijaksana adalah melihatnya secara kasus demi kasus. Idealnya, tujuan yang disasar adalah kedua kepentingan dapat terpenuhi secara optimal. Hanya saja, dalam prakteknya acap kali timbul kendala berupa benturan yang terjadi di antara keduanya. Dalam banyak kasus terjadinya gesekan, titik singgung antara kedua kepentingan berperan sebagai titik kritis bagi penyelesaian masalah yang timbul.

Salah satu kiat yang sering digulirkan untuk menghindari terjadinya gesekan adalah dengan zona marking. Dalam hal ini, biarkan urusan bisnis dibicarakan di lingkungan perusahaan dan urusan keluarga dibicarakan di forum keluarga. Dalam keluarga MacMillan dan Cargill yang menjadi pemilik dari perusahaan keluarga terbesar di Amerika misalnya, bisnis bukanlah topic yang umum dibahas di dalam forum keluarga. Selain itu, tidak ada paksaan terhadap anggota keluarga yang belum terlibat untuk masuk ke dalam bisnis Cargill yang didirikan pada tahun 1865 oleh W.W. Cargill. Dalam arti, masing-masing anggota keluarga bebas menentukan pilihannya sendiri. Jika seseorang memilih terlibat maka keterlibatan anggota keluarga ke dalam bisnis perusahaan lebih karena dorongan minat dari yang bersangkutan. Bahkan minat saja tidak cukup karena harus ditunjang oleh komitmen yang kuat dan kapabilitas yang membuatnya mampu bersaing.

Salah satu pemicu konflik di antara keperluan bisnis dan minat keluarga adalah orang yang memaksakan pendapatnya terhadap anak atau keluarga yang lain. Rencana suksesi sangat penting untuk kelangsungan perusahaan keluarga ke depannya, akan tetapi rencana yang melibatkan generasi berikutnya haruslah atas dasar kemauan kedua belah pihak. Tidak sedikit anggota keluarga yang justru ingin bekerja di tempat lain, baik untuk mencari pengalaman atau untuk aktualisasi diri. Dengan demikian kadar kemauan dalam keterlibatan seseorang dalam perusahaan keluarga akan menentukan bagaimana selanjutnya ia bekerja. Lantas, bagaimana jika anggota keluarga tidak mau masuk ke dalam perusahaan? Atau sebaliknya, semua mau masuk tetapi tidak semuanya berkualitas tinggi? Yang perlu diingat adalah business needs harus tetap menjaga family interests.

Keterlibatan anggota keluarga juga harus disesuaikan dengan keperluan bisnis. Bukankah tujuannya ingin agar generasi berikutnya mampu membesarkan bisnis? Untuk itu, umumnya, menempatkan anggota keluarga yang masih hijau di posisi puncak sangat beresiko karena hanya ada satu jalan yang dapat dilalui, yakni turun. Lain, jika ia memulai dari bawah, karena hanya satu jalan yang dapat dilalui, yakni naik. Apalagi jika diingat bahwa sepak terjang anggota keluarga selalu menjadi sorotan banyak pihak. Tidak heran, jika anggota keluarga justru dituntut untuk menunjukkan bahwa selain ikatan darah ada kontribusi nyata terhadap perusahaan. Dengan kondisi seperti ini, tidak jarang anggota keluarga didampingi mentor yang membimbingnya dalam meniti karir bersama perusahaan.

Cara lain yang ampuh dalam menjaga harmoni keluarga adalah dengan menggelar pertemuan regular yang memungkinkan anggota keluarga untuk berkohesi secara sosial. Bilamana perlu dibuat family council yang menjadi mediasi bagi kehidupan social keluarga dan menjadi pengontrol isu-isu yang muncul. Melalui family council ini dapat dicari jalan terbaik jika terjadi gesekan kepentingan antar anggota keluarga maupun antara minat keluarga dan kepentingan bisnis. Memasukkan orang dari luar keluarga sebagai penengah juga merupakan alternatif solusi yang baik. Sama halnya tidak pernah ada satu obat untuk semua penyakit, maka tak pernah ada solusi tunggal bagi semua masalah yang timbul dalam perusahaan keluarga.<MAJALAH TRUST >


* GM Strategic Services The Jakarta Consulting Group