|
||||||
.: PUBLICATIONS :. Articles |
Majalah Trust - Talent War Himawan Wijanarko*
Kompetisi yang keras mengharuskan perusahaan untuk mengasah kompetensinya, yang sangat ditentukan oleh aset intelektual perusahaan. Namun tidak seperti aset lain yang dengan cepat dapat dikembangkan, aset yang satu ini membutuhkan waktu yang lama untuk mengembangkannya. Berbeda dengan pengembangan asset yang lain, yang dapat dikembangkan dengan cepat asal mempunyai dana. Kondisi ini mengakibatkan meningkatnya persaingan diantara banyak perusahaan untuk merekrut SDM yang sudah jadi. Selain untuk mengejar waktu, juga menghemat biaya untuk pelatihan dan pengembangan.
Akhirnya merekrut talenta-talenta terbaik dari perusahaan pesaing merupakan pilihan yang paling menarik. Merekrut karyawan dari perusahaan pesaing juga merupakan cara cepat untuk mengisi kekosongan talenta-talenta yang diperlukan untuk mengejar pengembangan bisnis. Selain pengetahuan, keterampilan, dan kinerja yang sudah teruji, mereka memahami seluk-beluk perusahaan yang menjadi pesaing. Informasi yang mereka miliki (bahkan yang bersifat rahasia sekalipun) dapat dimanfaatkan untuk memenangkan persaingan. Misalnya tentang kekuatan, kelemahan, rencana, dan strategi yang disusun dan diterapkan pesaing. Sebaliknya, pesaing tentu tidak rela kehilangan talenta-talenta terbaiknya, terlebih jika mereka memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki untuk memenangkan pesaing. Apalagi jika rahasia dapur mereka juga dibuka kepada sang kompetitor. Nah, inilah yang bisa menjadi sumber keributan, seperti yang terjadi antara RIM dan Motorola. Pada bulan Desember 2008, Research in Motion Ltd. (RIM), si empunya Blackberry, mengajukan tuntutan hukum kepada Motorola. Pasalnya Motorola dianggap secara ilegal menghalang-halangi perekrutan karyawannya yang telah diberhentikan agar tidak bergabung dengan RIM. Menurut RIM, pada Februari 2008, kedua perusahaan memang sepakat untuk saling tukar informasi rahasia serta untuk tidak saling merekrut karyawan masing-masing. Para pakar menganggap kesepakatan tersebut bertujuan menjamin tidak ada karyawan yang pindah kerja ke perusahaan pesaing dengan membawa rahasia dan informasi penting. Namun karena RIM menganggap kesepakatan pada Februari 2008 telah habis masa berlakunya pada bulan Agustus 2008, maka ketika Motorola mengumumkan pemangkasan karyawan dalam jumlah besar, RIM mencoba merekrut sejumlah insinyur Motorola dengan biaya lebih rendah. RIM menganggap kebijakan Motorola menghalang-halangi perekrutan karyawannya yang telah diberhentikan tidak etis. Kita tentu mahfum, RIM dan Motorola memang saling bersaing RIM, yang berdiri tahun 1984, terus bersinar melalui Blackberry-nya, sementara Motorola justru mengalami masa-masa sulit sejak tahun 2006. Motorola yang pernah menjadi pemuncak, posisinya terus melorot. Kondisi ini memang rumit dan dilematis. Di satu sisi perusahan harus berinvestasi untuk mengemabngakan SDM-nya, di sisi lain perusahaan juga merasa tidak aman untuk menjaga agar tidak pindah ke perusahaan lainnya. Bukankah pindah pekerjaan merupakan hal yang lumrah di jaman sekarang? Bahkan dianggap cara terbaik untuk memacu karir. Langkah strategis yang ditempuh adalah menerapkan Talent Management. Orang yang memiliki talenta diidentifikasi, disiapkan jalur karir khusus, dikembangkan dan dipertahankan dengan imbalan yang menarik, agar tidak tergoda berpindah ke lain hati. Lantas bagaimana menghindari pembajakan oleh kompetitor? Biasanya perusahaan meminta karyawannya menandatangani non compete agreement dan non disclosure agreement. Non compete agreement mengikat karyawan agar tidak pindah ke perusahaan pesaing. Sementara non disclosure agreement, mengikat karyawan agar tidak menyebarkan materi, pengetahuan, dan informasi tertentu. Jalan lain yang ditempuh adalah perusahaan-perusahaan yang saling bersaing membuat kesepakatan untuk tidak saling merekrut karyawan masing-masing, seperti yang dilakukan oleh RIM dan Motorola. * GM Strategic Services THE JAKARTA CONSULTING GROUP |
|