.: PUBLICATIONS :.
Articles
|
Manajemen Krisis Bagi Pemimpin
A.B. Susanto*
Minggu lalu di harian ini telah muncul artikel penulis mengenai Manajemen Krisis Pasca Tragedi Bali. Tulisan tersebut telah mendapatkan respon yang sangat baik dan menyatakan bagaimana langkah nyata yang harus dilakukan. Tulisan ini dalam rangka merespon tanggapan tersebut, melalui ulasan bagaimana strategi dan langkah-langkah nyata dalam menghadapi krisis yang dapat diterapkan oleh para pemimpin, yang oleh kantor kami disebut sebagai rumusan LEAD ON. LEAD ON merupakan kepanjangan dari kata kerja Launch, Empower, Action, Direct Observe, dan Neutralize.
Kata pertama, launch (luncurkan) maksudnya adalah dalam situasi krisis kita harus secara cepat dan tanggap meluncurkan strategi berdasarkan sebuah konsep yang jelas sesegera mungkin. Ketika melakukan mengambil keputusan dalam rangka melakukan tindakan untuk mengatasi krisis, pemimpin sudah mempunyai konsep dan strategi yang jelas. Dalam perjalanannya strategi dan konsep ini disempurnakan dan diadaptasi dengan situasi terkini. Pendekatan ini agak berbeda dengan situasi ‘normal’ diluar krisis yang biasanya sangat menekankan kematangan sebuah strategi dan konsep dalam situasi normal strategi dibuat sesempurna mungkin sebelum diimplementasikan. Sebaliknya dalam situasi krisis strategi harus disusun secepat mungkin dan kemudian segera diimplementasikan dalam tindakan nyata. Tidak terjebak pada perdebatan di tingkat wacana secara berkepanjangan. Penyusunan konsep tidak boleh terlalu lama, sehingga ketika tindakan-tindakan dilakukan sudah ada konsep yang jelas.
Kata kedua empower (memberdayakan), maksudnya adalah pada situasi krisis yang membutuhkan kecepatan, ketepatan serta fleksibilitas diperlukan pemberdayaan kepada masyarakat luas, ke seluruh jenjang hirarki dan jajaran birokrasi, serta di luar birokrasi seperti ornop, interest group maupun lembag lura negeri. Sehingga pada derajat tertentu yang bersangkutan memiliki otoritas yang memungkinkan untuk mengambil keputusan dan tindakan secara cepat dan tepat berdasarkan hasil pemrosesan informasi terkini dan umpan balik terhadap kebijakan-kebijakan penanggulangan krisis di lapangan. Batas kewenangan ini bukan hanya harus diimbangi oleh derajat tanggung jawab yang sepadan, tetapi juga dari sisi akuntabilitas. Pemberdayaan ini akan meningkatkan fleksibilitas, sekaligus meningkatkan tingkat partisipasi. Pemberdayaan juga diartikan sebagai pembagian ‘pekerjaan rumah’ bagi berbagai pihak di dalam maupun di luar birokrasi. Dengan pembagian ‘pekerjaan rumah’ ini masing-masing komponen akan bergerak secara simultan. Instansi dan komponen masyarakat yang membidangi hubungan luar negeri, pariwisata, informasi, dan semua lini bergerak secara simultan.
Kata action (tindakan) menyiratkan serangkaian program dan aktivitas nyata yang harus dilakukan dalam penanganan krisis, dan upaya-upaya ini harus terfokus pada penyelesaian krisis ini sendiri. Bukan sebaliknya sibuk mencari siapa yang bersalah terhadap terjadinya krisis dan saling melempar tanggung jawab dalam tindakan-tindakan penyelesaian krisis. Bukankah salah satu sisi positif yang dapat digali dari sebuah krisis adalah kebersamaan yang terbangun ketika semua pihak terfokus pada suatu titik untuk mengeluarkan segala daya upaya untuk mengatasi krisis. Solidaritas yang muncul karena kesadaran bersama dalam mengatasi krisis inilah yang diharapkan terbentuk pasca tragedi Bali, sebagai titik kulminasi. .
Kata direct (arahan), pengarahan dan dari pemimpin sebelum dan sepanjang pelaksanaan aktivitas-aktivitas dalam menghadapi krisis sangat dibutuhkan karena kita tidak mempunyai banyak waktu, sehingga seringkali tidak sempat menunggu ‘petunjuk’ (dari atas) untuk melakukan suatu tindakan penanggulangan krisis yang harus dilakukan dengan segera. Arahan dilakukan secara berjenjang (cascading), sehingga setiap tingkatan secara aktif juga melakukan arahan terhadap tingkatan di bawahnya. Pengarahan ini berjalan secara simultan dengan pelaksanaan-pelaksanaan aktivitas yang seringkali merupakan inisiatif dari bawahan sebagai merupakan respon terhadap krisis yang terjadi, selaras dengan pemberdayaan yang telah diberikan.
Kata observe (observasi) di sini diartikan sebagai melihat, mengawasi, memantau sekaligus mengontrol aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh para bawahan dalam menangani krisis. Mengingat para bawahan sudah diberdayakan dan diberi otoritas tertentu untuk mengambil inisiatif dalam penanggulangan krisis, maka pemimpin harus bersikap asertif agar segala inisiatif dan aktivitas yang dilakukan bawahan on the track dan sesuai dengan skenario besar upaya penyelesaian krisis yang telah dijalankan oleh sang pemimpin. Di sini pemimpin harus berani menegur bawahannya, dan mengendalikan aktivitas-aktivitasnya. Jadi walaupun tindakan yang dilakukan berdasarkan inisiatif sendiri, tetapi secara keseluruhan upaya penanggulangan kriris ini tetap fokus dan terpadu. Observe juga berarti memantau perkembangan situasi dari menit ke menit dan melakukan penyesuaian berdasarkan perkembangan situasi terakhir.
Terakhirkata neutralize (menetralkan), tugas yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana pemimpin untuk secara pelan-pelan menetralisir situasi dan merubah sikap secara berangsur-angsur untuk menjadi ‘normal’, ketika krisi sudah tertangani dengan baik. Pola pendekatan ‘pemadam kebakaran’ hanya dapat diterapkan pada situasi krisis dan tidak dapat digunakan dalam pendekatan sehari-hari. Termasuk di dalamnya adalah penetralan dari sisi emosi, dengan melakukan penyekatan emosi terhadap peristiwa penyebab krisis dan ‘kembali’ kepada kehidupan sehari-hari. Tidak jatuh dalam kesedihan yang berkepanjangan, dan tegak menatap ke depan.
Upacara Pamarisudha Karipubhaya mencerminkan upaya netralisasi ini. Tempat terjadinya ledakan dirubah menjadi wilayah yang sakral. Upacara ritual, doa dan mantra dilaksanakan agar butha kala menguasai daerah itu pergi dan digantikan kembali oleh Dewata. Dengan kembalinya Dewata, berarti kembali pula keseimbangan antara makro dan mikro kosmos, atau kembali pada situasi normal. Semua emosi yang terkait dengan peristiwa itu ditumpahkan sebagai proses katarsis, dan situasi emosi menjadi pulih kembali.
Persoalan yang terpenting untuk menatap hari depan adalah memanfaatkan mutiara yang tersimpan dalam lumpur krisis berupa solidaritas yang tercipta ketika menghadapi krisis. Solidaritas yang terbentuk hendaknya dijadikan momentum untuk merekat persatuan yang telah terkoyak. Ikatan solidaritas yang terbentuk selama menghadapi krisis merupakan warisan yang sangat berharga untuk mengarungi kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa yang akan datang dalam menghadapi tantangan-tantangan berikutnya. <Kompas>
*Managing Partner The Jakarta Consulting Group
|