logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
CSR
Entrepreneurship
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Reputation Management
Soft Skill
Strategy
Others



Alexander The Great
Himawan Wijanarko*


Belum lama ini Hollywood menyuguhkan film yang mengangkat kisah hidup Alexander The Great yang sudah melegenda. Alexander adalah pemimpin di abad ketiga sebelum Masehi yang menaklukkan dunia dari daratan Yunani, Laut Tengah, Mesir, Asia Minor, Persia hingga India Utara. Nama Alexander begitu disegani sampai diabadikan menjadi nama kota di Mesir, Alexandria atau Iskandariyah.

Alexander memang identik dengan perang dan penaklukan. Bahkan, baru-baru ini ada buku yang menerapkan taktik berperang Alexander dalam strategi bisnis modern. Judul bukunya”Alexander the Great's Art of Strategy: The Timeless Leadership Lessons of History's Greatest Empire Builder”.
Di usia begitu muda Alexander dapat memimpin balatentara sebanyak itu. Ia mampu menggerakkan mereka untuk berperang, yang taruhannya nyawa, menjelajah negeri demi negeri untuk ditaklukkan. Memang keturunan memegang peranan tetapi tanpa kemampuan memimpin tentu tidak akan sehebat itu. Ibarat putra mahkota dalam family business, pewaris usaha yang dibangun dengan cukup sukses oleh generasi pendirinya tetapi tidak jarang justru dibawanya ke jurang kehancuran, karena missed-management.

Salah satu  kunci kesuksesan Alexander terletak pada kemauannya belajar, apalagi berguru pada orang yang tepat: Aristoteles. Guru yang sekaligus motivator handal. Seperti yang dikatakan Aristoteles padanya, Alexander hanya akan berhenti berkelana bila telah mencapai ujung dunia. Sejak usia dua puluh sampai meninggalnya di usia 32 tahun Alexander sudah memimpin empat puluh ribu pasukan yang diajaknya untuk melanglang buana, lebih dari 20 ribu mil.

Napoleon Bonaparte, seorang pemimpin besar yang lain mengatakan A leader is a dealer in hope. Sesungguhnya seorang pemimpin adalah seorang pedagang yang menjajakan harapan (merchant of hope) bagi para pengikutnya. Pemimpin akan mengkomunikasikan angan-angan dan mimpinya, yang dapat membangkitkan harapan, menyulut semangat, agar beranjak dari situasi masa kini. Sebuah visi yang membuka jendela masa depan. Yah, seorang pemimpin harus mempunyai visi yang dijajakan kepada anak buahnya.

Dalam organisasi perusahaan, pemimpin harus dapat ‘melihat’ masa depan dan ‘bermimpi’ apa yang harus dicapai di masa depan. Ia mempunyai angan-angan tentang bagaimana dan ke mana organisasinya dan para pengikutnya akan ‘dibawa’ di masa mendatang. Dia harus membuka jendela masa depan dan menuangkannya dalam sebuah visi. Namun angan-angan saja tentu tidak cukup. Seorang pemimpin mesti merealisasikan angan-angan dan mimpi-mimpinya agar menjadi kenyataan di masa depan. Artinya dia harus ‘merubah’ dari situasi sekarang menjadi situasi seperti yang diangankan pada masa depan.  

Ada dua elemen dasar yang harus terkandung dalam sebuah visi, yaitu memahami kerangka kerja untuk mencapai tujuan dan bagaimana mencapainya, serta sisi emosionalnya untuk memacu motivasi. Mimpi yang bernama visi itu haruslah realistik, dipercaya, dan mempunyai daya tarik masa depan. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk menciptakan dan mengartikulasikan sebuah visi yang  realistik, dapat dipercaya, memacu semangat dan akhirnya menggerakkan pengikutnya untuk mencapai tujuan.

Untuk melihat dan bermimpi, dapat dilakukan dengan “pendekatan seorang arsitek”. Seorang pemimpin diumpamakan sebagai seorang arsitek pembangun masa depan organisasi. Dia diharapkan mampu membuat bangunan imajinernya tentang bangunan masa depan organisasi, tetapi tetap juga harus berpijak pada realitas, yang dapat kita sebut sebagai pendekatan Creative Imagination Based on Reality (CIBOR).  Seorang arsitek apabila diberikan sebidang tanah yang berbukit-bukit untuk dibangun, tidak akan berpikir seperti berikut: “wah, ini sih sulit…mengapa tidak membeli sebidang tanah yang datar sehingga akan memudahkan saya untuk membangunnya?”. 

Jika hal ini yang terjadi, maka arsitek bukanlah arsitek yang hebat. Mengapa?  Karena tidak semua tanah itu datar. Justru ia harus menghadapi realitas yang ada (tanah berbukit-bukit), dan menciptakan bangunan yang paling layak untuk kondisi yang ada. Seorang pemimpin harus memahami realitas internal maupun eksternal organisasi, menerima keadaan ini, dan membuat angan-angan “bangunan masa depan” berdasarkan realitas ini. Jadi imajinasi yang hebat saja tidak memadai, karena  tetap harus berpijak ke bumi. 

Seperti Alexander yang ’dicekoki’ oleh mimpi-mimpi besar ibunya, seorang pemimpin besar dapat ’dilahirkan’ mulai dari lingkungan keluarga dengan menanamkan kesadaran untuk aktualisasi diri kepada anak-anak oleh orang tua mereka dengan menanamkan kesadaran untuk aktualisasi diri kepada anak-anak. Sebab pemimpin yang berhasil dan bervisi jauh ke depan adalah pemimpin yang mengenal diri mereka sendiri dan mempunyai cita-cita tentang dirinya sendiri juga. <Trust>


* GM Strategic Services The Jakarta Consulting Group