logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
CSR
Entrepreneurship
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Reputation Management
Soft Skill
Strategy
Others



Majalah Eksekutif - Memilih Pola Kepemimpinan
A.B. Susanto*


Pemimpin adalah sosok yang paling bertanggung jawab untuk mengantarkan sebuah organisasi mencapai visi dan misinya melalui sistem atau cara kerja yang paling efektif. Pemimpin yang efektif mampu menginspirasi dan menggerakkan para pengikutnya untuk berjuang demi tercapainya visi dan misi organisasi. Hal ini diwujudkan melalui perilaku dan pemanfaatan otoritas yang dimiliki dalam mengarahkan pengikutnya. Perilaku dan pemanfaatan otoritas ini menghasilkan sejumlah pola kepemimpinan.

Penentu pola kepemimpinan dalam sebuah organisasi ditentukan oleh beberapa faktor. Menurut Tannenbaum dan Schmidt, pola kepemimpinan bergantung kepada faktor-faktor yang berasal dari sang pemimpin atau manajer itu sendiri, pengikut, dan situasi. Seorang pemimpin memiliki persepsi kepemimpinan berdasarkan latar belakang, pengetahuan, dan pengalamannya. Kekuatan-kekuatan internal yang berpengaruh pada seorang pemimpin adalah sistem nilai yang dianut (keyakinan sejauh mana seorang pengikut dapat terlibat dalam pengambilan keputusan), kepercayaan kepada bawahan, kecenderungan kepemimpinan, dan rasa aman.

Pemimpin juga harus memperhitungkan sejumlah kekuatan yang mempengaruhi perilaku pengikutnya, termasuk ekspektasi mereka terhadap para pemimpin. Namun umumnya pemimpin bersedia memberikan lebih banyak kebebasan bila pengikut memiliki kebutuhan akan kemandirian yang lebih tinggi, siap memikul tanggung jawab lebih dalam mengambil keputusan, tertarik kepada masalah yang dihadapi, memahami dan merasa identik dengan tujuan organisasi, memiliki pengetahuan dan pengalaman yang diperlukan dalam menghadapi sebuah masalah, dan memiliki ekspektasi untuk berbagi dalam pengambilan keputusan.

Faktor situasi juga menentukan. Faktor ini mencakup tekanan lingkungan yang berasal dari organisasi, kelompok kerja, sifat masalah, dan waktu. Faktor organisasi diantaranya mencakup nilai-nilai, ukuran unit kerja, distribusi geografis, dan persyaratan keamanan yang diperlukan guna mencapai tujuan. Faktor yang berasal dari kelompok kerja mencakup pengalaman dalam bekerja bersama, latar belakang anggota organisasi, kepercayaan diri dalam memecahkan masalah, kekohesifan, kebebasan, penerimaan timbal balik, dan kesamaan tujuan. Sifat masalah dapat menjadi penentu tingkat otoritas yang didelegasikan pemimpin. Mengingat semakin banyak masalah yang penyelesaiannya mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan yang spesifik, semakin penting seorang pemimpin memberikan keleluasaan lebih besar kepada para pengikutnya. Dalam hal waktu, semakin sedikit waktu yang tersedia, biasanya keterlibatan orang lain dalam pengambilan keputusan semakin sedikit.

Sebagai tambahan, faktor lain yang berpengaruh terhadap pola kepemimpinan adalah faktor perubahan lingkungan eksternal seperti kompetisi yang semakin ketat dan sengit, perkembangan teknologi yang semakin cepat, perubahan perilaku pelanggan, dan terbukanya aneka peluang bisnis baru. Dari sisi internal organisasi, saat ini karyawan semakin kritis. Tuntutan mereka pun semakin tinggi. Situasi ini tentu menyebabkan perusahaan tidak dapat lagi mengandalkan pola kepemimpinan dimana pemimpin mendominasi pengambilan keputusan tanpa disertai partisipasi dan pendelegasian wewenang yang memadai.

Shrivastava dan Nachman memperkenalkan empat pola kepemimpinan, yakni entrepreneurieal, beaurocratic, political, dan profesional. Pola-pola ini didasarkan pada aspek-aspek kepemimpinan yang mencakup perwujudan kepemimpinan, sumber pengaruh, hubungan pemimpin-pengikut, orientasi peran pemimpin, unit analisis, orientasi pemimpin-sistem, dan penstrukturan tindakan pemimpin. Dalam pola entrepreuneurial, seorang pemimpin memiliki sifat-sifat klasik layaknya seorang pemimpin, seperti percaya diri, keterampilan kewirausahaan yang tinggi, energi yang besar, agresif, pengetahuan yang luas, dan sebagainya, dan memanfaatkan kepribadian dan kharismanya untuk mempengaruhi orang lain. Pemimpin membuat aturan bagi orang lain serta mengendalikan kinerja mereka melalui supervisi langsung. Mereka memiliki kemauan yang kuat dan mendominasi seluruh aspek organisasi, menjalankan organisasi dengan sedikit otoriter dengan hanya sedikit pendelegasian wewenang atau partisipasi dalam pengambilan keputusan strategis.

Dalam pola beaurocratic, arahan dan dorongan strategis perusahaan tidak dipandu oleh orang per orang, bahkan tidak juga oleh sekelompok individu. Strategi dibentuk oleh birokrasi dan sistem yang menyertainya, prosedur operasi standar atau Standard Operating Procedures (SOP). Anggota organisasi terbiasa menaati aturan dan regulasi yang berlaku atau menginterpretasikan aturan untuk memecahkan masalah. Mereka berpedoman pada peran-peran organisasi yang telah ditugaskan sebelumnya sebagai panduan dalam berperilaku. Organisasi memperlihatkan orientasi sistem tertutup dan peduli dengan pencapaian efisiensi teknis internal yang terbatas. Birokrasi menjadi pedoman bagi pengambilan keputusan strategis dengan menentukan secara spesifik sifat dan jumlah informasi yang menjadi bahan pengambilan keputusan, sifat analisis yang harus dilakukan dan kriteria untuk menghasilkan dan memilih alternatif, sistem yang rinci dari prosedur ratifikasi dan otorisasi yang menjadi syarat untuk melengkapi keputusan.

Dalam pola political, koalisi manajer-manajer organisasi, yang masing-masing memiliki otoritas fungsional dalam beberapa area dalam organisasi, berinteraksi dalam sebuah lingkungan kolegial untuk memandu formulasi strategi. Kepemimpinan strategis adalah fungsi dari sifat koalisi dominan. Dalam koalisi terdapat saling ketergantungan timbal balik dan penyebaran kekuasaan. Sementara manajer individual memiliki kendali yang terbatas dalam ranah spesifik yang ditetapkan oleh lokasi fungsional/hierarkis, namun sebagai koalisi mereka mengendalikan keseluruhan organisasi atau divisi.

Dalam pola kepemimpinan profesional, sumber terpenting dalam mempengaruhi perilaku adalah keahlian dan kendali pada informasi. Menurut Kerr, von Gilnow, dan Schriesheim, profesional memiliki karakteristik yang mencakup keahlian, otonomi, etika, komitmen, identifikasi dengan rekan profesional, dan standar mempertahankan kolegial. Hal ini ditandai dengan tidak dibayanginya mereka oleh birokrasi formal yang berlaku, namun menciptakan aturan baru untuk menghadapi isu-isu. Kepemimpinan dimanifestasikan dalam tingkat kelompok-kelompok kecil yang merancang aturan mereka sendiri dalam menghadapi isu-isu strategis. Proses menciptakan kesadaran situasi dan pemahaman dalam situasi kompleksitas tinggi dan ketidakpastian guna menghasilkan keputusan (sense making), melalui pemanfaatan informasi dan mekanisme penafsiran, menjadi sumber arah strategis perusahaan.

Para pemimpin dapat memilih pola yang sesuai berdasarkan pertimbangan internal pribadi, pengikut, situasi, dan perubahan lingkungan, baik eksternal maupun internal.


* Managing Partner THE JAKARTA CONSULTING GROUP