Kompetensi & Organisasi Pembelajar
A. B. Susanto*
Organisasi sejatinya sangat mirip dengan manusia. Bukankah pada hakekatnya organisasi adalah sekumpulan manusia dengan tujuan, sistem, struktur dan kultur tertentu ? Nah, agar organisasi berkembang dan memiliki keunggulan kompetitif, organisasi mesti memiliki otak yang encer alias memiliki IQ (Intelligence Quotient) yang tinggi. Untuk memperoleh IQ yang tinggi terdapat dua persyaratan. Pertama, mesti mempunyai tradisi sebagai organisasi pembelajaran (learning organization), dan kedua, mempunyai kemampuan untuk mengelola pengetahuan (knowledge management) dengan baik.
Dalam organisasi pembelajaran (learning organization), komitmen dan kapasitas belajar ditumbuhkan secara berkesinambungan bagi seluruh anggota di tiap tataran organisasi. Honda, Motorola, dan Samsung adalah sedikit dari organisasi yang menerapkan pendekatan ini.
Schwandt menyatakan organisasi pembelajaran memungkinkan organisasi merubah informasi menjadi pengetahuan yang berharga (valued knowledge) yang akan meningkatkan kemampuan organisasi. Boleh dikatakan, organisasi pembelajaran merupakan ‘wadah’- dengan sistem tertentu - yang memungkinkan anggota organisasi untuk terus belajar sehingga dapat meningkatkan kemampuannya.
Seperti yang diusulkan Senge, terdapat lima unsur penting mesti diperhatikan dalam pembentukannya, yakni visi bersama yang mesti digapai, model mental, keahlian personal, pembelajaran tim, dan berpikir sistematik.
Yang tak kalah pentingnya adalah kepemimpinannya. Tipe kepemimpinan yang paling sesuai untuk mendukung adalah kepemimpinan yang memberdayakan (empowerment leadership). Kepemimpinan ini memberikan penugasan, pendelegasian, dan dukungan positif kepada setiap anggota organisasi, sehingga kegiatan pembelajaran dan kinerja tim menjadi lebih baik. Penugasan yang diberikan mempunyai standar yang tinggi. Pendelegasian dilakukan berdasar prinsip penghargaan dan kepercayaan agar anggota merasa dirinya berdaya (baca : berkontribusi) dalam menggapai visi bersama. Pendelegasian semacam ini menunjukkan munculnya otonomi yang membebaskan anggota dari birokrasi yang melelahkan.
Harapan lainnya adalah terbentuknya dukungan positif sebagai cerminan integritas diri pemimpin. Dukungan positif mencakup sikap menghargai pelaksanaan tugas (terutama tugas yang berat) dan penghargaan atas sikap adil, konsisten, dan kejujuran anggota. Tak ayal, tipe kepemimpinan yang memberdayakan akan menghasilkan peningkatan kinerja jangka pendek dan membangun komitmen bersama dalam jangka panjang sehingga visi bersama dapat tercapai.
Kepemimpinan ini mesti disertai pengelolaan aset intelektual organisasi dalam rangka pembentukan knowledge management (KM), untuk menghasilkan corporate IQ yang lebih baik. Corporate IQ merupakan kontribusi dari tiap-tiap anggota organisasi yang saling mengembangkan gagasan yang berbeda. Pengalaman, pengetahuan, dan keahlian anggota organisasi, dikumpulkan, dikelola dan distribusikan ke seluruh organisasi. Organisasi mengakumulasi segenap kompetensi anggotanya, dan dijadikan kompetensi organisasi.
Proses ini akan menghasilkan knowledge-based worker yang merupakan dasar inovasi dan kreasi anggota organisasi yang akan meningkatkan nilai organisasi, karena membangun manusia pembelajar dalam organisasi. Pada galibnya, belajar merupakan proses untuk mengenali dan memahami diri sendiri (self awareness), lingkungan (cosmo awareness), dan interaksi keduanya (relationship awareness). Organisasi dan anggotanya, menjadi cepat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan siap untuk berkompetisi.
Competency Gap & Learning Need Analysis
Gambaran di atas merupakan uraian yang ideal, dan bagi kebanyakan orang terasa masih di awang-awang. Jika Anda seorang eksekutif sebuah perusahaan, tentu bertanya di balik konsep yang sangat ideal ini adakah tindakan nyata yang dapat dilakukan ? Adakah perangkat yang dapat dipakai sebagai acuan untuk mengimplementasikan ? Atau dengan kata lain adakah cara praktis yang lebih membumi, sehingga segera dapat dilakukan ?
Langkah praktis yang dapat dipakai untuk menuju organisasi pembelajaran adalah dalam konteks peningkatan kompetensi melalui pembelajaran, ynag tujuan akhirnya berfungsi sebagai sarana peningkatan daya saing perusahaan.
Dalam konteks peningkatan daya saing ini, anggota organisasi haruslah dibekali dengan sekumpulan kompetensi baru agar menjadi menjadi knowledge worker yang handal melalui dukungan pengembangan Learning Organization Environment. Dalam pelaksanaannya, efektifitas pembelajaran selalu menjadi tantangan. Identifikasi siapa yang memerlukan, pembelajaran apa yang diperlukan, sasaran yang harus dicapai, serta bagaimana mengukur keberhasilan dan efektifitas dari sistem penilaian dan pembelajaran yang digunakan, merupakan isu – isu penting yang harus ditangani secara strategik.
Mesti dilakukan analisa kesenjangan kompetensi dan kebutuhan pembelajaran (Competency Gap & Learning Need Analysis) sebagai landasan utama dalam berbagai kegiatan yang menopang learning organization environment. Diantaranya dapat dimanfaatkan untuk menyusun program pembelajaran, melaksanakan program transfer ke dalam kegiatan nyata, dan mengukur tingkat keberhasilan serta dampaknya terhadap kinerja bisnis. <Bisnis Indonesia>
*Managing Partner The Jakarta Consulting Group |