logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



Makna Networking
A. B. Susanto*


            Dominasi informasi teknologi dan globalisasi membawa perubahan gaya hidup, homogenitas preferensi serta  perubahan spesifikasi harapan masa depan. Dengan meluasnya jangkauan pasar yang dapat dimasuki, dan semakin berkembangnya kebutuhan dan tingkat kepuasan konsumen, perusahaan  memiliki peluang untuk berkembang lebih besar. Akan tetapi, peluang tersebut dibarengi persaingan yang lebih tajam, bahkan untuk beberapa industri menjadi hypercompetitive.

Menghadapi situasi tersebut, banyak organisasi telah melakukan pembenahan diri, dan terbentuknya intelligent organization. Organisasi tidak akan survive dan kemungkinan mengalami kegagalan karena menghadapi discontinuous change, apabila hanya berpatokan pada referensi masa lalu saja.

Tetapi, pembenahan diri saja tidak cukup. Tajamnya situasi persaingan menyebabkan perusahaan  mengalami kesulitan berdiri sendiri dalam menghadapi masa depan.  Keterbatasan sumber daya tertentu menyebabkan organisasi tidak dapat lagi hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Tidak dapat dihindari lagi "keharusan" untuk memiliki sumber daya strategis seperti kepemilikan sistem informasi, teknologi dan dalam menjawab tantangan masa depan melalui  networking.

Ide utama networking adalah tiap organisasi dan perusahan selalu mempunyai kompetensi inti, yang dapat memberi nilai tambah kepada konsumen. Jika organisasi dengan kompetensi masing-masing “diuntai”, diharapkan dapat dilakukan penggabungan dari kompetensi masing-masing agar dapat  memberi nilai tambahn yang lebih baik kepada konsumen.

Selaras dengan orientasi organisasi terhadap peningkatan kompetensi melalui networking, tantangan utama yang dihadapi adalah kemampuan untuk menciptakan organisasi dengan kemampuan untuk mengembangkan kompetensi, dan adaptabilitas serta kemampuan koordinasi yang tinggi. Untuk dapat menciptakan kondisi positif tersebut, dalam suatu bentuk network harus ditumbuhkan : komitmen terhadap kepentingan bersama, kompetensi para anggota, konsistensi pembentukan network dan implementasinya, serta cultural fitness.

 

Membentuk Networking Internal

Sebuah gagasan yang dapat dilontarkan sebelum memasuki networking antar organisasi, adalah menciptakan   internal networking dalam tubuh organisasi.      Untu mendukung terciptanya internal network diperlukan adanya unit-unit yang autonomous dengan dibarengi oleh kredibilitas sumber daya manusia yang memadai untuk proses pengambilan keputusan.

Unit-unit tersebut, yang lebih dikenal dengan responsibility center menganut pola kerja Store Management Concept dan membutuhkan interdependensi yang tinggi baik dalam suatu kelompok maupun antar kelompok dalam organisasi. Suatu organisasi yang menganut store management concept adalah organisasi yang bercirikan pada kemampuan intelektual dan terdiri dari tim-tim yang dapat berdiri sendiri. Pengertian "berdiri sendiri" adalah kemampuan untuk membuat keputusan strategis secara lebih independen dan memiliki kemampuan untuk menganalisa atau permasalahan secara bijaksana.

Hal lain yang diperlukan untuk membentuk internal network yang berkualitas adalah adanya sistem komunikasi baik vertikal, horisontal maupun lateral yang efektif dan efisien. Selain itu, perlu disadari bahwa menjawab tantangan masa depan tidak mungkin tepat pada sasarannya apabila visi dan tujuan yang ingin dicapai tidaklah jelas. Oleh karenanya, fungsi kepemimpinan juga merupakan elemen utama yang diperlukan, terutama dalam mendistribusikan visi organisasi, menjalankan fungsi sebagai agen perubahan dan sebagai service provider.

Dasar untuk membentuk unit-unit kerja sebagai responsibility center  tersebut adalah Empowerment Management, suatu konsep yang mengacu pada kepercayaan akan "power" setiap individu dalam organisasi. Organisasi harus memiliki sumber daya manusia yang memiliki spesialisasi dengan kompetensi dan kredibilitas yang prima, sehingga dapat memberikan kontribusi positif secara lebih nyata pada pertumbuhan organisasi.

Empowerment management hanya dapat diimplementasikan apabila organisasi memiliki budaya yang didedikasikan pada Competitive culture. Arena bisnis merupakan "the arena of permanent olympics". Hanya menjadi partisipan dalam arena tersebut tidak lagi cukup. Tujuan yang harus dicapai adalah menjadi partisipan yang lebih baik, lebih cepat, lebih kuat dibandingkan dengan partisipan-partisipan lainnya dan tentunya menjadi pemenang, yang dituangkan dalam budaya kompetitif.

Dasar dari budaya kompetitif ini adalah kesadaran bahwa hanya melalui persaingan untuk menciptakan "nilai" terbaik bagi konsumen internal (dalam kelompok, antar kelompok/edpartemen dalam organisasi) dan konsumen eksternal, suatu organisasi dapat mencapai persyaratan yang dibutuhkan untuk sukses berkesinambungan.

Selain budaya kompetitif, pembentukan sumber daya manusia yang empowered membutuhkan kesadaran akan pentingnya learning. Internal network mendukung terciptanya suasana learning tersebut karena dituntutnya kemandirian setiap unit kerja tanpa melupakan derajat interdependesi antar unit yang diperlukan. Pembentukan suasana learning tersebut perlu didukung oleh pola pikir yang berorientasi pada continuous improvement yang secara nyata harus direalisasikan dalam setiap kegiatan dalam organisasi.  

Pembinaan sumber daya manusia tersebut  harus pula diikuti oleh suatu keberanian untuk melaksanakan "emansipasi manajer" dalam suatu organisasi, yaitu keberanian untuk memberikan power dan rasa percaya terhadap hasil yang diterima dari delegasi power tersebut tanpa campur tangan manajemen jajaran atas secara berlebihan. <Bisnis Indonesia>


*Managing Partner The Jakarta Consulting Group