logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



Visioning
A. B. Susanto*


Liburan akhir tahun benar-benar dapat dimanfaatkan untuk mengusir kepenatan psikologis. Kesempatan ini dapat pula dipakai untuk berkomtemplasi bagi para pemilik dan  pimpinan puncak perusahaan untuk menyusuri kembali perjalanan  bisnis perusahaan. Salah satu pertanyaan yang terlontar apakah perusahaan sudah berada di jalur yang benar untuk menyongsong  masa depan.  Apakah visi perusahaan sudah tepat ? Ataukah justru tidak mempunyai visi yang jelas?

Acap perusahaan  merasa memiliki visi, tetapi sebenarnya gambaran yang diperoleh bukan merupakan gambaran yang terbaik  yang seharusnya dimiliki. Apabila itu yang terjadi yang timbul adalah tragedi, bukan pencapaian kesuksesan.  Tepatlah apa yang dikatakan Hellen Kelller bahwa  the greatest tragedy to be fall  a person is to have sight but lack vision. 

Organisasi seperti sebuah gunung. Makin tinggi posisinya, makin jauh jarak pandangannya. Jika di kaki gunung   kita hanya dapat memandang 1 kilometer ke depan, di puncak gunung kita bisa memandang 20 kilometer ke depan. Di kaki ‘gunung’ organisasi para karyawan hanya dapat memandang 1 tahun ke depan, pimpinan puncak harus dapat memandang 20 atau 30 kilometer ke depan. Para karyawan di kaki gunung berkutat dengan masalah teknis operasional, para pimpinan di puncak gunung berkutat dengan visi dan masalah-masalah strategis.    

Pandangan jauh ke depan dari pemimpin yang berada di puncak organisasi melahirkan sebuah impian. Impian yang akan menjadi penunjuk arah bagi organisasi di masa depan dan menjadi rujukan bagi seluruh anggota organisasi. Impian yang menjadi penyemangat bagi seluruh anggota. Sebuah visi. Seluruh proses untuk untuk menyusun, mengembangkan dan memformulasikan visi (dan misi) inilah merupakan program visioning. 

Visi pada hakikatnya adalah meramu antara mimpi dan realitas, yang seringkali dituangkan dalam ungkapan yang ‘nyaris mustahil’. Rangkaian kata-kata yang melambung tinggi, tetapi tidak boleh terlepas dari realita. Jika ungkapan ini terlalu mudah dijangkau, akan kurang memotivasi. Namun jika terlepas dari realitas, dan anggota oraganisasi akan merasa sangat sulit dijangkau, akan timbul kesangsian yang justru  membunuh motivasi.

Istilah  visi mengandung konotasi sebagai sesuatu yang ideal,  sebuah gambaran yang hidup dan merupakan  standard of excellent. Sehingga visi harus memiliki jangkauan yang jauh, menantang dan menstimulasi. Menantang dalam artian bukan sebuah sasaran yang mudah tercapai. Tapi sebuah sasaran yang jauh dan tinggi  yang hanya dapat dicapai melalui strategi yang tepat, diiringi kerja keras dan membutuhkan waktu untuk mewujudkannya.

Menurut catatan kantor kami,  persyaratan sebuah visi yang bagus setidaknya melibatkan enam faktor. Pertama visi harus menjembatani masa kini dan mendatang. Kedua,  visi harus memberi arahan yang jelas, yang mengarahkan perusahaan akan ‘ke mana’  dan ‘menjadi apa’. Ketiga visi harus dapat  menstimulasi rasa antusiasme. Ketiga faktor berikutnya  visi harus mampu untuk meneguhkan komitmen,  menjadi energizer, serta  menjadi unifying focal point.

Dalam pembuatan visi dapat digunakan sembaoyan  “part far side part inside”.  Di satu sisi memandang jauh sekali, tetapi sekaligus  di sisi yang lain menengok ke dalam.  Intinya membuat analisa yang sistematik dan komprehensif tentang kondisi perusahaan serta prospeknya di masa depan.

Mimpi yang bernama visi itu, kata Tichy dan Devana, harus mengandung dua elemen penting. Elemen pertama adalah sebuah kerangka kerja konseptual untuk memahami tujuan serta bagaimana mencapainya. Elemen kedua adalah sisi emosionalnya, yang dapat memberi inspirasi dan  membangkitkan semangat. Selain itu sebuah visi, kata Nanus, juga harus realistik, dipercaya, dan mempunyai daya  tarik masa depan. 

Sehingga perumusan visi harus jelas, tidak menimbulkan keraguan dalam penafsirannya, dan mudah dimengerti. Karena diharapkan selalu melekat dalam kehidupan sehari-hari. Perumusan visi  juga harus mudah diingat, menarik dan memberi inspirasi. Agar dapat memacu semangat visi juga harus menantang, merupakan sumber inspirasi untuk berupaya lebih baik, stabil sekaligus fleksibel, serta dapat diimplementasikan dan dituangkan secara eksplisit.

Visi adalah ujian yang sebenarnya bagi seorang pemimpin yang besar. Di tangan seorang pemimpin, visi itu diharapkan dapat menjadi ‘energizer’, dan menciptakan antusiasme. Untuk merealisaikan visi itu dibutuhkan seorang pemimpin yang memiliki visi kepemimpinan.

Pada hakekatnya kepemimpinan yang visioner adalah kepemimpinan yang mampu untuk menciptakan dan mengartikulasikan sebuah visi yang realistik, kredibel, dan mendorong para pengikutnya untuk tumbuh dan berkembang menuju masa depan. Visi kepemimpinan adalah upaya untuk mengartikulasikan masa depan yang diinginkan sehingga semua bergerak ke arah yang sama. 

Komunikasi dan sosialisasi visi merupakan masalah yang krusial, karena jika komunikasi kurang tepat dan  sosialisasinya gagal, maka visi tak lebih hanya sebagai rangkaian kata di atas kertas yang tak lagi bermakna. Terdapat dua pendektan utama dalam komunikasinya, yaitu pendekatan langsung untuk diseminasi, dan pendekatan bertingkat (cascading) untuk pemahamannya. Sosialisasinya dapat ditempuh dengan menemptakan visi sebagai rujukan dalam tiap kesempatan (pertemuan, percakapan, event),  penggunaan semboyan, pengkaitan dengan area tanggung jawab, dan mengikat dengan tujuan oragnisasi secra keseluruhan.

Visi juga harsus dijaga agar tetap hidup. Beberapa langakah yang harus diambil adalah menkomunikasikan secara antusias dan sesering mungkin, selalu mengkaitkan dengan tujuan perusahaan, memvisualisasikan manfaat-manfaatnya, dan merayakan setiap kejadian penting yang bermakna dalam pencapaian visi (milestones). <Bisnis Indonesia>

*Managing Partner The Jakarta Consulting Group