Globalisasi sudah menampakkan pengaruhnya yang semakin besar dalam berkarir. Berbagai fenomena yang terjadi di negeri ini adalah contohnya. Take over, akuisisi, merger menjadi jamak ketika negeri ini terpuruk dihantam krisis. PHK menjadi kata-kata yang menakutkan bagi para karyawan. Restrukturisasi menjadi kata-kata menjadi lagu wajib yang sering terdengar di balik dinding kantor. Downsizing menjadi kata akrab bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia. Menyempitnya peluang dan perbedaan penghasilan menyebabkan daya tarik bekerja di luar negeri menjadi semakin besar.
Berkarir di luar negeri, terutama di negara yang sudah maju seringkali mendapatkan nilai positif dalam perjalanan karir selanjutnya. Banyak diantara eksekutif yang mempunyai pengalaman kerja di luar negeri, setelah pulang kandang medapatkan kedudukan yang mapan dan karirnya melejit dengan pesat. Bekerja di luar negeri merupakan salah satu strategi karir yang layak untuk dipertimbangkan, agar perjalanan karir dapat melejit dengan cepat.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi dapat dengan mudah ditemui di negara-negara berkembang. Korea Selatan merupakan contoh negara yang mengandalkan program repatriasi ini untuk mendorong kemampuan teknologinya. Perusahaan-perusahaan chaebol banyak memperkerjakan alumnus perusahaan multinasional. Salah satu contohnya adalah K. C. Park. Vice President L.G. Electronic. Inc. ini pernah berkarir di IBM selama 27 tahun.
Jadi sebenarnya keinginan untuk berkarir di negeri seberang selain merupakan hal yang positif bagi pengembangan karir individu, juga bagi kemajuan bangsa di masa mendatang. Bukan hanya dalam jangka pendek karena sempitnya peluang di negeri sendiri, tapi juga pengalaman dan keahlian yang dikembangkan di negara maju, nantinya dapat ditularkan kepada SDM di tanah air. Ingat alih teknologi secara sukarela merupakan hal yang mustahil. Teknologi mesti direbut, diantaranya melalui pengalaman kerja di negara maju.
Tips berkarir di luar negeri
Secara umum staffing decision berkaitan dengan kebangsaan terbagi menjadi tiga : parent country nationals, host country nationals, third country nationals. Jika perusahaan AS di Indonesia mempekerjakan orang AS di perusahaan mereka di Indonesia, berarti kebijakan yang diambil adalah memperkerjakan parent country nationals. Apabila perusahaan itu merekrut pekerja Indonesia untuk diperkerjakan di perusahaan mereka di Indonesia, maka keputusan tersebut adalah mempekerjakan host country nationals. Jika perusahaan tersebut memperkerjakan karyawan dari Filipina untuk bekerja di perusahaan mereka di Indonesia, maka keputusan ini merupakan third country nationals. Nah, para profesional kita yang ingin bekerja di manca negara pada saat ini sebagian besar akan masuk kategori third country nationals, karena kemungkinan bekerja di perusahaan Indonesia yang beroperasi di negeri orang sangatlah tipis.
Jika orang Indonesia ini bekerja di perusahaan global yang beroperasi di Indonesia, dan kemudian ditugaskan di luar negeri, tentu masalahnya lebih sederhana ketimbang yang atas inisiatif sendiri mencari pekerjaan di luar negeri. Setidakanya mereka sudah mengenal corporate culture dengan baik. Pemhaman terhadap corpoarate culture, setidaknya akan memudahkan adaptasi kultural.
Perjuangan yang lebih berat harus dilaui bagi pemburu karir di luar negeri berdasarakan inisiatif sendiri. Anda akan bersaing dengan pasar bebas tenaga profesional di arena global, sehingga kompetisi menjadi berat. Apa bekal yang harus dikantongi agar bisa lolos dalam seleksi dan agar karir anda dapat menanjak di kemudian hari ? Berikut saya sampaikan beberapa tips.
Pertama, dari aspek tehnikal. Anda harus memiliki core competence yang menjadi unique selling point di mata recruiter. Kedua, adalah faktor personal yang akan menunjang karir anda. Dukungan keluarga memegang peranan yang sangat penting bagi karir anda. Selanjutnya bagaimana anda dan keluarga anda mampu berdaptasi.
Kunci dalam beradaptasi adalah kemampuan anda berkomunikasi secara lintas budaya. Hal yang penting adalah masalah bahasa. Biasanya perusahaan juga mengadakan cross cultural training. Namun jika tidak ada, anda harus belajar sendiri bagaimana pun caranya. Get your own, if not provided. Ingat berkomunikasi bukan hanya terbatas hanya pada komunikasi verbal, tetapi juga komunikasi non verbal, yang ikut menentukan citra profesional anda. Beradaptasi memerlukan waktu, sehingga ada baiknya untuk membekali diri dengan pemahaman yang baik mengenai etiket internasional. Penampilan dan citra profesional merupakan pintu gerbang untuk dapat diterima dan beradaptasi serta mendapat respon yang baik dalam lingkungan global.
Secara sederhana juga dapat saya tambahkan hal-hal yang perlu mendapat perhatian khusus, yang biasanya melekat pada budaya kita. Pertama, jangan terlalu banyak memuji. Kedua, jangan mengatakan 'ya' jika ingin mengatakan 'tidak'. Ketiga, jangan terlalu banyak tersenyum jika tidak dirasa perlu, karena akan kelihatan naif dan menujukkan kelemahan.
Komunikasi Antar Budaya
Kemampuan berkomunikasi antar budaya merupakan menu wajib bagi orang yang meniti karir di negara lain. Perbedaan budaya perbedaan dunia seseorang adalam kaitannya dengan komunikasi. Kita harus mampu mengokk dunia mereak yang berbeda dengan dunia kiat, dan berkata dalam dunia mereka.
Komunikasi budaya akan berlangsung baik jika kita memiliki kepekaan kultural. Kepekaan ini dapat diasah melalui kemauan untuk berpikir dalam pola pikir mereka. Kepekaan budaya ini ni merupakan modal yang amat besar dalam membangun saling pengertian dengan mereka, dan dengan sendirinya akan menjadi sarana meniti tangga karir untuk mencapai puncak.
Meniti karir di negeri orang, mungkin merupakan perjuangan tersendiri. Namun jika dapat dilalui dengan mulus, akan menjadi aset yang berharga bagi pengembangan karir selanjutnya.
<BISNIS INDONESIA>
* Penulis adalah Managing Partner The Jakarta Consulting Group