logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



Entrepreneur Harus Optimis


Hampir  semua perusahaan swasta besar berasal dari perusahaan kecil, yang digerakkan oleh  entrepreneur-entrepreneur handal. Biasanya mereka membangun usaha melalui kerja keras dan ketekunan, sehingga mencapai keadaan seperti sekarang ini.

Misalnya IBM  yang dibesarkan oleh  Tom Watson, Sr. dan putranya Tom Watson, Jr. yang memulainya dari perusahaan kecil dan kemudian meraksasa. Di Indonesia kebanyakan perusahaan-perusahaan besar bermula dari usaha  kecil, seperti Salim Group,  Astra, Bukaka dan banyak contoh lainnya. Para pendiri  inilah  orang-orang yang memiliki jiwa  entrepreneur, dengan seluruh kemampuan mereka membangun usahanya.  Pemicu The Asian Miracle,  adalah  entrepreneurship yang berkobar-kobar di kawasan ini. Dengan kombinasi keberanian pengambilan resiko, kecepatan dan kerja keras, mereka dapat mendongkrak usaha untuk berkembang dengan cepat.  Tetapi terpuruknya beberapa konglomerat di Korea Selatan  dan krisis di Thailand, mengubah sebutan The Asian Miracle menjadi The Asian Disaster.

Entrepreneur  sepertinya dilahirkan sebagai seseorang yang optimistik. Bagi mereka dalam menentukan target atas sesuatu hal biasanya sangat tinggi hingga cenderung tidak masuk akal, sebagai ungkapan sikap optimistik. Mereka biasa menghadapi  kesalahan-kesalahan dan kekecewaan dalam kehidupan sehari-hari yang didasari oleh sikap optimistik ini.  Seringkali orang mengatakan entrepreneur sinonim dengan sikap optimis. Mereka selalu mencari kesempatan, jika hal itu tidak ada maka mereka akan menciptakan kesempatan. Walaupun sering  overestimate atas kemampuan diri mereka, namun hal tersebut tidak dilakukan secara terus menerus. Mereka sering berspekulasi atas kondisi masa yang akan datang terhadap peluang atau hambatan yang dihadapi, hal ini juga merupakan bagian dari karakteristik mereka dalam mengambil risiko.

Beberapa karakteristik entrepreneur  cukup menonjol dan berpengaruh terhadap gaya manajemen pada perusahaan generasi pertama.  

eberapa diantaranya cukup positif bagi kemajuan organisasi seperti nilai kerja keras, kreatif, hasrat untuk berkompetisi, motivasi yang tinggi  dan entusiasme yang tinggi. Sedangkan yang dapat memberi kontribusi negatif bagi organisasi adalah keberanian mengambil resiko yang tinggi, pengambilan keputusan berdasarkan intuisi dengan dukungan informasi yang minim dan  tujuan yang sangat ambisius.

Dalam organisasi, perlu keseimbangan  antara pendelegasian tugas dengan memberikan wewenang mengenai tugas yang telah didelegasikan. Sesuai dengan karakteristik mereka, keseimbangan ini cenderung untuk diabaikan, terlebih lagi pada kenyataannya bahwa ternyata mereka menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dan lebih baik dari pada bawahannya. 

Mengapa demikian ? Karena mereka memiliki data-data dan fakta-fakta dari sumber yang dapat dipercaya, dan mereka juga memiliki otoritas. Karenanya mereka merasa tidak perlu berdiskusi untuk mengatasi masalah yang terjadi. Mereka tahu apa yang harus dilakukan, sehingga bagi mereka hanya tinggal melaksanakan, tanpa perlu berkonsultasi dengan yang lain.  Masalah ketidakseimbangan antara pendelegasian dan pemberian wewenang ini semakin menonjol pada perusahaan yang berperan menghasilkan laba.

Manajemen mengajarkan untuk membentuk suatu harmoni antara tugas dan tanggung jawab, namun pada perusahaan jenis ini  terjadi ketidakseimbangan diantara keduanya. Kejelian mereka melihat peluang dan jika peluang itu memang  ada akan disambar secepat mungkin. Menurut mereka peluang itu hanya datang satu kali, jadi segala sesuatunya akan dilaksanakan secepat mungkin dan akhirnya cenderung terburu-buru. Kecenderungan untuk  mengandalkan intuisi dan informasi yang terbatas semakin memperkuat hal ini. Sering kali kesalahan dalam pengambilan keputusan tidak dapat dilacak dimana letak kesalahan yang dilakukan, karena proses pengambilan keputusan tidak dilaksanakan secara sistematis.  Kecenderungan  ini sering ditunjukkan dengan sikap mereka yang mudah sekali menjadi sangat tertarik pada suatu hal. Jika mereka melihat keberhasilan relasi dalam satu bidang usaha, maka ia cepat memutuskan untuk melakukan investasi dibidang usaha yang sama.

Dalam organisasi yang mulai berkembang, entrepreneurship harus didukung oleh manajemen yang lebih profesional, agar dapat mengelola resiko dengan lebih baik.  Pengambilan keputusan harus lebih sistematis, pendelegasian wewenang harus dijalankan dan prosedur ditetapkan.

Tetapi profesionalisasi  manajemen yang diterapkan dalam organisasi jangan sampai mematikan semangat entrepreneurship.  Prosedur dapat menciptakan birokrasi yang berbelit dan  menyebabkan organisasi menjadi lamban.  Semangat berkompetisi tidak boleh tumpul, terlena oleh kemapanan. Struktur organisasi yang profesional jangan sampai mengurangi kepekaan terhadap dinamika persaingan pasar dan kemampuan mendengar suara konsumen.   Keberanian mengambil risiko menjadi mati, yang berakibat matinya kreativitas dan semangat inovatif. Lumpuhnya jiwa entrepreneurship  menjadikan perusahaan-perusahaan  besar yang telah mapan didera oleh kemunduran.

Ketika organisasi beranjak besar,  entrepreneurship dari para pendiri perlu dilengkapi dengan "rem"  profesionalisme dalam  mengendalikan hasrat memacu pertumbuhan  dan pengambilan resiko. Tetapi, nilai-nilai entrepreneurship tetap harus dipelihara untuk memelihara agar perusahaan tetap gesit dan kompetitif.  Nilai-nilai enterpreneurship dan nilai-nilai profesionalisme inilah yang harus disuntikkan kepada segenap jajaran SDM dengan menuangkan di  dalam butir-butir budaya perusahaan dalam porsi yang tepat.
<Male Emporium>