logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
CSR
Entrepreneurship
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Reputation Management
Soft Skill
Strategy
Others



Majalah Eksekutif - Filsafat Dalam Pengambilan Keputusan
A.B. Susanto*

James Burke, CEO Johnson & Johnson menceriterakan pengalamannnya pada saat awal bergabung di Johnson & Johnson sebelum menjadi CEO. Ia membuat “prestasi” yang mengesankan ketika ia mengembangkan produk baru. Perusahaan rugi satu juta dolar! Produk barunya gagal total di pasaran. Ia merasa yakin, bahwa ia akan dipecat. Pimpinan perusahaan pada waktu itu, Jenderal Johnson memanggilnya dan berkata,”Saya tahu anda kehilangan satu juta dolar, karena produk itu”. “Ya pak, itu benar” jawab Burke. Kemudian Jenderal Johnson bangkit dari duduknya dan menyalaminya, seraya berkata , “ Saya hanya ingin mengucapkan selamat. Bisnis penuh dengan pengambilan keputusan, dan jika anda tidak membuat kesalahan anda tidak pernah gagal.” Dia kemudian mengatakan lebih lanjut kepada Burke, bahwa pekerjaan yang paling sulit yang pernah dialaminya adalah menyuruh orang membuat keputusan. Ia menambahkan, jika Burke mengulangi kesalahan yang sama tentu saja ia akan memecatnya. Kemudian ia berkata, “Saya berharap anda membuat lebih banyak keputusan lagi, dan nanti anda menemukan, bahwa lebih banyak kegagalan dibanding sukses”.

Cerita di atas menggambarkan salah satu peran pemimpin dalam organisasi yang sangat sulit adalah peran sebagai pengambil keputusan. Sejatinya, pengambilan keputusan adalah sebuah proses mental yang mengarah kepada pemilihan satu atau lebih tindakan berdasarkan alternatif-alternatif yang ada. Hasil dari proses pengambilan keputusan adalah pilihan akhir. Pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai usaha pemecahan masalah, yang berhenti apabila penyelesaian yang memuaskan telah ditemukan. Oleh karenanya, pengambilan keputusan adalah sebuah proses logis dan emosional yang dapat bersifat rasional maupun irasional.

Menurut Myers, proses pengambilan keputusan bergantung kepada tingkat signifikansi dan gaya kognitif yang dimiliki. Myers mengembangkat empat dimensi dua kutub yang disebut Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), yakni pikiran dan perasaan, ekstroversi dan introversi, penilaian dan persepsi, serta sensing dan intuisi. Proses pengambilan keputusan juga dipengaruhi oleh perbedaan budaya.

Telah banyak metode dan perangkat diciptakan untuk membantu dalam mengambil keputusan, bahkan kemajuan teknologi informasi melahirkan decision support system. Tetapi tetap saja semua berpulang kepada manusianya. Krisis ekonomi dunia dipicu oleh ambruknya korporasi besar karena pemimpinnya kurang bijak dalam mengambil keputusan, terutama dikaitkan dengan etika. Secanggih apapun perangkat dan metodenya, manusia pengambil keputusanlah yang memainkan peran terbesar. Disinilah peran filsafat. Tinjauan filosofis dalam pengambilan keputusan memungkinkan kita menarik kesimpulan yang lebih independen, mencapai kebenaran tanpa dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bias dan subyektif.

Dalam proses pengambilan keputusan sering terjadi bias, suatu kecenderungan preferensi kepada hasil tertentu, sehingga tidak netral dan tidak objektif. Misalnya hanya mengumpulkan fakta yang mendukung kesimpulan tertentu, ketidaksediaan untuk mengubah pola pikir di masa lalu dalam menghadapi situasi baru, hanya menerima pernyataan dari pihak-pihak yang disukai, dan meremehkan ketidakpastian karena merasa memiliki kendali penuh terhadap masalah-masalah potensial.

Menurut LeBon dan Amaud, filsafat dapat membantu memberikan pemahaman yang mendalam dan metode yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan yang tepat melalui empat cara, yakni kebijaksanaan, emosi, pemikiran kreatif dan kritis, serta etika.

Kebijaksanaan, menurut Aristoteles, terbagi menjadi dua, teoritis dan praktis. Kebijaksanaan teoritis adalah pengetahuan tentang hal-hal yang tidak mengalami perubahan. Dalam etika, hal ini berarti hal-hal yang dianggap benar atau salah, baik atau buruk secara umum. Namun kebijaksanaan teoritis saja tidak cukup. Diperlukan kebijaksanaan praktis, yang berarti memahami hal-hal yang tepat dilakukan dalam situasi tertentu melalui pemahaman situasi yang tepat, memahami persoalan yang terjadi, dan menerapkan langkah-langkah yang tepat. Seseorang bisa saja mengetahui secara umum hal-hal yang harus dilakukan, namun pengetahuan tersebut sia-sia bila tidak mampu dimanfaatkan pada saat yang tepat.

Mempertimbangkan emosi dalam pengambilan keputusan dapat membantu meningkatkan kemampuan melakukan penilaian (judgement) yang sehat menyangkut signifikansi sebuah peristiwa, disertai dengan reaksi yang pantas. Namun emosi dapat mendatangkan pemahaman mendalam tentang keadaan, nilai-nilai, dan pilihan hanya jika dalam kondisi sehat. Jika tidak, pengambil keputusan akan kehilangan nilai-nilai informasi. Juga akan mengakibatkan terdistorsinya pandangan terhadap situasi, masalah, opsi, serta kemampuan untuk mengimplementasikan keputusan. Oleh karenanya, manfaatkan emosi pada saat dan dengan cara yang tepat.

Pemikiran kreatif adalah penciptaan, pemikiran, ide, keputusan dan tindakan, sering dengan cara-cara yang baru dan tidak lazim. Dalam setiap tahap pengambilan keputusan, pemikiran kreatif memiliki manfaat. Sementara, pemikiran kritis, menurut Ennis, adalah proses yang bertujuan untuk mengambil keputusan yang logis tentang apa yang diyakini dan dilakukan. Pemikiran kritis mencakup seperangkat keterampilan dan sikap. Pemikiran kritis perlu diterapkan pada seluruh proses pengambilan keputusan, memperoleh pemahaman akurat tentang situasi, dalam mengukur nilai, dan juga dalam mengukur, menjalankan dan memantau opsi.

Etika pada dasarnya adalah standar atau moral yang menyangkut benar-salah, baik-buruk. Konsep etika dalam pengambilan keputusan merupakan bentuk penerapan dari etika deontologi dan teleologi. Deontologi menyatakan bahwa sebuah keputusan yang diambil harus didasarkan pada tugas-tugas dan hak-hak orang lain sebagai pertimbangan utama. Salah satu implikasi paling penting deontologi adalah bahwa perilaku seseorang dapat dianggap salah, walaupun perilaku tersebut memberikan hasil terbaik yang mungkin bisa dicapai. Dan sebuah tindakan dapat dianggap benar walaupun menghasilkan hal yang buruk. Jadi, benar atau tidaknya sebuah perilaku atau tindakan tidak ditentukan oleh akibat yang dihasilkan dari perilaku atau tindakan tersebut. Menurut Immanuel Kant, salah satu penganjur teori etika deontologi, apa yang memberi nilai moral bagi sebuah perilaku atau tindakan bukanlah hasil dari tindakan tersebut, karena akibat-akibat dari sebuah perilaku atau tindakan kadangkala berada diluar kendali seseorang, namun niat dari perilaku atau tindakan kita, yang masih berada dalam kendali kita. Dengan kata lain, baik atau buruknya suatu perbuatan tergantung kepada perbuatan itu sendiri, terlepas dari tujuannya.

Sedangkan dalam teori etika teleologi, suatu perbuatan dianggap baik apabila memiliki tujuan yang baik, demikian pula sebaliknya. Sebuah perbuatan yang pada dasarnya adalah baik namun memiliki tujuan buruk, maka perbuatan tersebut dinilai salah. Demikian pula sebaliknya. Dalam hal pengambilan keputusan, kita harus memiliki tujuan baik bagi kita sendiri maupun orang lain, yang dicapai melalui perilaku dan tindakan yang baik pula.

Pemahaman mengenai filsafat akan memandu dan memperkaya kita untuk mengambil keputusan yang bijak dan lebih obyektif. Dengan demikian bukan hanya menjadi manajer yang baik tetapi menjadi Pemimpin yang lebih dihormati, disegani, dan efektif.


* Managing Partner THE JAKARTA CONSULTING GROUP