|
||||||
.: PUBLICATIONS :. Articles |
PENGEMBANGAN KARIER MENYONGSONG AFTA AFTA sebagai sarana “latihan” bagi Indonesia untuk nantinya berkompetisi dalam perdagangan bebas global. AFTA akan menempa perusahaan-perusahaan Indonesia memasuki kompetisi murni dengan sesama perusahaan di kawasan ASEAN. Perusahaan dapat berkompetisi dan memberi kontribusi dalam perkembangan ekonomi Indonesia adalah perusahaan yang tergolong World Class Company. Kategori World Class Company bukan ditentukan besarnya perusahaan, tetapi ditentukan kualitas operasi bisnisnya. Sebagai konsekuensinya dibutuhkan para profesional Indonesia yang dapat mendukung perusahaan-perusahaan Indonesia yang beroperasi dalam tingkatan yang “kelas dunia”. Sebuah peluang sekaligus tantangan. Kita anggap sebagai tantangan karena akan terjadi pelonggaran dalam masalah ketenagakerjaan, yang menjadikan kompetisi antar pemburu karir kian sengit. Namun hal ini juga sekaligus sebagai peluang jika kita memang kompetitif.
Kerjasama ekonomi Asean (AFTA) efektif berlaku pada tahun 2003, yang diperkirakan keadaan ekonomi Indonesia belum pulih sepenuhnya. Para profesional Indonesia sebagai tiang utama pembentuk daya saing perusahaan-perusahan Indonesia mesti menempa dirinya. Dalam konteks ini pembelajaran (learning) menjadi kata kunci di dalam proses menempa profesional yang bertaraf global. Perluasan wawasan dan kemauan belajar secara terus menerus mesti dijadikan sebagai strategi dasar dalam pola pengembangan karir. Wawasan global harus dimiliki oleh setiap profesional yang berpartisipasi di dalam ekonomi global. Wawasan global ini sangat diperlukan terutama untuk mengantisipasi perubahan yang begitu cepat dan kadang sulit dipahami kemana arah perubahan ini. Di dalam era globalisasi, wawasan ekonomi tidak cukup. Kejadian ekonomi tidak hanya berada dalam bingkai ekonomi semata namun melebar terkait dengan wilayah politik, sosial, budaya, bahkan teknologi. Pengembangan diri untuk menjadi eksekutif berwawasan global merupakan langkah utama yang harus ditempuh. Seorang global manager bersifat kosmopolit, yang dapat bertindak efektif sebagai komunikator dalam sekaligus negosiator interkultural. Mampu menciptakan cultural synergy dan dapat bertindak sebagai pemimpin lintas budaya dalam pekerjaan, organisasi, dan tim proyek. Manajer yang memiliki kepemimpinan yang sensitif terhadap perbedaan latar belakang budaya, serta inovatif dan partisipatif, yang mampu berkarya secara optimal dalam lingkungan budaya global yang pluralistik. Dia juga harus mampu mengelola perubahan yang berlangsung cepat dan memanajemeni keragaman dengan baik. Dituntut keterbukaan dan fleksibilitas dalam melakukan pendekatan terhadap orang lain, serta mampu mengatasi situasi yang melibatkan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda dengannya. Seorang manajer yang mempunyai kemampuan untuk melakukan intercultural communication dan memiliki cultural sensitivity. Tuntutan ini muncul karena dalam pemberlakuan AFTA mendatang dapat dipastikan interaksi antar budaya sangat intensif seiring dengan banyaknya bentuk kerjasama yang melibatkan SDM dari berbagai latar belakang budaya. Paradigma network organization akan mendominasi organisasi-organisasi bisnis dunia, yang dengan sendirinya juga akan berpengaruh di kawasan ASEAN, terutama untuk mewujudkan sinergi antar perusahaan-perusahaan di kawasan ASEAN yang merupakan salah satu cita-cita dalam pembentukannya. Implikasi dari paradigma ini adalah para manajer harus bekerjasama dalam pluralitas budaya. Dalam kondisi demikian para manajer Indonesia diharapkan mampu menjadi pemimpin yang handal, agar dapat meraih posisi yang tinggi dalam hirarki organisasi dan memberikan kontribusi yang bermakna sebagai pembentuk daya saing Indonesia. Paradigma kepemimpinan harus berubah menjadi paradigma yang memberi keseimbangan antara peran leadership dan followership. Selain menjadi pemimpin yang baik, juga harus menjadi bawahan yang baik (followership). Tugas seorang pemimpin yang utama adalah bagaimana mengarahkan, mengubah dan menggerakkan orang lain. Untuk “mengarahkan”, seorang pemimpin memerlukan visionary supervision, untuk “mengubah” dilakukan melalui positive nurturing, sedangkan untuk “menggerakkan” bawahan dilakukan dengan menghidupkan inner driver mereka yang berlandaskan motivation & self. Bekal utama yang harus dikantongi adalah mempersiapkan calon manajer global yang bukan hanya piawai dalam kompentensi yang bersifat teknis, tetapi juga mempunyai kepemimpinan yang kuat. Selain itu diperlukan polesan yang berkaitan dengan profesional image, karena akan bersentuhan dengan nilai-nilai global dan berinteraksi dengan kalangan yang berasal dari berbagai latar belakang budaya. Para pemburu karir perlu membekali diri dengan interpersonal skill, serta didukungpenampilan yang selaras dengan citra eksekutif, serta pemahaman etiket yang berlaku secara internasional. <BISNIS INDONESIA> * Managing Partner The Jakarta Consulting Group |
|