logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



WANITA : MENGELOLA TANTANGAN
A.B. Susanto*


Di awal pergantian milenium sebagaian cita-cita Kartini telah terlaksana. Banyak wanita karir yang telah berkecimpung dalam dunia usaha.  Namun,  wanita karier acap kali dihadapkan pada berbagai tantangan, yang timbul sebagai akibat pelaksanaan aktivitasnya. Jika tantangan ini dikelola secara positif akan menjadi motivasi ampuh untuk mengembangkan aktivitas sekaligus kompetensi diri dalam rangka mencapai suatu posisi atau hal-hal tertentu.
Lebih jauh lagi tantangan akan membawa dampak tertentu terhadap perkembangan diri wanita, yaitu antara lain:

Menjadi pionir
Pengelolaan tantangan secara positif akan menjadikan wanita tampil sebagai inisiator untuk “membuka” jalan masuk dalam pelaksanaan suatu aktivitas. Ia pun menjadi panutan yang diteladani orang-orang lain dalam mengembangkan aktivitas dan memperlihatkan keunggulan performansi.
Keuntungan yang dapat diperoleh adalah melakukan suatu hal dengan inisiatif sendiri berdasarkan kemampuannya mengantisipasi berbagai hal yang ditemui dalam kenyataan sehari-hari. Hal itu tentu saja menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi pada seorang wanita untuk terus mengembangkan diri dengan mengubah tantangan menjadi peluang.


Keinginan mengembangkan

  1. Tantangan pun dapat menjadi “pemicu” timbulnya antusiasme untuk mengembangakan  sesuatu menjadi besar. Dalam artian, sang wanita merasa tertantang melakukan sesuatu. Maka dilakukanlah “pengembangan” yang merupakan jawaban langsung terhadap tantangan tersebut.
  2. Menguasai inti tantangan akan memberi keuntungan, yaitu sang wanita mengetahui secara jelas langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan. Selain itu, ia memiliki kesempatan besar menentukan skala prioritas aktivitas dan mengembangkan potensi hal-hal yang relatif “kecil”.

Terlatih menghadapi berbagai kesulitan
Tantangan pun biasanya langsung berkaitan dengan upaya peningkatan kompetensi diri. Artinya, dalam diri seseorang biasanya terdapat keinginan untuk secara terus-menerus memperbaiki dan meningkatkan potensi diri sampai ia tidak menemui kesulitan  lagi dalam beraktivitas atau menghadapi hal-hal tertentu.
Keuntungannya adalah memiliki kemampuan menyelesaikan sesuatu secara tepatdan terampilserta dapat memperlihatkannya dengan mudah dan tanpa hambatan berarti. Selain itu, terdapat keinginan untuk terus belajar berangkat dari pengalaman diri sendiri maupun orang lain.

Aktualisasi diri
Tantangan dapat menjadi sarana ampuh untuk mengaktualisasikan diri seluas-luasnya. Dengan “membuka” diri secara meluas, seorang wanita dapat menemukan sesuatu yang istimewa dalam dirinya sendiri. Lebih jauh lagi, ia akan merasa tertantang untuk mengaktualisasikannya menyertai kehadirannya di tengah-tengah khalayak luas, sebagai bagian dari upaya pengembangan diri.
Keuntungan ia menjadi wanita yang sangat menikmati hidup, jujur mengkomunikasikan dirinya kepada orang lain, dan memiliki kemampuan mengendalikan emosi. Hal itu terbentuk melalui pengenalan mendalam mengenai dirinya sendiri.

Memanfaatkan “Power”
Untuk mengelola tantangan itu, wanita  dapat menggali kekuatan, melalui proses latihan atau upaya pengembangan potensi diri secara optimal. Dengan mempergunakan kekuatan ini, wanita dapat mengambil posisi bukan sebagai objek, melainkan berkedudukan sebagai subjek aktivitas-aktivitas yang dijalankannya.
Dalam hal ini terdapat beberapa kategori kekuatan yang menjadikan wanita berkiprah secara meluas, yaitu:

Kekuatan Asertif
Asertif adalah sikap yang tidak mengandung agresi, namun tidak pasif. Apapun yang dikatakan atau dilakukan wanita yang asertif, memberikan pengaruh secara mendalam pada orang lain. 
Saat ini banyak wanita yang berusaha keras untuk menjadi asertif. Ada pula wanita yang memiliki asertivitas kuat sebagai suatu bakat atau pembawaan. Hal itu didasarkan pada manfaat nyata yang dapat diperoleh dari asertivitas itu, yaitu mengarahkan wanita secara persuasif untuk melibatkan diri, menerima respon, dan bekerja sama mengelola suatu aktivitas bersama.
Keuntungan yang dapat diraih wanita dengan kekuatan ini adalah tampil mandiri mengemukakan pandangan dan gagasannya secara jelas

Kekuatan Intelektual
Kekuatan intelektual dapat diperoleh, dilatih, dan ditingkatkan melalui pengembangan pemikiran atau cara berpikir, baik mengenai saat ini, masa lalu, maupun masa mendatang. Dalam proses ini terkandung upaya evaluasi tingkat pemikiran, penalaran mendalam terhadap inspirasi diri sendiri, dan pengembangan impian yang dimiliki.
Dengan kekuatan ini wanita dapat menjadi seorang pemikir handal, yang berwawasan luas dan memiliki pandangan jauh ke depan. Dalam pelaksanaan aktivitasnya, ia mampu menerapkan strategi jitu dan memberikan konklusi tanpa harus banyak terlibat dalam operasionalisasinya.
Sebaliknya, dengan tingkat logika yang tinggi seorang wanita bisa saja terjebak dalam sikap yang terlampau rasional, dikendalikan oleh hal-hal teoritis, kurang realistis, dan kehilangan intuisi.

Kekuatan Politis
Kekuatan politis merupakan dasar kokoh untuk terlibat aktif dalam kebijaksanaan pemerintah, organisasi, asosiasi, atau perhimpunan. Kekuatan ini bersumber pada kemampuan diri sendiri untuk mempengaruhi orang lain, pengetahuan mengenai peraturan- peraturan pemerintah dan tata laksana organisasi, dan lain-lain. Sumber lain adalah konsensus masyarakat atau pengikut terhadap opini publik mengenai keberadaan seseorang.
Kedua sumber tersebut merupakan perpaduan yang saling mempengaruhi dan saling melengkapi. Dalam hal ini, kekuatan politis tidak dapat diperoleh, dilatih, atau pun dikembangkan tanpa kehadiran orang lain dan dukungan orang lain. Semakin besar keterlibatan dengan banyak orang, semakin besar pula kesempatan untuk mengasah dan memperlihatkan kekuatan politis ini.

Kekuatan Eksekutif
Kekuatan ini didasarkan pada kemampuan manajerial wanita mengembangkan dirinya secara meluas dalam aktivitas sehari-hari. Kekuatan ini memotivasi dan mengarahkannya untuk mendapatkan suatu pekerjaan, mengelola  pekerjaan itu terlaksana dengan baik, dan mengupayakan agar mencapai hasil maksimal dari pekerjaan itu. Dalam hal ini, kekuatan eksekutif diimplementasikan melalui kemampuannya mengorganisir orang lain untuk melakukan sesuatu atau menyelesaikan tugas. Dalam kondisi formal, kekuatan eksekutif terwujud pada diri wanita yang berkedudukan sebagai pemimpin.
Bagi wanita karir, tantangan yang dikelola dengan baik merupakan improvement process, untuk mengembangkan kompetensi diri.   Untuk meraihnya perlu membangkitkan dan mengasah “kekuatan-kekuatan” dimiliki seorang wanita. <BISNIS INDONESIA>


* Managing Partner The Jakarta Consulting Group