CAREER COACHING
A.B. Susanto*
Bingungkah Anda merencanakan karir Anda ? Selain pilihan-pilihan pekerjaan yang masih dalam ’rel’ karir saat ini, juga tersedia alternatif karir ’lompat pagar’. Karir ’lompat pagar’ mungkin saja masih terkait dengan pekerjaan saat ini, tetapi mungkin pula merupakan sesuatu yang sama sekali baru bagi Anda.
Kemungkinan lompat pagar yang paling sering terjadi adalah penugasan oleh organisasi tempat kita bekerja. Organisasi berkembang pesat dan tersedia posisi baru dalam jalur karir yang baru pula. Kebetulan tidak ada orang dalam organisasi yang sebelumnya berada dalam jalur karir ini. Jika Anda terpilih untuk menempati posisi baru, Anda telah ’lompat pagar’ atas penugasan organisasi.
Dalam perjalanan karir setidaknya ada empat pola inti : dalam organisasi yang sama dan tetap pada jalur karir, berpindah organisasi dengan jalur karir sama, pindah jalur karir dalam organisasi yang sama, dan terakhir pindah jalur karir sekaligus pindah organisasi.
Nah, dalam situasi macam ini, jangankan membuat perencanaan karir, merumuskan tujuan karir saja terasa sulit. Kita mengenal setidaknya terdapat tiga tonggak jaman berkaitan dengan perencanaan karir yang dapat kita jadikan rujukan : ’naik kereta api’, ’naik bus jarak dekat’, dan ’naik ATV di gurun pasir’.
Pada era tahun lima puluhan sampai enam puluhan, seseorang yang meniti karir dapat diibaratkan menaiki kereta api jarak jauh. Berangkat dalam suatu posisi yang permanen dan ’duduk manis’ sampai stasiun pemberhentian (pensiun). Perumusan tujuan karir cukup dilakukan sekali saja, dan berlaku untuk seumur hidup.
Di era tahun tujuh puluhan sampai delapan puluhan menapak karir ibarat naik bus jarak dekat. Penumpang dapat berangkat dari terminal pemberangkatan yang berbeda-beda, dan duduk sampai mencapai terminal tujuan yang berbeda-beda. Perubahan situasi yang cepat, acap memaksa kita untuk memiliki derajat fleksibilitas tertentu. Dibutuhkan perencanaan terhadap sejumlah karir yang berbeda, tetapi tujuannya tetap harus jelas.
Bagaimana situasi karir abad keduapuluh satu ini ? Kita seperti menaiki ATV (all terrain vehicle) di gurun pasir yang luas. Dengan tujuan yang tidak sepenuhnya jelas, tiada peta maupun jalan yang dapat menuntun sekaligus mengharuskan kita pada suatu track tertentu. Kita dapat berkelana sesuka hati, dengan resiko tersesat atau berputar-putar. Kita dapat terjebak pada fata morgana, yang menimbulkan kelelahan mental (mental fatique). Dinamika dunia kerja dan perubahan yang sangat cepat, menawarkan seribu pilihan dan sejuta impian. Jika kita tidak pandai-pandai membawa diri, kita bisa berkelana menjelajahi karir tanpa batasan yang jelas. Inilah tantangan perencanaan karir bagi kita pada saat ini.
Menghadapi situasi macam ini, alangkah baik jika mempunyai ’cermin’. Cermin yang dapat memantulkan minat dan potensi kita, yang akan memandu merumuskan karir kita. Career coaching!
Coaching memang berbeda dengan konseling (counseling). Konseling lebih berorientasi pada masa lalu dan lebih banyak membahas masalah pribadi, sementara coaching lebih beorientasi kepada peningkatan performansi dan masa depan. Secara umum tujuan coaching dalam lingkungan kerja adalah peningkatan kemampuan. Caranya ? ’Merubah’ situasi kerja menjadi situasi pembelajaran, terencana, dan di bawah bimbingan yang tepat.
Dalam career coaching, seorang coach akan memandu Anda untuk menggali segala fakta dalam diri Anda yang terkait dengan karir. Bagaimana persepsi anda mengenai karir Anda sekarang, tugas yang disukai, minat, cita-cita, lingkungan keluarga dan berbagai hal lain yang terkait dengan pengembangan karir.
Semua yang Anda ceritakan akan ’ditampung’ dan diungkapkan kembali kepada Anda secara sistematis. Kemudian Anda diajak untuk merumuskan hasil yang akan dicapai, menggali peluang-peluang yang ada, merumuskan tindakan yang akan dilakukan, mengatasi serta hambatannya. Diharapkan Anda lebih mempunyai insight terhadap karir Anda dan dapat merumuskan tujuan karir, serta upaya pencapaiannya. Jadi apa yang telah dirumuskan bukanlah nasehat dari coach, tetapi merupakan refleksi dari keinginan, pendapat, cara pandang Anda mengenai diri dan lingkungan Anda yang terkait dengan pengembangan karir Anda. <KOMPAS>
* Managing Partner The Jakarta Consulting Group
|