logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



DI SIMPANG JALAN
A.B. Susanto*


Saya seorang agen asuransi yang sangat menikmati pekerjaan ini dan penghasilan yang saya peroleh juga sangat memuaskan. Beberapa kali saya jadi best producer, beberapa kali pula saya pindah perusahaan asuransi, tetapi posisinya tetap sebagai agen asuransi. Pernah, saya ‘mencoba’ jabatan menjadi manajer yang membawahi sejumlah orang. Tetapi saya merasa justru mempunyai beban, karena harus ‘mengurusi’ beberapa orang. Kemudian saya keluar, berpindah ke perusahaan asuransi lainnya untuk menjadi agen biasa. Saya merasa menjadi agen biasa justru dapat bekerja lebih optimal, dapat bekerja dengan enjoy, tanpa pusing mengurusi orang lain, jam kerja bebas dan segala macam urusan administrasi lainnya. Kalau dipikir-pikir penghasilan saya tiadak kalah dari gaji seorang eksekutif. Tetapi saya merasa profesi saya ini masih dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitar saya, dan dianggap kurang prestisius.

Sebuah ungkapan yang menarik, bagaimana kegalauan seseorang tentang perjalanan karir yang telah ditempuhnya. Dia merasa karir yang ditekuni telah memberi kepuasan kerja sekaligus kepuasan finansial. Tetapi ternyata yang bersangkutan merasa kurang memperoleh pengakuan sosial, dan  tidak memperoleh status sosial yang diharapkan. Ia merasa penghargaan sosial yang diterimanya tidak sesuai dengan harapannya. Tentu saja ini ’perasaan’ ini bersifat subyektif, tidak semua orang dijangkiti perasaan yang sama. Inilah fase “persimpangan jalan” dalam perjalanan karir seseorang.

Aspirasi karir adalah bagian dari aspirasi kehidupan.  Dan aspirasi seseorang sangat dipengaruhi oleh perkembangan psikologis dan lingkungan sosialnya. Seorang anak jika ditanya apa cita-citanya akan menjawab gaya khas anak-anak : pilot, dokter, astronot atau supir bis. Karena itulah profesi yang dekat dengan kehidupan mereka, dalam realita maupun imajinasi.Ketika menginjak ABG, jika ditanya cita-citanya akan banyak yang menjawab menjadi artis, bintang sinetron,penyanyi, model atau sejenisnya. Ketika seseorang menginjak dewasa cita-citanya akan lebih menjejak bumi.    

Fase ’persimpangan jalan’ ini muncul ketika seseorang mulai berpikir mengenai karir yang telah ditekuni pada saat ini. Dia dihadapkan kepada pilihan-pilihan karir, mau jalan terus dengan karir yang telah dijalani atau ’belok’ ke arah lain.Persimpangan jalan ini dipicu oleh faktor internal maupun eksternal.

Dari sisi internal kepuasan kerja terhadap jalur karir pada saat ini amat menentukan. Dengan kepuasan kerja yang tinggi dengan sendirinya dia cenderung untuk menetap di jalur ini. Tetapi suasana ‘persimpangan jalan’ akan muncul ketika dia menghadapi kenyataan bahwa karir yang menimbulkan kepuasan kerja yang tinggi ini, dirasakan tidak seimbang dengan kepuasan dalam kehidupannya sehari-hari dalam masyarakat. Misalnya dia merasa bahwa pekerjaan yang memberi kepuasaan kerja ini, dirasakan tidak memberi imbalan finansial yang layak untuk menopang kehidupan sehari-hari. Suasana persimpangan jalan ini juga hadir jika seseorang merasa telah mendapatkan pendapatan finansial yang tinggi tetapi tidak memperoleh kepuasan kerja, atau berada dalam situasi tertekan. Misalnya seorang trader di bursa saham, yang merasa dari sisi penghasilan tidak menjadi masalah, tetapi secara psikologis merasa tertekan.  Sekali lagi hal ini bersifat sangat subjektif, sehingga tidak dapat dipukul rata dan dibandingkan antara individu yang satu dengan yang lain.

Pada masa ini, individu harus melakukan evaluasi ulang mengenai pilihan karirnya di tahap awal, apa harus terus berada pada track yang telah dijalani, atau pindah jalur. Individu yang bersangkutan perlu mengembangkan insight terhadap nilai dan motivasi kerja, serta mengevaluasi ulang prospek karir mereka. Tidak ketinggalan harus meninjau kembali tujuan karir yang telah ditetapkan pada tahap awal karir.  

Seperti yang kita ketahui, ketika seseorang mulai menginjak dunia kerja, dia berada pada suasana psikologis untuk mencari ‘jati diri’ yang disebut sebagai tahap awal karir. Dalam fase ini dia masih berada dalam kegamangan dan selalu bertanya kepada diri sendiri tindakan apa yang dianggap paling tepat. Dia berusaha untuk memperoleh penerimaan dari lingkungan kerjanya, melalui upaya-upaya penyesuaian diri. Dia berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh hasil yang bagus, dan memperoleh pengakuan dari lingkungannya.

Pola adaptasi, pencapaian hasil dan pengkuan lingkungan kerja inilah yang membentuk tujuan karirnya, yang perlu ditinjau ulang pada fase ’persimpangan jalan’. 

Pendek kata fase persimpangan jalan adalah titik ’peneguhan’, agar lebih mantap dalam meniti karir.  Diharapkan setelah melewati fase simpang jalan, perjalanan karir sampai pada tahap pematangan yang bertumpu kepada pengalaman sebagai andalan dalam pengembangan diri. Akumulasi pengalaman inilah yang akan menjadi tangga untuk mendaki karir selanjutnya. <KOMPAS>


* Managing Partner The Jakarta Consulting Group