logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



DINAMIKA KARIR
A.B. Susanto*


Di halaman ini berderet iklan yang menawarkan beragam posisi, disertai deskripsi tugas, persyaratan jabatan dan bahkan sebagian menawarkan fasilitas-fasiltas yang bakal diterima. Para pemasang iklan mengemas tawarannya semenarik mungkin agar dapat mencuri perhatian pembaca yang menjadi sasarannya. Pendek kata, mereka memasarkan perusahaannya kepada target audience mereka, agar dapat menggaet kandidat-kandidat yang potensial. Mereka berkompetisi agar dapat memperoleh SDM yang dapat memenuhi kebutuhannya.

Benarkah pembaca yang tertarik melamar adalah para pencari kerja ?  Tentu saja tidak. Lebih tepat dikatakan sebagai pemburu karir. Karena yang diharapkan oleh pemasang iklan justru sosok yang menonjol prestasinya.

Sumber daya manusia mempunyai kedudukan yang semakin strategis. Posisi strategis ini melalui proses yang panjang. Terdapat suatu metamorfosis dalam sudut pandang pengelolaan SDM. Awalnya  penghargaan terhadap SDM dipukul rata, tanpa peduli seberapa besar kontribusinya. Sudut pandang ini disebut the personnel perspective. Perusahaan yang berada dalam perspektif ini lebih banyak Anda jumpai di iklan baris. Selanjutnya mulai ada bonus, insentif dan perbedaan antara SDM yang performansinya bagus dan jelek (the compensation perspective). Kemudian  disadari SDM sebagai aset strategis, tetapi belum ada investasi nyata untuk mengembangkan kapabilitasnya (the alignment perspective). Terakhir manajemen SDM dianggap melekat dan tak terpisahkan dalam  implementasi strategi perusahaan (the high performance perspective). Nah, yang berada pada taraf inilah yang banyak menghiasi  iklan lowongan di halaman ini.

Mengapa perusahaan menaruh perhatian begitu besar kepada SDM-nya ?  Karena mereka membutuhkan SDM yang kompeten untuk menunjang kompetensi perusahaan. Kita sangat paham, dalam iklim yang kompetitif perusahaan harus mempunyai senjata andalan berupa kompetensi yang harus didukung SDM yang kompeten. Secara internal mereka mengembangkan kompetensi SDM-nya. Tetapi jika tidak tersedia, terpaksa ’mengimpor’  SDM yang sudah ’jadi’. Merekalah pemasang iklan itu.

Dalam kedinamisan pasar tenaga kerja, salah satu penopang utama untuk meniti tangga karir adalah memiliki kompetensi yang dipersyaratkan oleh pekerjaannya. Peningkatan kompetensi (proficiency level) akan mendorong performansi, dan performansi yang bagus akan melempangkan karir.

Selain menyediakan peluang yang luas dinamika karir juga mengandung tantangan karena merupakan arena ’pemasaran’ yang sangat  kompetitif. Anda digiring agar dapat memiliki ‘daya jual’ yang tinggi. Selain ‘produk’nya (kompetensi dan prestasi) juga harus memperhatikan pemasarannya. Kita sering menjumpai orang-orang yang pandai memasarkan dirinya. Walaupun sebenarnya kompetensinya kurang menonjol, tetapi lebih cepat dipromosikan atau lebih mudah diterima bekerja di tempat lain yang posisinya lebih bagus.

Setelah mengetahui kompetensi Anda, tentukan siapakah yang akan menjadi target. Perusahaan macam apa yang akan sesuai dengan kompetensi Anda, sehingga Anda mempunyai nilai lebih di mata mereka. Pemahaman yang baik terhadap ‘konsumen’ memungkinkan Anda untuk menawarkan benefit, berupa  kompetensi utama. Kompetensi ini adalah sesuatu yang abstrak sehingga mereka menelusuri dari berbagai cara dengan menggali skill, prestasi, pengalaman-pengalaman memegang jabatan di perusahaan terdahulu, pendidikan formal maupun non formal, kepribadian, penampilan, sikap dan lain-lain.

Strategi yang disusun tergantung pada kesan yang ingin ditampilkan. Kompetensi, karakter, dan penampilan seperti apa yang dibutuhkan oleh perusahaan yang dituju,  agar  mendapatkan nilai lebih di mata mereka. Anda harus tahu benar siapa mereka dan memperkirakan kriteria yang akan dipakai untuk menilai kandidatnya. Dengan demikian Anda  dapat menyusun bagaimana cara yang tepat untuk ’mempromosikan’ diri.

Sebagai orang yang memasarkan diri, Anda harus mengetahui kompetensi  Anda dan berapa ‘nilai’ yang pantas untuk kemampuan setara di pasar.  Anda harus memberi ’harga’ kepada diri Anda agar Anda mempunyai nilai yang kompetitif.

Dalam memasarkan diri,  Anda merupakan ‘produk’ yang perlu dikemas dan ‘dijual’, sehingga harus tampil dalam penampilan terbaik. Anda harus memiliki kemampuan yang harus ditunjukkan, prestasi yang layak ditonjolkan serta pengalaman yang menambah bobot profesional Anda. Kesemuanya harus dikemas dengan baik, dapat diungkapkan secara verbal dan dituangkan ke dalam bentuk  yang tercetak .

Selain masalah kompetensi, kesesuaian antara nilai-nilai pribadi dan aspirasi Anda harus selaras dengan budaya perusahaan (cultural fitness). Faktor ini ikut menentukan sukses tidaknya Anda berkarya di tempat yang baru. Jika Anda hanya bertumpu pada masalah teknis dan kecocokan gaji saja, Anda dapat menyesal di kemudian hari. Jadi ketika akan memasuki sebuah posisi, bukan hanya perusahaan saja yang berhak menilai Anda, tetapi juga sebaliknya Anda harus menilai perusahaan itu. Prinsipnya Anda harus mengorek informasi dari mereka serealistis mungkin, sehingga memperoleh gambaran sebenarnya tentang situasi dan kondisi pekerjaan itu (realistic job preview).

Dinamika kompetisi telah mengaliri denyut nadi dunia perekrutan SDM dan pengembangan karir. Perusahaan mempromosikan diri, menawarkan benefit agar dapat menggaet SDM yang dibutuhkan. Di sisi lain, SDM juga mempromosikan diri, menawarkan benefit dan berkompetisi untuk meniti tangga karir. <KOMPAS>


* Managing Partner The Jakarta Consulting Group