MENGETUK PINTU KARIR
A.B. Susanto*
Seorang lulusan Westpoint diterjunkan ke kancah perang Vietnam sebagai komandan peleton. Selain menghadapi musuh dan ganasnya medan pertempuran, dia juga harus menghadapi beragam sikap anakbuahnya yang lebih dahulu berada di sana. Ada yang respek dan kooperatif, meragukan, menguji kemampuannya, melecehkan, dan beragam sikap lainnya. Ada konflik psikologis, ketika apa yang diserap di institusi pendidikan ternyata nggak nyambung dengan kenyataan di lapangan. Konflik psikologis juga muncul anatara idealisme dan tindakan-tindakan pragmatis. Kisah-kisah Hollywood yang diilhami perang Vietnam, menyentuh banyak sisi kehidupan. Termasuk diantara dunia karir, yang tentu saja lebih banyak dalam dunia militer.
Namun, kegamangan macam ini tidak hanya muncul dalam dunia militer saja. Hampir semua pemula dalam berbagai biddang karir dihinggapi sindroma ’ketuk pintu’ ini. Pada tahap awal karir, ketika seseorang mulai menginjak dunia kerja, dia berada pada suasana psikologis untuk mencari ‘jati diri’. Dalam fase ini dia masih berada dalam kegamangan dan selalu bertanya kepada diri sendiri tindakan apa yang dianggap paling tepat dalam mengahadapi situasi kerja tertentu.
Langkah awal perjuangan yang dilakukan adalah mendapat penerimaan dari lingkungan kerjanya, melalui upaya-upaya penyesuaian diri. Dia berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh hasil yang bagus, dan memperoleh pengakuan dari lingkungannya. Situasi akan lebih sulit jika dia langsung berada pada posisi kepemimpian dalam tataran tertentu, yang langsung harus memimpin sejumlah bawahan. Apalagi jika tim itu sudah mapan, dan mereka sudah bergabung di tempat itu sudah lama. Si pemula akan cukup bersyukur jika tidak ’diplonco’.
‘Orang baru’ acap kali memiliki semangat yang menggebu-gebu, harapan yang besar dan cita-cita yang tinggi. Berbagai kendala yang mereka jumpai dalam fase ini terutama berkaitan dengan adaptasi dengan lingkungan kerja. Bagi mereka yang baru lulus dari pendidikan sering mengalami konflik, karena apa yang mereka peroleh di bangku sekolah berbeda dengan kenyataan di lapangan. Sebagian mendapat sebutan sebagai “sok idealis” dari lingkungan pekerjaan.
Berbagai konflik internal dalam diri individu yang menyertai proses adaptasi ini harus mereka selesaikan dengan baik. Terdapat tiga alternatif dasar yang harus mereka ambil berkaitan dengan nilai dan norma di tempat kerja, jika tidak sesuai dengan nilai dan norma pribadi. Ketiga pilihan itu adalah ’pasrah’, kompromi, dan frontal.
Pilihan pertama, menerima mentah-mentah nilai dan norma yang ada, dan mengesampingkan nilai-nilai dan norma pribadi. Dia rela untuk meninggalkan nilai-nilai dan norma yang telah dianutnya, dan memeluk nilai dan norma baru. Kedua, melakukan berbagai kompromi dengan mengambil sebagian nilai dan norma yang berlaku di dunia kerja, walaupun bertentangan dengan nilai pribadi. Dan yang terakhir adalah menolak nilai dan norma itu, karena dianggap tidak sesuai dengan nilai dan norma pribadi. Jika pilihan ketiga diambil maka dia harus angkat kaki dari jalur karir ini dan memilih bidang karir yang selaras dengan nilai dan norma pribadi. Jika seseorang mempunyai idealisme tinggi dan kepatuhan terhadap norma agama yang tinggi, dia akan sesuai dengan bidang-bidang karir yang menanamkan nilai dan norma, seperti di dunia pendidikan.
Berbagai situasi di lingkungan kerja akan mempengaruhi pilihan karir mereka, dengan memilih bidang/bagian yang sesuai dengan minat, keinginan dan bahkan idealismenya. Mereka juga harus membentuk keseimbangan dalam hubungannya antara karir dan dimensi-dimensi lain dalam kehidupannya, seperti perkawinan dan rumah tangga.
Pelan tetapi pasti, individu mulai bersikap realistik, dan orientasi karirnya mulai terarah. Kesadaran bahwa tangga karir harus didaki untuk meraih sebuah tujuan karir, mendorong seseorang untuk membayangkan sebuah jalur karir yang harus dilaluinya untuk mencapai tujuan tersebut.
Tak dapat dipungkiri ’pintu karir’ merupakan salah satu titik strategis yang menentukan dalam mengukir karir sebagai entry level. Di sinilah pengaruh terbesar dalam pembentukan persepsi terhadap dunia kerja. Persepsi ini akan sangat berpengaruh bagaimana sesorang merencanakan karirnya kelak.
Seorang pemegang gelar MBA dengan konsentrasi pemasaran mungkin merasa tidak nyaman ketika diterima bekerja di perusahaan dan ditempatkan di bagian pemasaran ternyata yang diurusi lebih berkaitan dengan penjualan ketimbang pemasaran, atau seorang sarjana dengan konsentrasi Sumber Daya Manusia menangani administrasi personalia sebagai entry level karirnya. Dibutuhkan kesiapan mental para fresh graduate ini, ketika menghadapi realitas yang tidak sesuai dengan harapannya.
Bagaiman mereka bersikap dalam menghadapi entry level ini ? Sebagian diantara mereka menerimanya sebagai bagian dari proses pematangan karirnya. Anggapan mereka, meniti karir dari bawah adalah cara terbaik. mengetahui situasi riil di lapangan yang akan sangat bermanfaat bagi pondasi karirnya. Yang diajarkan di kampus adalah model-model, konsep-konsep yang sangat mungkin sekali mereduksi situasi faktual di lapangan. Situasi yang sebenarnya mempunyai variabel-variabel yang kompleks, yang ketika diangkat ke dalam buku direduksi menjadai variabel-variabel utama. Sehingga cara terbaik untuk berenang adalah nyemplung ke kolam. Penghayatan terhadap situasi riil akan menajamkan insight mereka terhadap suatu masalah, dalam mengambil keputusan, serta bertindak.
Sementara yang lain memilih untuk bergabung dengan perusahaan yang menyediakan program Management Trainee atau program sejenis yang memungkinkankan percepatan karir. Bagi mereka merasakan situasi riil ’di bawah’ tentulah amat penting, tetapi tidak harus terlalu lama. Bagi calon asisten manajer pemasaran yang ’dikarbit’ dari fresh graduate, mungkin perlu merasakan menjadi salesman. Namun ini sifatnya sementara dan sekedar memberi eksposur kepada yang bersangkutan. Hanya sekedar ’mampir’ dalam perjalanan karirnya menjadi asisten manajer.
Alternatif lain adalah pintu masuk horisontal. Misalnya bergabung sebagai staf pimpinan untuk bidang tertentu, yang dalam organisasi tergolong dalam techno-structure. Atau dapat juga bergabung di sebuah perusahaan konsultan yang relevan dengan jenjang karir yang diincarnya. Misalnya menjadi staf pimpinan di bidang Manajemen Sistem Informasi atau bekerja di perusahaan konsultan teknologi informasi. Pintu masuk seperti ini memudahkan untuk menduduki jabatan manajerial. Ketika perusahaan memutuskan untuk membentuk bagian MIS, maka jabatan itu dapat diraih dalam waktu yang relatif cepat. Apa keuntungannya ? Para pemula yang menjadi staf pimpinan atau menjadi konsultan ini, dapat melihat kondisi perusahaan dari atas. Pendek kata mereka memiliki helicopter view terhadap kondisi perusahaan secara keseluruhan.
Jadi semua entry level ada plus-minusnya. Selanjutnya terserah kepada Anda. <KOMPAS>
* Managing Partner The Jakarta Consulting Group
|