logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



Membuat Karir Tumbuh dan Berkembang
A.B. Susanto*


Pada hari ulang tahunnya yang ke tiga puluh tiga Heri mendapatkan banyak pesan pendek (SMS) dari orang-orang terdekatnya. Isinya bermacam-macam, mulai dari yang serius sampai yang membuatnya senyum-senyum sendiri membacanya. Sebagai eksekutif muda yang kemampuannya di atas rata-rata, tidak sedikit pula dari sandek tersebut berisi doa agar karirnya makin kinclong. Pesan dengan kategori terakhir ini membuatnya mengernyitkan dahi. Dari lubuk hatinya yang terdalam ia bersyukur memiliki handai taulan yang begitu peduli padanya, termasuk kehidupan karirnya. Akan tetapi ia tidak dapat membohongi perasaannya sendiri. Makin banyak pesan yang menyinggung kehidupan karirnya, makin mengingatkannya pada ambisinya dalam berkarir yang menurutnya gagal.

Anggapan Heri bahwa karirnya gagal dinilainya dari laju perkembangan karir yang belum mencapai tingkatan yang diincarnya. Sejak awal ia berambisi besar untuk duduk manis sebagai senior manager di departemen yang sudah beberapa tahun ini digelutinya. Departemen yang membawahi bidang yang sudah ia geluti sejak masih di bangku kuliah dan sudah menjadi bagian dari hidupnya. Waktu yang ia patok untuk mencapainya setidaknya pada usianya yang ke tiga puluh tiga. Ia bersungguh-sungguh dalam mencapai ambisinya ini. Termasuk mengesampingkan masalah pernikahan yang belum juga dijalaninya meski kekasihnya sudah berulang kali mengajaknya. Bahkan, nasehat kekasihnya yang mengingatkannya untuk mengurangi kadar workaholic-nya juga tidak begitu digubrisnya. Namun ambisinya ini seakan menemui jalan buntu. Kenyataan yang harus dihadapinya berbicara lain. Menjelang usianya yang ke tiga puluh tiga ini ia justru ‘dibuang’ ke departemen lain. Departemen yang membawahi bidang yang sejujurnya kurang begitu ia minati. Lebih sialnya lagi ia masih tertahan dalam jabatan manajer, tanpa embel-embel senior, bahkan naik grade pun tidak. 

Heri sendiri sebenarnya bukan tipe orang yang gampang menyerah. Sebagai eksekutif yang memiliki kemampuan di atas rata-rata ia optimis mampu bekerja dengan baik di posisinya yang baru. Perasaan dibuang selalu menghantuinya sejak ia mendapatkan dirinya dipindahkan ke bidang yang bukan menjadi minatnya. Perasaannya juga terpukul karena karirnya seperti membentur batu karang. Bukannya mendapat promosi ke posisi yang lebih tinggi tetapi justru dibuang ke bagian lain. Kondisi yang menurutnya lebih buruk dari tertahan di posisinya yang terakhir. Baginya, tertahan di posisi yang terakhir lebih merupakan masalah waktu, dan ia merasa memiliki cukup kesabaran untuk menahan diri. Menahan diri dalam arti berkonsolidasi ke dalam dengan mempersiapkan jurus dan amunisi lain yang lebih ampuh untuk meledakkan karirnya. Membuatnya meroket ke posisi yang diinginkannya. Kondisi dipindahkan ke bagian lain benar-benar membuat egonya terpukul.

Apa yang menimpa Heri tidak jarang kami dapati dalam kapasitas kami selaku konsultan yang menyediakan jasa executive search dan assessment. Fenomena ini lebih sering terjadi pada mereka yang dalam rentang usia dua puluh sampai tiga puluh tahun menuai sukses. Sukses yang ditengarai dengan melesatnya karir mereka secara cepat. Sukses yang menurut anggapan kebanyakan orang di sekitarnya digapai dengan ‘mudahnya’ sehingga membuat orang lain yang harus sabar menapaki tahap demi tahap dalam karirnya merasa iri. Heri dan rekan-rekan senasib mujur ini biasanya memang menonjol di lingkungannya dan ada kecenderungan untuk ambisius. Karakteristik ini sah-sah saja karena memang didukung oleh prestasi, apalagi usia mereka juga masih muda. Usia yang penuh gejolak dan dinamika.

Di sisi lain, kesuksesan yang mereka raih dengan cepat ini tidak jarang melenakan. Dalam keterlenaan ini mereka memiliki persepsi tersendiri terhadap bangunan karir. Dalam kaca mata meteor karir ini, bangunan tangga karir ibarat tangga yang terbuat dari dua tegakan bambu dengan anak-anak tangganya yang lurus menjulang ke atas. Dalam menapaki tangga ini orientasinya selalu ke atas dengan kemungkinan yang dihadapi hanyalah naik ke anak tangga di atasnya, tertahan di suatu anak tangga, atau jatuh tergelincir. Waktu yang diperlukan dalam pencapaian tujuan akhir tergantung pada seberapa tegak tangga didirikan. Makin tegak tangga, maka makin cepat tujuan dapat dicapai. Dengan demikian tidak salah jika dikatakan perspektifnya linier secara vertikal.

Dalam kondisi normal, secara sepintas perspektif ini terlihat naif kalau tidak dapat dikatakan konyol. Hanya saja, fenomena ini sering tidak disadari penganutnya sampai ia mengalami benturan seperti halnya yang dialami Heri. Ambisi yang terlalu tinggi acap kali menjadi tabir bagi ego. Berbekal perspektif liniernya, karir yang melandai bagi seorang Heri berarti kegagalan.  Padahal dengan perspektif yang lebih luas (lateral perspective), apa yang dialami Heri jauh dari kategori gagal. Dalam perspektif lateral, perkembangan karir tidak melulu harus dalam pergerakan ke vertikal. Pergerakan mendatar (horisontal) dapat menjadi perkembangan yang menjanjikan untuk karir di kemudian hari.  Bukankah pergerakan karir secara mendatar berarti perubahan pekerjaan tanpa mengurangi benefit berupa materi yang didapat, status, dan juga tingkat tanggung jawab?  Dengan demikian, perkembangan karir ini justru berpotensi memperluas pijakan melalui pengetahuan dan kemampuan baru yang didapatnya sehingga mengembangkan kompetensi baru yang tadinya belum dimiliki.

Fokus pada bidang yang diminatinya saja akan menjadikan Heri spesialis di bidangnya. Padahal untuk dapat menjadi senior manajer di perusahaan tersebut, kompetensi yang terlalu spesifik di satu bidang dan ’buta’ di bidang lainnya sering kali tidak mencukupi. Mengikuti pelatihan atau belajar autodidak semata di bidang lain juga tidak menjamin seseorang untuk kompeten di bidang tersebut, lain halnya dengan terjun langsung. Awalnya memang seperti dipaksakan dan lazimnya perubahan dari suatu zona nyaman memang membutuhkan adaptasi. Tetapi dengan kemampuan yang dimilikinya, Heri berpotensi besar untuk dapat mengembangkan diri dengan menjalani tour of duty itu secara sungguh-sungguh. 

Perkembangan karir ini bagus bagi Heri dalam rangka mendapatkan job enrichment sekaligus job enlargement. Sebagai konsekuensinya, selain kesempatan untuk melakukan eksplorasi terhadap kemampuan yang belum terejawantah secara optimal dan merambah bidang baru juga didapat kontak dalam jejaring yang skalanya lebih luas. Demikian juga dengan lebih luasnya perspektif yang terbangun. Secara positif, proses ini dapat berkorelasi pada peningkatan tanggung jawab dan otonomi. Secara makro dapat dikatakan bahwa proses ini dapat menghubungkan antara kebutuhan organisasi dan kebutuhan personal. Dari sisi personal, mulusnya proses ini dapat meningkatkan kepercayaan diri Heri dalam pencapaian performa. Modal yang tidak kecil untuk menatap masa depan yang lebih baik dan lebih indah, bukan?

Jika Anda adalah Heri, masihkah Anda menganggap tertahan di posisi yang sama lebih baik daripada perkembangan karir secara horisontal? <Male Emporium>


* Managing Partner The Jakarta Consulting Group