logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



Motivasi & Kompetisi
A.B. Susanto*


Dalam mendaki tangga karir terdapat tiga kata kunci yang harus mendapat perhatian utama dan tidak boleh terlupakan  yaitu motif, motivasi, dan kompetisi. Ilustrasi ini dapat menjelaskan betapa pentingnya ketiga kata itu, bagi pencapaian karir Anda.

Jika Anda mendaki gunung, apakah yang paling Anda perlukan ? Bekal makanan, peralatan, atau ketrampilan ? Tentu semuanya penting, tapi yang paling penting: apa yang menjadi alasan mengapa harus mendaki gunung. Jika alasan mendaki gunung hanya sekedar untuk coba-coba, sedikit saja mengalami rintangan maka perjalanan tidak akan dilanjutkan. Pendakian pun berlangsung santai, dan tidak ngotot untuk sampai ke puncak dengan cepat.

Lain lagi jika alasannya adalah untuk mengukir prestasi. Apakah menjadi orang yang pertama mencapai puncak gunung itu, atau waktu pendakian tercepat, maupun mengukir nama kelompoknya.  Maka pendakian gunung akan dipersiapkan dengan matang, direncanakan dengan cermat dan dilakukan dengan penuh semangat. Juga tidak mudah menyerah terhadap tantangan dan rintangan yang ditemui. Masalah waktu juga dipertimbangkan dengan baik.

Mendaki gunung memang dapat didorong oleh bermacam alasan. Misalnya dilakukan oleh para pengungsi untuk menghindari bencana alam, kerusuhan atau perang. Para pendaki gunung yang didorong oleh rasa takut dan cemas ini juga mempunyai semangat yang sangat tinggi. Mereka akan mendaki gunung dengan secepat mungkin, dengan energi yang luar biasa besar untuk segera mencapai daerah yang dianggapnya aman. Walaupun tujuannya pertama kali adalah mendaki sampai puncak gunung, ketika mereka sudah menemukan tempat yang dirasakan aman, mereka akan ‘berkompromi’ degan tujuan yang ditempatkan semula.  

Mengapa seseorang mendaki gunung, inilah yang disebut sebagai motif. Pada kisah yang pertama motifnya adalah coba-coba. Tujuannya mendaki gunung. Pada motif yang hanya coba-coba pendakian tidak dilakukan dengan serius, semangat ala kadarnya, dan segera kembali jika menghadapi rintangan. Atau dengan kata lain motivasinya rendah.

Pada kisah yang kedua motifnya adalah untuk mengukir prestasi. Walaupun tujuannya sama, yaitu ke puncak gunung, tapi persiapannya dilakukan dengan matang, pelaksanaannya dilakukan dengan cermat dan penuh semangat, dan tidak mudah menyerah. Dengan kata lain  motivasinya tergolong tinggi.

Pada kisah ketiga motifnya adalah mencari rasa aman. Walaupun tujuannya ke puncak gunung, jika dia menemukan tempat yang aman, dia akan berhenti dan tidak melanjutkan perjalanannya ke puncak gunung. Dengan kata lain motivasinya cukup tinggi untuk mendapatkan rasa aman. Tetapi ketika rasa aman itu sudah didapat motivasinya tidak lagi tinggi. Mereka adalah para survivor.

Jika motifnya untuk mengukir prestasi maka kegiatan dilaksanakan secara terencana, semangat tinggi, dan sikap tidak mudah menyerah sampai tujuannya tercapai yang dapat kita sebut sebagai achiever.

Berkaitan dengan pencapaian karir, acap dalam mendaki tangga karir dilandasi oleh beberapa motif sekaligus, tidak hanya motif tunggal. Seseorang terdorong untuk  mencapai suatu posisi dilandasi oleh motif mencapai prestasi, memenuhi rasa aman dan penghargaan dari lingkungan. Namun diantara berbagai motif itu terdapat motif yang paling dominan yang melandasi seseorang dalam mendaki tangga karir.

Termasuk hitungan yang manakah Anda, achiever, survivor atau yang angin-anginan ? Saya yakin Anda bukan tergolong yang terakhir. Motifnya hanya iseng-iseng saja,  pelaksanaannya kurang serius dan mudah menyerah jika mendapat rintangan. Jika Anda menjalani karir dengan motif coba-coba, motivasinya menjadi rendah, dan keterikatan tujuan longgar.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temui para survivor. Para petani yang berangkat subuh pulang petang. Mereka bekerja keras membanting tulang agar survive. Terbatasnya pengetahuan, ketrampilan dan peluang yang mereka miliki, karirnya hanya berhenti di tempat.  namun di sisi lain, seorang  petani dengan situasi yang sama, di tengah segala keterbatasannya, dapat pula jauh lebih maju dari petani lainnya dan sangat layak disebut sebagai achiever.

Achievement adalah bagaimana agar apa yang dilakukan hari ini lebih dari kemarin atau lebih baik dari orang lain. Jika kita mengharuskan diri kita untuk lebih baik dari kemarin berarti kita berpacu dengan diri kita sendiri. Sementara jika kita ingin lebih baik dari yang lain berarti kita berkompetisi dengan orang lain. Kompetisi merupakan salah satu pemicu kemajuan. Melalui kompetisi orang berlomba untuk mencapai sesuatu yang lebih baik, agar dapat mengungguli lainnya. Dorongan untuk berkompetisi (secara sehat dan konstruktif)  sangat dibutuhkan oleh dunia karir, karena tempat kita bekerja, terutama dunia bisnis adalah dunia persaingan.

Dalam mendaki jenjang karir selain harus menjaga api motivasi dalam diri agar terus berkobar, juga mesti pandai-pandai untuk menyulut motivasi orang lain. Seorang manajer harus pandai menjaga motivasi bawahannya. Tidak hanya kepada bawahannya, kepada pihak lain  pun sering kali juga harus menularkan kobaran api motivasi ini. Seorang penjual akan mulus jalan karirnya jika punya kemampuan untuk memotivasi calon pembelinya. Seorang penceramah akan sukses jika berhasil menjaga motivasi pendengarnya.

Bagaimana  menjaga api motivasi bawahan kita  ?  Yang terpenting tentu menjaga api motivasi kita terlebih dahulu. Jika kita sendiri mengalami demotivasi, tentu sulit untuk memotivasi orang lain.  Bagaimana mungkin  kita menyulut api motivasi orang lain, sementara api kita sendiri padam. Diri kita harus menjadi role model yang positif, yang menjadi contoh bagi anak buah kita.  Pancaran antusiame akan membuat orang terkesima dan tergerak. Inti dari manajemen adalah ‘menggerakkan’ orang lain sesuai dengan tujuan.

Persoalannya dalam diri  manusia terdapat dinamika  kejiwaan. Ada saat-saat tertentu motivasi  kita berada di tubir jurang.  Perlu dilakukan  pemulihan motivasi (self re-motivation). Metode untuk self re-motivation meliputi tiga langkah dasar, yaitu : self monitoring, self evaluation, dan self reinforcement.

Self monitoring
Melakukan observasi dan pemantauan terhadap apa yang telah dilakukan selama ini.  Mengapa mengalami penurunan motivasi ?  Mengapa menjadi tidak bersemangat dan tidak melakukan sesuatu yang dapat “mengubah” keadaan dan posisi diri ?   Berdasarkan observasi terhadap diri sendiri, ditentukan apa yang merupakan tindakan, kebiasaan, sikap yang  kita anggap sebagai perbuatan yang harus dirubah. Apakah itu negative thinking, sikap yang pesimis, menyalahkan keadaan, mengasihani diri sendiri, menunda-nunda, menggantungkan diri pada pihak lain.

Self evaluation
Langkah kedua adalah self evaluation. Berdasarkan pemantauan dan observasi diri ini ditentukan apa yang ingin diubah dan ingin dicapai (performance criterion). Kemudian kita  membandingkan antara apa yang telah kita lakukan dan apa yang ingin dicapai (performance criterion) tersebut. Kemudian kita akan menentukan tindakan-tindakan apa yang harus kita lakukan untu memenuhi criterion tersebut.

Self reinforcement
Langkah ketiga adalah self reinforcement, dengan menyusun reward  atau punishment bagi diri kita sendiri.  Jika kita telah berhasil merubah satu butir kebiasaan, sikap atau tindakan, berilah  reward kepada diri sendiri. Sebaliknya jika kita masih melakukan kebiasaan yang seharusnya sudah kita tinggalkan, maka kita harus  ‘menghukum’  diri kita.

Jadi jika suatu saat Anda mengalami demotivasi, ini adalah bagian dari dinamika kejiwaan manusia. Tapi jangan biarkan kejadian ini berlarust-larut dan menghancurkan karir Anda. Segera lakukan tindakan untuk memulihkannya. <Male Emporium>


* Managing Partner The Jakarta Consulting Group