logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



Orientasi Karir
A.B. Susanto*


Seorang sekretaris yang telah bekerja selama sepuluh tahun, dan telah menduduki posisi Senior Secretary bertanya kepada dirinya sendiri apakah sepuluh tahun lagi saya akan tetap menjadi sekretaris. Pada kenyataannya, seorang yang pada awal karirnya menduduki posisi sekretaris, kemudian melewati banyak situasi dan peluang yang terhampar selama menyusuri  perjalan karirnya dapat berbelok, dan banyak diantaranya yang melompat menduduki jabatan manajerial. Tetapi banyak pula yang setia di jalur profesi sekretaris, karena telah merasa menjadi panggilan jiwanya.

Pertanyaan yang sama juga dapat dipertanyakan kepada seorang guru, apakah seorang guru harus menjadi  kepala sekolah,  penilik sekolah dan seterusnya ? Bagaimana dengan profesi dokter?  Ahli perpustakaan ?  Kesimpulan : jalur karir tidak harus bersifat hirarkis.

Ada sebuah cerita menarik bagaimana seorang sopir truk dapat begitu bangga dengan karirnya sebagai supir truk. “Saya mulai bekerja untuk Mr. Walton tahun 1972, ketika dia hanya memiliki 16 traktor di jalan. Pada bulan pertama, saya mengikuti pertemuan keselamatan pengemudi, dan saya tak pernah melupakan kata-katanya, ‘Kalau kalian mau bekerja untukku selama 20 tahun, saya jamin kalian akan memiliki $ 100.000 dari program bagi hasil. Saya pikir waktu itu, ‘Ah, masak, Bob Clark akan memiliki uang sebanyak itu sepanjang hidupnya.’ Saya lebih mengkhawatirkan penghasilan saya waktu itu. Ketika terakhir saya memeriksa account saya, saya telah memiliki $ 707.000 dari program bagi hasil ini, dan saya yakin akan bertambah lagi nanti. Ketika orang bertanya apakah saya senang bekerja di Wal-Mart, saya katakan pada mereka bahwa saya pernah bekerja untuk perusahaan lain yang sudah mereka kenal selama 13 tahun, dan hanya mendapatkan $ 700. Lalu saya katakan jumlah yang dapatkan dengan program bagi hasil, dan saya balik bertanya, ‘Kira-kira menurut pendapat kalian, bagaimana perasaan saya   terhadap Wal-Mart?’”  

Kisah  Bob Clark, seorang sopir truk Wal-Mart di Bentonville, Arkansas ini tentu sudah diulang berkali-kali, untuk menggambarkan betapa hebatnya “karir” di Wal-Mart, sehingga seorang sopir truk pun dapat membanggakan dirinya.  Masalah karir untuk posisi death job seperti yang dialami oleh Bob Clark tentu menjadi masalah tersendiri bagi yang bersangkutan dan bagi perusahaan.  Inti solusi yang diterapkan dalah jumlah penghasilan yang diperoleh. Kesimpulannya : posisi dan jenis pekerjaan boleh tetap, tetapi penghasilan meningkat. Tetapi tentu saja tidak semua sopir truk seberuntung dia, yang bekerja di perusahaan yang tumbuh demikian cepat. Coba kita renungkan beberapa pertanyaan ini.

Ketika Anda mulai memasuki dunia kerja untuk pertama kali sudahkah terbayangkan kelak ketika usia memasuki senja, jabatan apakah yang anda pegang ? Tentu hal ini tidak mudah karena 20 atau 30 tahun lagi situasi mungkin sudah berubah sama sekali. Meramalkan jabatan  apa saja yang akan kita pegang selama perjalanan hidup kita memang tidak mudah. Kesimpulan : kita tidak akan pernah mengetahui ‘ujung’ dari perjalanan karir kita, karena perubahan yang demikian cepat. Perubahan yang cepat menjadikan asumsi-asumsi yang kita pakai untuk meramalkan masa depan menjadi tidak valid.

Pada waktu kita masih anak-anak,  jika kita ditanyai mengenai apa cita-cita kita maka jawabannya sering kali sangat tipikal,  seperti dokter, insinyur, petani. Jawaban itu muncul karena wawasan yang dimiliki oleh anak kecil memang belum luas. Jika seorang ABG ditanya tentang karirnya mungkin karir yang menarik kemungkinan terbesar adalah menjadi  penyanyi, pemusik, peragawati, foto model atau olahragawan. Ketika menginjak dewasa pilihan karirnya akan semakin realistis sesuai dengan situasi lapangan kerja yang ada dan kemampuan yang dimiliki. ABG tentu tidak memperhitungkan bahwa karir sebagai penyanyi, olahragawan atau peragawati merupakan sedikit dari banyak sekali pilihan karir yang tidak menggambarkan realitas lapangan kerja yang sesungguhnya. Karir seperti peragawati misalnya, juga membutuhkan persyaratan fisik tertentu yang hanya dimiliki oleh sejumlah kecil orang. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan, wawasan pun berkembang. Kesimpulan : cita-cita, harapan dan keinginan berkaitan dengan karir akan selalu berubah seiring dengan kedewasaan dan pengalamannya.      

  
Seringkali kita juga menjumpai orang-orang yang sukses dalam karir tetapi tidak sesuai dengan pendidikan yang ditempuhnya. Seorang dokter yang menjadi manajer  pemasaran. Dan masih banyak contoh lainnya. Lantas bagaimana kita mengetahui kita akan melangkah kemana? Yang  terpenting adalah orientasi karir. Orientasi karir mungkin tidak secara spesifik menyebut jabatan tertentu karena kita tahu seiring dengan situasi ekonomi  yang berubah dengan cepat, maka posisi-posisi yang tersedia di lapangan kerja juga berubah, dan seringkali tidak dapat kita prediksi. Dengan orientasi karir yang jelas kita tidak akan kehilangan akal karena sudah mengetahui bayangan mengenai jalur karir kita. Orientasi karir menjadi semacam grand design bagi karir kita.

Bagaimana cara mengeksplorasi orientasi karir kita? Pertama yang harus dilakukan adalah mengeksplorasi riwayat karir kita, yang dimulai dari jabatan yang kita pegang pada saat ini. Tuliskan tugas-tugas pokok yang anda pegang pada posisi saat ini termasuk jumlah staf dan kepada siapa anda bertanggungjawab. Kemudian bertanyalah pada diri anda sendiri, apa yang menjadi tujuan yang paling prinsip ketika Anda memangku jabatan ini dua tahun terakhir ini. Misalnya masalah finansial, status sosial , pengembangan diri dan lain-lain. Kemudian galilah bidang-bidang kekuatan yang anda anggap relevan dengan keberhasilan untuk mencapai tujuan tersebut. Sebaliknya juga identifikasi bidang-bidang yang anda anggap sebagai kelemahan dan mengganggu pencapaian tujuan tersebut.

Kemudian lakukanlah analisa terhadap karir anda. Pelajari prestasi-prestasi utama apa yang anda raih dalam karir anda selama ini. Dari prestasi-prestasi yang anda capai itu anda dapat merasakan suatu benang merah diantara prestasi-prestasi itu. Prestasi ibarat atol   yang berada di tengah lautan luas.  Atol bagai sebuah  puncak gunung yang nampak di permuakaan air. Demikian pula prestasi, merupakan sebuah pucuk dari kemampuan, keterampilan, pengetahuan dan sikap anda. Jika anda merangkai diantara pucuk-pucuk   prestasi itu maka akan terbentuk suatu jalur prestasi, yang menggambarkan kemampuan dan minat Anda. Seperti jika anda berlayar dari suatu pulau ke pulau yang lain maka terbentuklah rute.

Kemudian telusuri dalam menjalani karir selama ini,  apakah yang anda lihat sebagai kekuatan maupun kelemahan. Di sini anda akan melihat karakteristik pribadi yang dapat anda tengarai sebagai kekuatan anda dalam berkarir, misalnya jika anda berkarir dibidang pemasaran atau penjualan anda menemukan bahwa kepribadian anda yang ekstrovert, ramah, suka bergaul dan banyak teman merupakan penunjang karir anda atau anda menyadari bahwa ketekunan, kerseriusan yang dimiliki ternyata sangat menunjang karir anda menjalankan profesi akuntan. Demikian juga ada identifikasi yang berkaitan dengan karakter pribadi yang dapat mengganggu karir anda. Anda harus menelisik lebih jauh skills yang merupakan kekuatan anda, dan sebaliknya juga mengidentifikasi skills-skills yang menurut Anda kurang.

Persoalan berikutnya yang harus anda pelajari adalah kepuasan dalam berkarir. Karena kepuasan ini menunjukkan sejauh mana minat anda, serta dapat memacu motivasi untuk meraih prestasi yang lebih tinggi. Jika kepuasan anda terhadap pekerjaan pada saat ini masih rendah maka motivasi anda akan turun, kurang bergairah dalam bekerja, dan prestasi kerja tidak optimal. Prestasi kerja yang tidak optimal akan menurunkan kepuasan kerja anda lebih parah lagi anda menjalani pekerjaan sebagai sebuah siksaan. Dalam batas-batas tertentu akan menimbulkan stress. Sangat penting kiranya jika anda memiliki inisiatif-inisiatif untuk meningkatkan kepuasan kerja anda. Apakah inisiatif yang telah anda lakukan untuk meningkatkan kepuasan kerja?

Salah satu hal yang terpenting adalah menggali aspirasi karir anda. Tanyakanlah pada diri anda sendiri apa pekerjaan selanjutnya yang ingin anda capai dalam perusahaan anda sekarang, dan lebih rinci lagi itu harus terencana kapan. Dan berdasarkan hal ini,  tentukan tindakan apakah yang harus dilakukan untuk mengembangkan diri. <Male Emporium>


* Managing Partner The Jakarta Consulting Group