Prospek Karir 2003
A.B. Susanto*
Apa yang membedakan tahun 2003 dengan tahun-tahun sebelumnya, berkaitan dengan dinamika karir ? Berlakunya AFTA ! Jika menengok berita media masa tersirat sejumlah kekhawatiran ketidaksiapan Indonesia dalam menghadapinya. Berlakunya AFTA berarti lebih bebasnya pertukaran barang dan jasa di lingkup regional. Tenaga kerja adalah salah satu bentuk jasa. Hal ini berarti kompetisi antara tenaga kerja lebih terbuka, karena tenaga kerja dari negara ASEAN lainnya juga lebih bebas masuk ke negara kita. Ini artinya secara langsung atau tidak langsung, lambat atau cepat akan berpengaruh terhadap dinamika karir.
Tekanan kepada perusahaan dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat seiring dengan berlakunya AFTA, juga mempengaruhi. Perusahaan tidak akan memberi toleransi kepada karyawan yang tidak dapat memberi kontribusi bagi daya saing perusahaan. Artinya perusahaan hanya mampu memberi tempat bagi karyawan yang dianggap benar-benar kompeten. Sebaliknya perusahaan tidak segan-segan memberi nilai lebih bagi karyawan yang kompeten.
Jadi bagaimana prospek karir tahun 2003, cerah atau buramkah ? Perubahan ini tentu menyimpan tantangan sekaligus peluang. Bagi seorang yang pesimis, seorang yang memiliki cara berpikir negatif dan tidak memiliki kepercayaan diri tentu menganggapnya sebagai ancaman. Tahun depan adalah tahun yang buram dan sangat mengkhawatirkan bagi masa depan karirnya.
Sebaliknya bagi orang yang optimis dan berpikir positif, tentu akan mengatakan bahwa tahun depan terhampar kesempatan yang luas. Betapa tidak, akan banyak perusahaan yang membutuhkan orang-orang yang kompeten untuk menunjang performansi perusahaannya. Akan banyak tersedia peluang bagi orang-orang yang ingin maju dan mampu mengembangkan kompetensinya dengan baik.
Ambil contoh seorang sarjana hukum. Sarjana hukum yang kompetensinya pas-pasan akan sulit mencari pekerjaan, apalagi mengembangkan karirnya. Sebaliknya seorang legal officer di sebuah perusahaan yang sudah terbiasa menangani berbagai perjanjian dengan pihak lain akan sangat dibutuhkan oleh perusahaan. “Harganya” di pasaran akan sangat tinggi. Jika perusahaan tidak bersedia memberikan imbalan yang menarik dengan mudah dia berpindah ke perusahaan lain, karena memang sedang dibutuhkan. ‘Harga’ ini terkerek semakin tinggi jika dia memiliki kompetensi dalam perjanjian yang berkelas global. Lihat juga para pengacara top yang memasang banderol setinggi langit. Sebagian besar dari mereka mengembangkan kompetensinya melalui learning by doing.
Kesimpulannya ? Tahun mendatang yang makin kompetitif, jangan dipandang sebagai ancaman. Justru harus dianggap peluang dimana kita dapat berkompetisi agar dapat mendaki tangga karir yang lebih tinggi.
Namun berbekal rasa optimis belaka dan modal nekad doang tentu bukan tindakan yang bijaksana. Mesti ada strategi dan taktik, agar upaya yang dicapai sampai ke sasaran. Jadi untuk menghadapi dinamika karir yang kompetitif pada tahun mendatang terdapat beberapa langkah. Pertama, lakukan kajian terhadap lingkungan karir Anda. Kedua, lakukan kajian orientasi karir. Dan ketiga, kembangkan kompetensi Anda.
Dalam menganalisa lingkungan karir terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan. Apakah karir Anda rentan terhadap ‘pendatang baru’ (lulusan baru atau tenaga kerja dari luar negeri) ? Seberapa besar tingkat persaingan pada jalur karir Anda ? Seberapa besar bargaining position Anda pada jalur karir ini ? Bagaimana masa depan karir ini, apakah tetap dibutuhkan di masa mendatang (misalnya, kasir bank akan tergantikan oleh ATM)? Jika jawabnya banyak yang negatif, Anda perlu mempertimbangkan reorientasi karir. Lingkungan karir yang tidak mendukung ini, tentu bukan lahan yang baik untuk menyemai karir Anda. Reorientasi karir juga layak dilakukan, jika minat dan bakat tidak sesuai dengan tuntutan karir. Jika Anda merasa pengembangan karir Anda mentok, karena sesungguhnya Anda kurang berminat atau Anda merasa bakat Anda kurang mendukung pasang kuda-kuda untuk banting stir.
Dan ketika orientasi karir Anda sudah sesuai, langkah yang tak boleh terlewatkan adalah mengembangkan kompetensi secara terus menerus dan berkesinambungan. Karena salah satu inti dalam meniti jenjang karir adalah seberapa jauh kita memiliki kompetensi seperti yang dituntut oleh jenjang karir yang lebih tinggi. Jika ternyata kita memiliki kompetensi yang dipersyaratkan oleh suatu jabatan dan ternyata kompetensi kita memang lebih baik dibandingkan dengan calon-calon yang lain, kemungkinan untuk menduduki jabatan tersebut berada di pelupuk mata.
Lantas siapakah orang yang dianggap kompeten dalam suatu bidang pekerjaan tertentu ? Yaitu orang yang memiliki kinerja yang sangat bagus (superior performance). Superior performer ini kemudian dilihat : ciri-ciri apakah yang menunjang pencapaian prestasinya. Prestasi diibaratkan sebagai sebuah pulau kecil di tengah samudera, dimana hanya puncaknya saja yang kelihatan di permukaan laut tetapi di bawahnya ada lereng gunung. Nah, lereng gunung yang besar inilah yang dilihat dari sisi knowledge, skills, dan attitude.
Jadi jika anda ingin mengembangkan kompetensi Anda, sehingga Anda benar-benar dapat menjadi orang yang kompeten dalam bidang pekerjaan Anda, anda harus memperhatikan ketiga aspek tersebut. Anda tidak dapat misalnya, hanya meningkatkan knowledge saja tetapi mengabaikan dua yang lainnya.
Dalam bahasa sehari-hari dikenal istilah hard skills dan soft skills. Hard skills adalah istilah yang dipakai untuk menjelaskan kompetensi-kompetensi yang terkait langsung dengan pekerjaan kita. Misalnya keahlian dalam membuat program bagi programmer. Sedangkan soft skills adalah keahlian yang menunjang hard skills tersebut. Soft skills ibaratnya adalah kompetensi yang membungkus kompetensi inti yang dimiliki, misalnya interpersonal skills, communication skills, presentation skills, negotiation skills, dan lain-lain.
Hard skills ini selalu dikembangkan itu sudah menjadi kesadaran semua orang. Tetapi kadang-kadang kita melihat mengapa seseorang yang technical skills- nya sangat tinggi tetapi karirnya sulit berkembang. Justru orang dengan technical skill yang hanya sedikit di atas rata-rata, karirnya dapat melejit lebih cepat. Setelah ditelusuri ternyata social skillsnya lebih baik. Ia dapat mempersuasi dengan meyakinkan, teknik presentasinya bagus sehingga ide-idenya mudah diterima dikalangan internal organisasi khususnya para pimpinan puncak perusahaan, maupun di kalangan eksternal organisasi. Dengan demikian exposurenya menjadi luas dan ide-idenya lebih mungkin untuk terealisasi.
Sebaliknya dengan orang yang technical skills-nya tinggi, tetapi sulit bekerja sama dengan orang lain, tidak dapat mengutarakan ide-idenya dengan jernih dan tidak mampu mempersuasi orang lain untuk mendukung ide-idenya. Sehingga dalam kenyataannya potensi yang telah dimiliki tidak dapat diwujudkan menjadi actual performance. Alangkah idealnya jika seiring dengan pengembangan hard skills juga dilakukan pengembangan soft skills.
Dengan dua senjata ini, Anda akan siap untuk melintasi samudera kompetisi Pasca AFTA 2003. <Male Emporium>
* Managing Partner The Jakarta Consulting Group
|