Simbol Status & Manajemen Image
A. B. Susanto*
Terdapat ironi dalam krisis yang menerpa tanah air kita. Ketika krisis ekonomi belum sepenuhnya berlalu, mobil-mobil mewah berseliweran di Jakarta. Ini tentu tak lepas dari kesepakatan yang didikte oleh IMF, dan berdampak terhadap regulasi yang mengijinkan impor mobil-mobil mewah. Tetapi mengapa orang begitu ‘ngebet’ untuk memiliki mobil mewah ? Bahkan bagi sebagian orang, atau profesi tertentu kepemilikan mobil mewah merupakan menu wajib.
Beragam motivasi yang melatari hasrat untuk memilik mobil mewah, yang semuanya tidak terlepas dari kondisi sosial psikologis masyarakat. Mari kita telisik lebih jauh fenomena sosial ini.
Fenomena ini pokok pangkalnya adalah stratifikasi sosial, yang sejak lahirnya perdaban sudah ada dan berlaku dimana-mana, di Romawi maupun di Mojopahit. Kenyataannya sampai saat ini tetap eksis, sekali pun telah digugat dalam perang ideologi yang menimbulkan banyak korban. Inilah yang jamak terjadi dalam sebuah masyarakat, sebuah struktur sosial yang terdiri lapisan-lapisan : dari lapisan teratas sampai lapisan terbawah. Inilah yang dipandang tidak adil dan digugat oleh komunisme. Dan gugatan itu ternyata tidak berhasil dengan robohnya sistem komunisme.
Sementara di kubu yang lain, menganggap pelapisan sah-sah saja. Persoalannya adalah bagaimana cara memperolehnya. Status sosial haruslah diperjuangkan (achieved) danbukannya karena diberi atau berdasarkan garis keturunan (ascribed). Selayaknya status sosial merupakan penghargaan masyarakat atas prestasi yang dicapai oleh seseorang. Jika seseorang telah mencapai suatu prestasi tertentu, ia layak di tempatkan pada lapisan tertentu dalam masyarakatnya. Semua orang diharapkan mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih prestasi, dan melahirkan kompetisi untuk meraihnya. Inilah prinsip dasar dari meritokrasi, yang tentu saj dalam kenyataan tidak seindah dan sesempurna landasan pemikirannya. Artinya belum tentu orang yang berprestasi dapat mendaki jenjang kelas sosial yang tertinggi, dan begitu pula sebaliknya : orang-orang yang berada di lapisan atas tidak dapat dipastikan telah memiliki prestasi tertentu yang layak mendapat penghargaan istimewa dari masyarakatnya.
Dalam masyarakat kosmopolit yang pluralistik, status sosial ini dengan mudah dapat ‘dimanipulasi’. Dalam masyarakat metropolis tidak mudah melacak status sosial ‘sebenarnya’ dalam hirarki sosial. Seseorang mempunyai pilihan apakah dia ingin memproyeksikan diri sesuai dengan resources yang dimiliki, atau dengan memilih memproyeksikan diri “lebih tinggi” dari seharusnya, atau mungkin justru bersikap low profile dengan memilih memproyeksikan “lebih rendah” dari yang seharusnya. Semuanya mengandung konsekuensi tersendiri.
Kemudahan ini didukung oleh betapa gampangnya seseorang memproyeksikan status sosial tertentu berdasarkan simbol status yang dimiliki. Merek-merek universal semacam Rolex, Burberrys, Giorgio Armani, Montblanc telah menjadi “bahasa” untuk mengatakan status sosial tertentu. Tujuan pemakaian simbol-simbol status ini adalah memproyeksikan citra diri seseorang agar dipersepsi sebagai bagian dari kelas sosial tertentu.
Nah, disinilah masalahnya. Jika kita tampil ‘di bawah’ yang seharusnya kita proyeksikan, tentu kita kehilangan respek dari yang seharusnya menjadi ‘hak’ kita. Respek dari orang lain, selain dapat memuaskan dahaga akan penghargaan dan perhatian dari orang lain, tetapi juga membuka kesempatan untuk mengembangkan karir atau prestasi kita.
Perlukah kita memproyeksikan image lebih tinggi dari pada seharusnya ? Jawabnya bisa beragam. Bagi pendaki karir seperti sales barang mewah, memang penting. Karena yang mereka hadapi adalah orang-orang yang status sosialnya tinggi. Bukankah sedapat mungkin mereka harus mendapat respek dan menjembatani kesenjangan kelas. Tapi mesti diingat, simbol status hanyalah salah satu komponen proyeksi citra diri. Yang lebih penting adalah cara dalam berkomunikasi verbal maupun non verbal, bagaimana kita bertutur sapa, menggunakan bahasa tubuh, memahami etiket dan aspek-aspek lain pendukung image projection.
Nah, kembali ke awal tulisan ini, kenapa mobil mewah sekarang begitu di gandrungi orang. Cerita di atas dapat ikut menjelaskan. Mobil adalah simbol status yang paling menonjol. Sejak jaman Mataram tunggangan (turangga) – yang pada waktu itu kuda atau kereta berkuda – sudah mapan menjadi simbol status. Jika dahulu orang cukup puas dengan mobil mewah eks KTT, eks kedutaan dan sejenisnya, sekarang orang dapat memiliki mobil mewah baru secara resmi. Apalagi dengan makin berkibarnya importir umum (IU) yang bebas melakukan impor mobil berbagai merek dan tipe. Dan simbol status yang satu ini laris manis.
Nah, apa hubungannya dengan krisis ? Krisis ekonomi dan politik, seperti yang kita ketahui, telah membuat stratifikasi social yang telah mapan menjadi goyah. Banyak OKL (orang kaya lama) bertumbangan dan mengalami social sinking, penurunan kelas sosial. Sebagian lagi dapat bertahan, bahkan dapat menyiasati dan menarik keuntungan dari krisis. OKL yang mengalami social sinking maupun yang tidak terpengaruh, perlu memproyeksikan diri bahwa mereka bukan tergolong orang yang terkena imbas krisis. Mereka membutuhkan simbol status yang dapat menunjukkan bahwa mereka tidak goyah oleh krisis, dan kepemilikan mobil mewah merupakan salah satu simbolisasi kemapanan.
Krisis politik juga menghasilkan tatanan sosial - politik - ekonomi yang baru. Perubahan pusaran kekuasaan membuka peluang bagi sebagian golongan masyarakat – terutama para politisi - untuk mendaki tangga sosial (social climbing). Mereka yang dahulu terpinggirkan, sekarang berada di pusat kekuasan yang memberi akses ekonomi lebih besar. Mereka membutuhkan sarana ekspresi diri untuk menunjukkan kesuksesan mereka, diantaranya dengan kepemilikan mobil mewah sebagai simbol status yang paling ekspresif.
Krisis kemarin juga melahirkan OKB (orang kaya baru). Sebagian orang dengan cepat dan mudah berhasil mengumpulkan kekayaan, apakah karena kecerdikan berinvestasi, keberuntungan, koneksi dan faktor-faktor lain yang berhubungan situasi pada saat krisis. Mereka dengan ringan dapat membeli mobil mewah sebagai pernyataan terhadap statusnya yang baru.
Beberapa motif lain juga dapat dicatat. Karena tidak sedikit pula yang membeli karena memang mempunyai hobi otomotif, yang di masa lalu tidak kesampaian. Atau seperti pengacara untuk mendongkrak image, agar dapat masuk peringkat pengacara yang berhonor tinggi dan menjadi justifikasi kenapa mereka harus dibayar mahal.
Sekarang pertanyaannya dimana batasan kita untuk memproyeksikan diri ? Yang jelas adalah jangan sampai besar pasak daripada tiang. Godaan untuk memiliki simbol status – seperti mobil mewah – sangatlah besar, karena akan mengundang decak kagum. Kita mesti menganalisis diri sendiri, seberapa besar ‘kekuatan’ kita, dan menakar status sosial dan gaya hidup yang paling tepat. Jangan biarkan gengsi mengendalikan kita. Sebaliknya juga jangan terjebak pada image yang tidak tepat, karena dapat mengundang under estimate terhadap diri kita. Image harus disesuaikan dengan posisi kita dalam masyarakat dan lingkungan kita.
Jika anda memilih memproyeksi citra diri ‘di atas’ resources yang sebenarnya dimiliki, pastikan keputusan itu berdasarkan alasan-alasan rasional, dan bukan disebabkan dorongan emosional. Mesti ada keputusan logis dibalik langkah-langkah Anda untuk berinvestasi dalam kepemilikan simbol status. Profesi-profesi tertentu memang menuntut ‘investasi’ jenis ini.
Ingat simbol status hanyalah salah satu faktor pendukung image Anda. Tutur kata, bahasa tubuh, etiket, penampilan diri, dan aspek-aspek lain dalam berinteraksi dengan orang lain justru menjukkan citra diri dan ‘kelas’ Anda. Kepemilikan simbol status, tanpa diiringi perilaku dan sikap yang sesuai malah kelihatan norak. <Male Emporium>
* Managing Partner The Jakarta Consulting Group
|