logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



Reorientasi Karir
Himawan Wijanarko*


Pernahkah Anda mendengar nama J.K. Rowling sebelum beredarnya buku Harry Potter? Hampir dipastikan Anda belum pernah mendengarnya karena sebelum menjadi penulis dari buku terkenal tadi J.K. Rowling ”hanyalah” seorang guru biasa. Bukan hanya itu, sebagai seorang ibu ia juga harus berjuang untuk membesarkan anaknya dalam keterbatasan ekonomi. Diantara himpitan ekonomi inilah ditambah dengan bakat, minat,  kreativitas dan kesabaran lahirlah tokoh Harry Potter yang melejitkan karir sang pengarang. Sebuah langkah reorientasi karir yang sangat sukses. Sekedar beranda-andai saja, jika Rowling tidak melakukan reorientasi karir, barangkali saja kita tetap tidak akan mengenalnya. 

Secara garis besar, reorientasi karir dilandasi oleh dua macam motivasi, motivasi internal dan motivasi eksternal. Dalam motivasi internal, seseorang melakukan pindah jalur karir dengan kesadaran penuh, terencana dan sesuai dengan tujuan yang dinginkan.  Tapi dalam perjalanan karir, ada kalanya kita dipaksa oleh faktor eksternal untuk melakukan ‘banting setir’, karena situasi yang memang berubah dan tidak dapat dihindari lagi. Jelas, motivasi kedua lebih terasa berat untuk dijalani, baik oleh yang bersangkutan maupun lingkungan terdekatnya, keluarga misalnya.

Reorientasi karir tidak jarang menjadi jembatan emas menuju sukses. Di media massa sering ditampilkan ‘karyawan biasa’ yang meraih sukses setelah menjadi pengusaha. Kita juga dapat melihat profesional seperti dokter, guru, militer, maupun eksekutif yang meraih sukses setelah melompat pagar dengan berpindah jalur karir. Namun media massa hanya mengekspose mereka yang telah sukses secara sepihak karena tidak mengekspose kegagalan para pelompat pagar lainnya. Apa artinya?  Reorientasi karir selain menyodorkan kisah sukses juga menawarkan kegagalan. Ibarat dua sisi koin, reorientasi karir juga menyimpan resiko tersendiri.

Untuk itu, jika hendak dilakukan secara sadar, reorientasi karir harus diputuskan secara hati-hati. Sangat disayangkan jika seseorang melakukan reorientasi karir hanya sekedar meniru figur yang sukses tanpa bekal yang cukup atau bahkan sekedar pelarian dari kegagalan yang menerpa. Karena masa depan akan menjadi taruhannya. Sekedar gambaran saja, seseorang yang pindah jalur karir secara umum merasa berada di planet asing begitu menjejakkan kaki di jalur karirnya yang baru. Di sana, ia harus menghadapi bidang yang sama sekali berbeda dengan bidang yang biasa dia hadapi. Padahal, dalam bekerja, sikap, ketrampilan dan pengetahuan secara sadar ataupun tidak telah membentuk kebiasaan kita dalam berpikir, mengambil keputusan, dan bertindak. Untuk merubahnya bukanlah perkara yang mudah. Sudah begitu, bukan hanya lingkup pekerjaan saja yang berubah tetapi juga lingkungan sosialnya. Hal non teknis seperti ini terkadang justru lebih sulit dihadapi. Anda harus menyiapkan ‘mental set’ dengan membuka diri dan bersikap lebih fleksibel dalam menghadapi ‘dunia baru’. Selain itu perlu dilakukan langkah-langkah yang terencana dan berkesinambungan untuk dapat beradaptasi dengan baik sampai taraf menikmati karir baru di lingkungan baru tersebut.

Yang lebih menjadi masalah jika yang terjadi adalah reorientasi karir disebabkan oleh faktor eksternal. Apalagi jika dia harus “mulai dari titik nol”  di jalur karirnya yang baru. Dalam hal ini kunci utamanya adalah melewati tahap kekecewaan menuju penerimaan terhadap kenyataan. Tingkat kedewasaan seseorang menentukan seberapa cepat dia dapat melewati masa sulit ini. Tetapi seiring berjalannya waktu, lambat laun orang tersebut akan dipaksa untuk dapat menerima kenyataan.

Dengan menerima nasib tadi sebagai kenyataan yang dihadapi, selanjutnya ia harus mempersiapkan diri untuk bangkit dari keterpurukan. Langkah positif berikutnya adalah menetapkan tujuan yang realistik berbekal modal ketrampilan, pengalaman, finansial dan networking yang dimiliki. Tujuan ini kemudian hendaknya dijabarkan secara lebih spesifik. Kuatkanlah komitmen terhadap tujuan tersebut, baik dari diri sendiri maupun mengambil ’energi positif’ dari lingkungan terdekat seperti keluarga, teman atau kekasih, untuk menambah ‘energi’ Anda.

Menemukan motif-motif yang sesuai akan menimbulkan motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan. Mulai dengan inventarisasi semua network yang telah dimiliki, dan mengidentifikasi kontribusi yang dapat mendukung langkah kita dalam mencapai tujuan. Jangan segan untuk memanfaatkan mereka sebagai sumber informasi, sehingga network tadi dapat mendukung realisasi dari rencana yang telah disusun. <Suara Indonesia>


*The Jakarta Consulting Group