Komunikasi Verbal Penunjang Profesi
Himawan Wijanarko*
Dalam meniti tangga karir, kompetensi saja tidaklah cukup. Agar kompetesi itu diakui oleh orang lain harus ‘dibungkus’ dengan ketrampilan berkomunikasi yang baik. Bahkan, tidak sedikit orang yang kompetensinya ‘biasa-biasa saja’ karirnya dapat menanjak dengan cepat karena kemahirannya dalam berkomunikasi. Sebaliknya orang yang pandai, tapi kurang trampil dalam berkomunikasi, kemajuan karirnya berjalan lambat. Ketrampilan berkomunikasi personal telah terbukti menunjang berbagai kemampuan yang dibutuhkan dalam memuluskan karir, seperti presentasi, lobbying, negosiasi, dan networking.
Komunikasi terdiri dari komunikasi verbal dan non-verbal. Berikut tips-tips komunikasi verbal yang dapat menunjang karir, yang merupakan sebagian materi yang disampaikan dalam pelatihan Profesional Image yang diselenggarakan The Jakarta Consulting Group.
Untuk komunikasi secara verbal yang sukses, kualitas suara harus diperhatikan, demikian pula dengan pendayagunaan intonasi, tempo, jeda, dinamika, dan ekspresi. Sedapat mungkin menghindari pengucapan yang masih memperlihatkan aksen daerah yang terlampau kental.
Pengucapan yang tidak memperhatikan dinamika suara,terkadang tinggi atau rendah tanpa alasan tertentu jelas sangat menganggu dan menimbulkan kesan buruk bagi orang-orang yang mendengarkannya. Kasar jelas berbeda dengan karakter tegas. Suara Anda juga menunjukkan keyakinan terhadap apa yang Anda ucapkan.
Saat berbicara terkadang kita tidak menyadari bila suara nafas jelas terdengar. Sebagai peredam, kontrol sirkulasi udara yang menghasilkan suara, penggal kalimat secara tepat dan lakukan perhentian-perhentian pada waktunya. Upaya ini sangat penting agar kalimat-kalimat yang dipaparkan menjadi jelas, tidak monoton, dan penuh ekspresi.
Sebagai seorang profesional Anda juga harus menunjukkan antusiasme yang besar terhadap apa yang dibicarakan supaya orang lain mau memperhatikannya. Diperlukan variasi-variasi kecepatan tertentu, tergantung pada sasaran komunikasi yang ingin dicapai. Pemilihan kata yang tepat akan memberikan "kekuatan" tersendiri dalam berkomunikasi. Kekuatan ini dapat dipergunakan secara maksimal untuk menunjang karakteristik suara yang dimiliki. Misalnya mengganti kata-kata yang barangkali sulit dilafalkan dengan kata-kata yang betul-betul "enak" untuk diucapkan dan kesannya ”menggigit”.
Untuk menunjang eksplorasi terhadap kekuatan kata dan pemanfaatannya secara maksimal, diperlukan penguasaan unsur-unsur bahasa secara memadai, mulai dari sinonim, antonim, kata-kata penghubung, sampai idiom. Penguasaan unsur-unsur bahasa tersebut membuat kita mempunyai keluasan perbendaharaan kosa kata yang berdaya tinggi. Pemahaman ragam bahasa yang ada, bahasa resmi atau formal, bahasa pergaulan, bahasa tulisan, bahasa lisan, bahasa bisnis, dan bahasa jurnalistik turut menentukan efektivitas pemakaiannya.
Kata-kata yang dipergunakan pada waktu menghadapi mitra bisnis akan berbeda dengan kata-kata yang dipergunakan saat bertemu pejabat pemerintah. Dalam hal ini Anda tidak perlu harus mengubah diri sehingga tampak berbeda sama sekali, cukup dengan fleksibilitas dalam penggunaan bahasa di tengah-tengah situasi dan kondisi yang berbeda-beda. Kuncinya konsentrasi ganda, berkonsentrasi penuh pada apa yang ingin diungkapkan, dan pada kualitas pengucapannya.
Menunjukkan empati pada waktu berbicara membuat komunikasi yang dijalin menjadi lebih bermakna. Empati memperkuat kehadiran Anda di tengah-tengah audiens, sehingga mereka akan memperhatikan apa yang Anda bicarakan. Bidang minat yang lebih luas juga berperan, untuk itu janganlah Anda menutup diri terhadap bidang-bidang di luar fokus Anda.
Komunikasi efektif ternyata tidak hanya terwujud karena komunikator dan komunikan dapat memperlihatkan kemampuan berbicara secara prima, melainkan juga terbentuk karena adanya pendengar yang aktif. Untuk menjadi pendengar aktif, pertama-tama ajaklah mereka berbicara tentang diri mereka sendiri, dengan berfokus pada kondisi saat ini, bahkan kalau perlu kondisi pada saat komunikasi berlangsung.
Bukalah telinga lebar-lebar dan perlihatkanlah perilaku yang menyenangkan pada saat Anda mendengarkan orang lain berbicara. Anda dapat memberi respon dan mengajukan umpan balik serta mendengarkan dengan sensivitas penuh. Sehingga Anda dapat mengetahui kapan saat tepat untuk berbicara, kapan melakukan interupsi, dan mengarahkan pembicaraan ke sasaran yang ingin dicapai. Jangan lupa untuk mempertahankan kontak mata terhadap mereka.
<Suara Indonesia>
*The Jakarta Consulting Group
|