.: PUBLICATIONS :.
Articles
|
Mencermati Peluang di Depan Mata
Himawan Wijanarko*
Saat berjalan-jalan di tempat perbelanjaan, katakanlah salah satu mal favorit, tidak jarang kita lihat suatu produk yang ditata sedemikian memikat. Membuat kita tergoda untuk memilikinya. Jika kita hanya melihat dan melewatinya saja, tentu kita tidak akan tahu apakah barang itu benar-benar bagus dan sesuai keinginan. Caranya adalah kita datangi toko tempat barang itu berada, bertanya kepada penjaga toko mengenai keterangan barang itu, memegang serta mengamatinya, mencari tahu kemampuan kita untuk membelinya, barulah kita tahu apakah sesuai dengan yang kita bayangkan. Keraguan bisa muncul setelah melihatnya dari dekat. Apakah kualitasnya baik, apakah saya pantas memakai barang tersebut. Jika keraguan ini tidak terobati, niscaya dapat mematikan rasa ingin memilikinya. Walhasil, barang yang sudah ada di depan mata akan tetap berada di tempatnya, tidak menjadi miliknya. Sebaliknya, jika cocok dengan semua kriteria, maka barang tersebut berpindah tangan dan kedua belah pihak yang terlibat transaksi merasa puas.
Peluang karir ibarat seperti barang bagus yang ada di mal itu. Dia bisa kita lewati begitu saja, atau justru bisa kita beli. Tetapi, opsi manapun yang diambil jika tanpa perhitungan yang cermat hasilnya akan mengecewakan. Suatu kali ada rekan yang menanyakan, ”Hari gini, emang ada yang melewatkan peluang karir?” Peluang tidak akan datang sendirinya dan tidak datang kepada orang yang tidak mempunyai keahlian apapun. Namun jangan lantas berkecil hati, setiap individu memiliki potensi yang sudah ada pada dirinya. Meskipun terdengar klise, hal terakhir ini bukan ”sekedar menenangkan” tetapi justru kenyataan yang sering tidak disadari. Potensi tersebut sebenarnya merupakan kunci kesuksesan kita, dan mendapat apresiasi dari pihak yang menyadarinya. Dengan demikian sangatlah penting bagi kita agar menyadari potensi yang ada dan mengaktualisasikan potensi itu untuk mengembangkan karir kita.
Perasaan sudah ‘kerasan’ di tempat kita bekerja sekarang merupakan alasan yang paling sering mengemuka, mengapa seseorang melewatkan peluang karir. Keluar dari comfort zone sering dianggap sebagai tindakan gambling, terutama bagi mereka yang memiliki tingkat risk aversion tinggi, sehingga rasa takut dan khawatir membayangkan perubahan yang akan terjadi menjadi penghambat. Kekhawatiran ini menjadi beralasan ketika kita tidak dalam kondisi siap, baik dari teknis maupun non teknis, untuk menghadapi perubahan dunia kerja. Sayangnya, tidak jarang keputusan justru dibuat lebih didasarkan pengaruh dari rekan kerja yang menghalangi dan membayangi kita dengan akibat-akibat buruk yang akan terjadi.
Jika yang terakhir ini yang terjadi, maka waspadalah karena krisis kepercayaan diri telah menimpa. Padahal, kalau krisis ini dibiarkan berlarut-larut, tidak saja menghambat karir tetapi juga akan merembet menjadi krisis dalam skala besar. Dengan demikian, kita perlu memperhatikan beberapa hal di bawah ini.
Pertama, menyadari bahwa perubahan dalam kehidupan selalu terjadi dan kita harus siap untuk itu. Kedua, kita bisa mengantisipasi perubahan itu, dengan memperhatikan perubahan-perubahan yang ada, bukan menghindarinya. Ketiga, sesuaikan dengan potensi yang ada pada diri kita dengan cepat. Keempat, jangan biarkan kegagalan masa lalu menghalangi langkah baru kita. Kelima, hindari rasa kekhawatiran dalam diri kita pada apa yang akan terjadi nanti. Tentu saja bukan berarti tanpa perhitungan. Kelima, setelah merasa yakin bersiaplah untuk berubah dengan cepat dan menikmati peluang itu.
Setelah masuk ke dalam peluang baru. Rasa optimis kesuksesan juga merupakan faktor berikut yang perlu menjadi perhatian kita. Dimulai dengan percaya pada kekuatan diri sendiri untuk melakukan apa yang ada dan yang diharapkan orang lain. Buatlah diri Anda agar mencintai pekerjaan Anda. Siapkan strategi baru dan juga cadangan-cadangan strategi lainnya jika pada kenyataannya, Anda mengalami perubahan-perubahan. Jika salah satu perubahan itu menjadi rintangan bagi Anda, anggaplah hal itu sebagai cambukan untuk lebih giat mencapai kesuksesan, bukan meruntuhkan semangat Anda. Tahap ini merupakan tahapan di mana Anda menguasai peluang yang Anda jalankan. Selamat berjuang…..! <Suara Indonesia>
*The Jakarta Consulting Group
|