|
||||||
.: PUBLICATIONS :. Articles |
Menerjang Krisis A.B. Susanto* Krisis dapat menghempaskan karir seseorang dengan mudah. Tapi yang sering dilupakan, bahwa karir juga dapat melesat dengan cepat karena kemampuannya mengatsi krisis. Lee Iaccocca contohnya. Setelah di depak dari Ford, dia memimpin Chrysler yang sedang sekarat. Dia menciptakan legenda di perusahaannya dengan menggaji dirinya sebesar satu dolar AS. Terlepas apakah ini sekedar trik, tapi ini adalah cara mujarab untuk berempati terhadap karyawan, memahami kecemasannya, dan membangun semangatnya. Dengan antusiasme yang tinggi dia meyakinkan Kongres agar mengucurkan pinjaman kepada perusahaannya, sambil mengingatkan tentang besarnya pengangguran jika sampai perusahaannya bangkrut. Dua srikandi Indonesia – Rini M.S. Suwandi dan Ava Riyanti Hutapea - dinobatkan sebagai CEO terbaik oleh pembaca sebuah majalah bisnis karena keberhasilan mengatasi krisis yang melanda perusahaan, menyusul krisis ekonomi yang menrpa negara kita.
Persepsi terhadap Krisis Sebagai pimpinan yang sedang bertempur melewati krisis, Anda harus menjadi teladan bagi karyawan untuk tetap tenang dan menunjukkan optimisme yang tinggi. Jadikanlah diri anda sebagi role model yang positif. Yang sangat penting untuk diperhatikan adalah pembentukan pola pikir, yang tidak dikuasai oleh definisi bahwa krisis selalu berarti destruksi. Sebagai seorang profesional, krisis sebaiknya tidak dianggap sebagai halangan, melainkan sebagai sarana pembaharuan. Memang di dalam krisis akan selalu terdapat adanya ancaman (threat) tetapi yang harus digali adalah peluang-peluang (opportunities) yang sebenarnya terbuka justru karena adanya krisis. Saya cenderung untuk menganjurkan setiap eksekutif agar memiliki persepsi mengenai krisis dari sudut pandang positif - sudut pandang seorang optimis - sehingga krisis dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk meraih puncak kesuksesan yang lebih tinggi. Untuk meningkatkan daya tahan terhadap krisis dan mengubah persepsi krisis agar menjadi lebih positif, diperlukan upaya agar penerimaan terhadap resiko meningkat. Apa yang dilakukan oleh Iaccoca untuk meminta dukungan kepada Kongres agar mengucurkan bantuan merupakan upaya untuk meningkatkan penerimaan terhadap resiko. Karena memberi pinjaman kepada perusahaan yang sedang sekarat merupakan langkah yang beresiko tinggi. Analisa yang komprehensif dalam memandang permasalahan yang dihadapi serta sudut pandang visioner yang melintas jauh ke depan merupakan prasarana untuk menumbuhkembangkan sikap yang positif terhadap krisis.
Kecepatan, Prioritas dan Fleksibilitas Pada umumnya krisis menyebabkan keteraturan kerja tidak dapat lagi dipertahankan seperti apa adanya, misalnya terjadi pengurangan produksi karena daya beli menurun, diperlukan pengelolaan SDM yang lebih kreatif karena jumlah SDM yang dibutuhkan ternyata sekarang menyusut, terjadi tarik urat dengan pemasok karena harga bahan baku melangit, atau kesulitan memenuhi paket remunerasi karena performansi perusahaan yang mengalami penurunan secara drastis. Agar dapat melalui masa krisis dengan baik, dan menjaring peluang yang mungkin muncul dari sebuah krisis, kita harus dapat mengambil hikmah dari ketidakteraturan yang terjadi dan berupaya untuk mencari jalan keluar praktis yang mengacu pada tujuan holistik perusahaan, yang tentunya juga sudah disesuaikan terhadap krisis yang dihadapi. Tiga aspek orientasi yang perlu diperhatikan adalah kecepatan, prioritas dan fleksibilitas. Kecepatan merupakan salah satu elemen utama karena kondisi krisis membutuhkan kecepatan tindakan, tidak dapat menunggu perombakan strategi atau taktik secara rinci. Jika tidak segera diselesaikan, krisis dapat berkepanjangan dan memberikan dampak negatif yang lebih mengerikan. Meskipun elemen kecepatan menduduki peringkat utama, tidak berarti bahwa kecepatan merupakan satu-satunya tolok ukur untuk menentukan keputusan. Kecepatan tindakan harus didahului oleh ketepatan pemilihan alternatif tindakan yang akan dilakukan. Oleh karena itu, aspek kecepatan ini perlu didukung oleh adanya prioritas. Penentuan prioritas tindakan dalam menghadapi krisis harus didasarkan pada dua pemikiran. Yang pertama yaitu pemikiran praktis dan taktis untuk mencegah agar pengaruh krisis tidak berkembang secara cepat dan tidak menggangu perusahaan secara keseluruhan. Hal-hal yang tidak terlalu terkait dengan strategi jangka panjang dapat segera dicari jalan keluarnya dan dilaksanakan tanpa ragu-ragu lagi. Pemikiran yang kedua adalah pemikiran strategis dan visioner di mana pengaruh krisis untuk jangka panjang ditelaah kembali sekaligus mempertimbangkan potensi peluang yang menyertainya. Dalam hal ini prioritas kebijakan strategis meskipun membutuhkan waktu lebih lama daripada yang bersifat praktis, tetapi harus diselesaikan dalam waktu yang relatif cepat. Untuk dapat menentukan prioritisasi dengan benar, perlu mengevaluasi tingkatan urgensi dari setiap permasalahan yang dihadapi. Selain kecepatan dan prioritas, krisis memerlukan adanya fleksibilitas. Kondisi krisis biasanya menimbulkan beragam problema sampingan dan efek berantainya kadang-kadang tidak dapat diidentifikasi dengan jelas. Oleh karena itu, dalam menentukan prioritas, sebaiknya diperhatikan beberapa alternatif tindakan dan tidak hanya terfokus pada satu penyelesaian saja. Konsekuensinya, kita perlu memupuk ketrampilan untuk mengevaluasi kemungkinan perkembangan krisis dan menyusun skenario-skenario yang dimulai dari skenario “the best” hingga “the worst”, mulai yang paling mungkin terjadi, hingga yang paling tidak mungkin terjadi. Akan tetapi, kita perlu berhati-hati karena jika seluruh kemungkinan skenario ditelaah, bisa jadi kita terjatuh dalam kubangan krisis yang lebih dalam. Jangan terlalu lama mencari solusi. Bisa jadi ketika solusinya diperoleh, solusi itu sudah tidak relevan lagi dengan kondisi terakhir yang dihadapi. Reorientasi terhadap aspek kecepatan, prioritas dan fleksibilitas tidak dapat berdiri sendiri-sendiri karena ketiganya saling melengkapi. Untuk memperoleh pola penyelesaian yang lebih mengena, ketiganya perlu dilengkapi dengan kreativitas yang akan berperan banyak dapat menentukan alternatif-alternatif skenario penyelesaian yang dibutuhkan. Krisis adalah batu ujian bagi para penjala karir. Justru pada saat krisislah, akan nampak bagaimana kemampuan yang sebanarnya. Jadi berpikirlah positif terhadap krisis dan raih peluang yang besar untuk mengembangkan karir. Keberhasilan mengatasi krisis, memudahkan dalam mendaki tangga karir. <Bisnis Indonesia> *Managing Partner The Jakarta Consulting Group |
|