logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



 Global Mindset
A. B. Susanto*

Di tengah globalisasi yang sedang kita hadapi, sudah siapkah kita mengahadapinya dengan mindset global? Bukankah dalam globalisasi akan terjadi peningkatan mobilitas modal, manusia, dan ide. Juga meningkatnya ketersediaan barang dan jasa pada saat yang bersamaan.

Semakin bebasnya arus pergerakan sumberdaya tanpa mengenal lagi batas-batas wilayah menyebabkan persaingan bisnis tidak lagi terbatas pada suatu wilayah. Kondisi ini menyebabkan perusahaan harus melakukan mobilisasi sumberdaya yang tidak lagi terbatas hanya pada pasar lokal, tetapi juga pasar global. Di satu sisi, kondisi ini dapat menjadi peluang bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi ke luar wilayahnya. Sebaliknya bila perusahaan tidak mampu melakukan adaptasi terhadap kondisi persaingan global yang semakin keras, maka perusahaan menghadapi ancaman hilangnya daya saing. Dalam menghadapi situasi seperti ini perusahaan memerlukan orang-orang yang mempunyai mindset global, dimana setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh para pemimpin perusahaan selalu didasarkan pada pemikiran yang berorientasi global.

Mindset global boleh diartikan bagaimana kita yang dalam kehidupan sehari-hari menerapkan kriteria-kriteria kinerja personal maupun bisnis berdasarkan asumsi yang terkait dengan konteks, budaya atau negara kita, kemudian dituntut ”membumikan” kriteria-kriteria itu secara tepat terhadap latar belakang budaya dan negara yang berbeda.

Pada saat sebuah perusahaan bersaing di pasar global, perusahaan tersebut membutuhkan peminpin dan karyawan yang mampu memahami dan mengakomodasi berbagai karakteristik pasar global yang beragam. Membangun dan memiliki  mindset global menjadi persyaratan bagi perusahaan yang bersaing pada tingkat global agar  tetap tumbuh dan bersaing di pasar global.

Menurut Rhimesmith, ada enam area yang harus menjadi perhatian manajerial dalam usaha membangun mindset global. Pertama, mendorong pandangan yang lebih besar dan luas dimana orang, ide, sumberdaya, proses, pasar dan faktor-faktor penting lainnya dipandang secara komprehensif, bukan hanya secara parsial. Kedua, membangun kapabilitas manajemen paradoks dengan cara mengakui adanya berbagai pandangan alternatif. Ketiga, mengatasi hambatan struktural dengan menekankan kepercayaan terhadap orang dan proses perilaku mereka. Keempat, kemampuan untuk mengakui keberagaman dalam membentuk tim yang memiliki latar belakang yang berbeda. Kelima, peluang perubahan karena  kebutuhan mendesak yang memungkinkan penerimaan terhadap ambiguitas dan risiko dalam konteks global. Keenam, keterbukaan organisasi atau perusahaan untuk belajar dan menerima hal-hal yang baru. Perusahaan harus mempunyai kemampuan untuk membaca peluang pasar global,  memiliki informasi berskala global, dan mampu menjadi ancaman bagi pesaing. Perusahaan juga harus mampu memanfaatkan sumberdaya dari seluruh dunia dalam setiap situasi yang kompetitif.

Perusahaan yang ingin melakukan ekspansi global harus menciptakan situasi lingkungan internal yang mendukung terbentuknya mindset global ini. Untuk menciptakan situasi ini ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh perusahaan.

Pertama, Komposisi manajemen puncak. Manajemen puncak yang diisi oleh orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang beragam dapat membantu memberikan perspektif yang lebih luas dan pengetahuan yang spesifik mengenai trend dan perubahan lingkungan.

Kedua, fokus pada visi dan proses. Manajemen perusahaan global saat ini lebih berkonsentrasi pada penentuan tujuan dan visi, proses, serta sumberdaya manusia. Ini bukan berarti strategi, struktur, dan sistem dihilangkan, tetapi perangkat-perangkat manajemen ini dilengkapi dengan perhatian yang lebih berfokus pada tujuan dan visi, proses, serta sumberdaya manusia.

Ketiga, membangun dan mengkoordinasikan network. Pemimpin perusahaan global harus membangun dan mengkoordinasikan network yang mampu memberikan akses kepada sumberdaya di seluruh dunia. Networking sebagian besar bergantung kepada komunikasi dan interaksi, yang sekarang dapat dilakukan dengan mudah dengan adanya kemajuan teknologi.

Keempat, seleksi karyawan. Merekrut karyawan dengan latar belakang yang beragam dari berbagai wilayah regional maupun global dapat membantu tumbuh dan berkembangnya mindset global.

Kelima, perencanaan karir dan penugasan internasional. Jalur karir pada perusahaan global harus memberikan kesempatan penugasan manajer dan karyawan yang bersifat global. Penugasan seperti ini dapat membantu manajer dan karyawan mendapatkan perpektif yang lebih luas dan menciptakan network.

 

Kepemimpinan dan Mindset Global

Dalam sebuah perusahaan global, pemimpin perusahaan perlu memiliki kepedulian dan pemahaman tentang persamaan dan perbedaan masing-masing wilayah atau negara dalam hal politik, ekonomi, hukum, peradaban dan budaya. Ini karena pemimpin global harus bekerja di berbagai wilayah dan negara, serta berhadapan dengan kondisi ekonomi, politik, dan sosial yang beragam. Karena proses globalisasi berjalan sangat dinamis dan berkembang secara terus-menerus, pemimpin global bukan hanya harus selalu mengamati perubahan-perubahan global yang terjadi, tetapi juga harus terbiasa dengan perubahan dan ketidakpastian.

Pemimpin perusahaan global bukan hanya harus tanggap terhadap fenomena-fenomena yang bersifat global di seluruh dunia, tetapi juga harus tanggap terhadap kebutuhan, keinginan dan permintaan pasar lokal. Ini berarti perusahaan harus mengakui keberagaman pasar lokal dan melihatnya sebagai sumber peluang dan kekuatan untuk bersaing. Pada saat yang sama meyakini bahwa brand yang kuat, yang didukung oleh produk, pengemasan, dan konsep promosi dengan standar yang tinggi merupakan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menguasai pasar global.

Menurut Dekker, Jansen, dan Vinkenburg terdapat empat persayaratan yang harus dimiliki oleh pemimpin global. Pertama, pengalaman kerja internasional. Pengalaman ini dapat membantu pemimpin global dalam menangani masalah perbedaan waktu dan geografis. Pengalaman ini juga dapat membantu memperluas perspektif global. Kedua, kompetensi lintas budaya. Artinya pemimpin memahami bagaimana mengakomodasi kebiasaan-kebiasaan yang berasal dari luar wilayah atau negara lain dan bagaimana membina hubungan dengan orang lain yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Ketiga, kepemimpinan. Sebelum diangkat menjadi pemimpin yang berskala regional ataupun global, seorang pemimpin global haruslah berasal dari orang-orang yang telah teruji kemampuannya dalam memimpin pada skala yang lebih kecil. Keempat, keterbukaan. Pemimpin global harus terbuka terhadap dunia luar. Mereka harus merasakan dirinya sebagai bagian dari dunia secara keseluruhan, bukan hanya bagian dari wilayah atau negara tertentu yang lingkupnya lebih terbatas.

Pemimpin global yakin bahwa pasar tidak hanya terbatas dalam satu wilayah atau negara, tetapi dapat menembus jauh melewati batas-batas wilayah atau negara. Pemimpin global harus menyukai kegiatan traveling, mampu meletakkan kehidupan pribadi dan pekerjaan dalam sebuah kerangka yang lebih luas, dan memahami prioritas masyarakat lokal yang beragam.  

Perusahaan yang beroperasi pada tingkat global memerlukan pemimpin yang memiliki kemampuan dalam memahami bisnis global, memiliki kemampuan dalam beroperasi melintasi batas-batas budaya secara efektif, dan memiliki kemampuan dalam menyeimbangkan antara strategi yang bersifat global dengan perhatian terhadap ciri khas pasar lokal yang spesifik. Pemimpin inilah yang meletakkan dasar-dasar, sekaligus menggiring terbentuknya  mindset global pada sebuah perusahaan. <Eksekutif>


*Managing Partner The Jakarta Consulting Group