|
||||||
.: PUBLICATIONS :. Articles |
Multi Cultural Competency A. B. Susanto* Perayaan 600 tahun pendaratan laksamana Cheng Ho yang akan diperingati secara besar-besaran di Semarang awal Agustus ini membuka kesempatan lebar-lebar bagi kita untuk mewarisi spiritnya. Belakangan ini sudah ada beberapa media mengulas sejarah kiprah laksamana ini. Selaku profesional dan pemimpin, lantas apa yang dapat kita pelajari dari sosok agung tersebut? Dalam tujuh kali ekspedisinya mengarungi jarak lebih dari 50 ribu kilometer, Cheng Ho telah mengunjungi lebih dari 30 negara dalam rangka menunaikan misi yang diembannya dari kaisar. Sebuah misi damai untuk menunjukkan keagungan dinasti Ming dan ketinggian kebudayaan Tiongkok. Misi ini seperti kita ketahui menuai sukses besar. Di setiap negeri yang disinggahinya, Cheng Ho senantiasa disambut hangat oleh tuan rumah. Sambutan hangat dan suksesnya misi yang diemban menunjukkan penguasaan Cheng Ho atas kompetensi lintas budaya. Berkaca pada teladan Cheng Ho dan mencermati dinamika bisnis kita dapati kenyataan bahwa transaksi besar seringkali hanya terjadi ketika seseorang memahami dengan baik dimensi kultural yang terkandung dalam negosiasi. Dimensi kultural dapat berupa bahasa, nilai-nilai, pola berpikir, agama, artefak, dan orientasi terhadap waktu dan ruang. Esensinya, budaya merupakan sekumpulan norma yang disepakati oleh sekelompok orang pada suatu kurun waktu dan tempat untuk memfasilitasi terbentuknya harmoni dalam kehidupan bersama. Persepsi budaya yang berbeda akan menentukan sikap dan perilaku yang berbeda pula dan berpengaruh besar seperti pada tanggung jawab pribadi, sikap terhadap otoritas dan hukum, penggunaan waktu, menghormati kontrak, dan perlakuan yang adil. Isu-isu semacam ini memiliki peran yang demikian penting dalam membina hubungan yang lebih baik. Kaum profesional dan pemimpin di segenap sector berinteraksi dengan orang-orang dari kelompok budaya yang berbeda. Untuk kalangan ini, pemahaman atas perspektif lain penting artinya dalam penyusunan kebijakan dan strategi bertransaksi dan pengambilan keputusan. Kesadaran akan adanya perbedaan saja tidaklah cukup, dibutuhkan kompetensi multicultural untuk dapat memahami dan menyikapi perilaku dan sikap dalam konteks budaya yang berbeda. Kompetensi multicultural ini menjadi faktor kritis dalam membina hubungan yang erat dan pencapaian hasil yang diinginkan. Mindset dari kompetensi budaya tidak berarti mengingkari nilai-nilai dan norma yang diyakini tetapi lebih kepada penghormatan terhadap nilai-nilai dan norma yang diyakini orang lain. Adaptasi terhadap budaya orang lain merupakan pijakan bagi dinamika hubungan yang lebih baik. Berpegang teguh pada budaya sendiri ibarat pohon dengan akar yang kokoh menopang batang yang kuat. Sementara adaptasi terhadap budaya orang lain ibarat dahan, ranting, dan daun yang fleksibel terhadap perubahan sekitar, dari angin yang berhembus sampai hujan badai. Kompetensi multicultural juga diperlukan di tingkat organisasi yang memiliki dinamika kerja multi kultural. Keberagaman budaya harus dikelola sedemikian rupa sehingga tidak berdampak buruk terhadap kinerja organisasi tetapi justru memperkaya khasanah sumber daya. Kekayaan ini dioptimalkan sebagai modal hidup nan aktif bagi pencapaian kinerja yang lebih baik. Dengan kompetensi multicultural yang baik dimungkinkan pengelolaan keragaman ini dari tataran perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi. Dengan mengakomodir dinamika multicultural, kerangka manajemen ditransformasikan dari keseragaman menjadi kohesi atas keragaman (Bhineka Tunggal Ika). Transformasi ini tak pelak akan meningkatkan efektivitas kinerja organisasi. Sebenarnya karakteristik seperti apakah yang tercakup dalam kompetensi multicultural itu sendiri? Yang pertama tentu saja adalah toleransi. Perbedaan persepsi budaya terhadap satu hal dapat menimbulkan ambiguitas. Ambiguitas membagi ke dua belah pihak dalam dua kutub yang berseberangan. Relasi ekstrimnya adalah kawan dan lawan. Tingkat toleransi menentukan seberapa tinggi penerimaan seseorang terhadap perbedaan dan ambiguitas tersebut. Karakteristik yang kedua adalah empati. Empati terhadap budaya orang lain merupakan dasar dari setiap interaksi yang terjalin. Empati berpotensi untuk menerjemahkan perbedaan menjadi pemahaman dan pengertian yang mendalam. Karakteristik ke tiga adalah factor kognitif berupa kompleksitas kognitif. Kompleksitas kognitif merujuk pada kebutuhan seseorang untuk menggunakan lebih dari satu perspektif atau kerangka rujukan untuk suatu input kognitif. Kompleksitas kognitif memungkinkan seseorang untuk dapat memahami situasi secara lebih menyeluruh. Termasuk di dalamnya kemampuan untuk mengesampingkan kebiasaan dalam memproses informasi dan mencoba cara yang baru. Karakteristik ini berpijak pada pemahaman bahwa setiap bentuk tidaklah mutlak tunggal dan seragam, tetapi selalu ada kemungkinan untuk melihatnya dari sisi yang lain. Karakteristik berikutnya adalah factor kognitif yang lain, yakni manajemen stereotip. Stereotip cenderung misleading dan perlu dikelola dengan baik agar tidak destruktif. Dengan demikian, kompetensi multicultural dapat diringkas ke dalam tiga dimensi, pengetahuan, kecakapan, dan motivasi. Pengetahuan dalam kompetensi ini meliputi parameter budaya dan bagaimana pengaruhnya. Kecakapan meliputi keingin tahuan dan kemampuan mendapatkan informasi baru, menganalisisnya, berkomunikasi secara baik dengan mengelola respon terhadap hasil analisis tadi, dan secara fleksibel beradaptasi. Motivasi meliputi pemahaman atas perbedaan budaya dan sikap menghormati melandasi keinginan untuk belajar, memperbaiki dan mengembangkan untuk dapat mengelolanya secara lebih baik. Tentu saja kompetensi multicultural ini tidak dapat berjalan sendirian. Komunikasi adalah kecakapan yang paling terkait erat karena perannya dalam mempertukarkan pesan dan menciptakan makna. Kecakapan ini dapat dibagi lagi menjadi kecakapan mendengarkan, ekspresi dan klarifikasi secara jelas, keterbukaan, pemahaman atas nuansa non verbal (di antaranya bahasa tubuh) dan berbicara dengan bahasa lain. Komunikasi non verbal seringkali menjadi titik kritis dalam interaksi lintas budaya, bahkan ada yang menyatakan bahwa komunikasi jenis ini menempati 60 persen porsi dari interaksi. Secara umum, miskomunikasi sering terjadi karena pesan disampaikan dengan cara yang tidak dimengerti pihak lain, perbedaan aturan/bahasa komunikasi, dan pemahaman yang tidak kongruen dalam konteks social, serta topic yang tidak familiar. Sebagaimana kompetensi yang lain, kompetensi multicultural dapat dilatih. Pengalaman langsung di lapangan adalah latihan yang paling ampuh karena keterlibatan untuk mengasah intuisi. Penguasaan kompetensi multicultural akan meningkatkan employability orang tersebut. Hal ini karena kompetensi ini terpakai dalam sebelas kategori praktek manajerial yang menentukan kesuksesan yang disebutkan Yukl, Wall, and Leipsinger (1990). Kesebelas kategori tersebut adalah planning and organizing, problem solving, monitoring, networking, informing, clarifying, motivating and inspiring, conflict management and team building, supporting and developing, consulting and delegating, as well as recognizing and rewarding. <Eksekutif> *Managing Partner The Jakarta Consulting Group |
|