logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



 Peringatan Ceng Ho dan Rekonstruksi Stereotip
A. B. Susanto*

Awal bulan ini peringatan mendaratnya Cheng Ho digelar di Semarang secara besar-besaran.  Tetapi apakah yang akan tersisa tatkala hiruk-pikuk peringatan telah lewat? Inilah yang mesti digarisbawahi: peringatan ini hanyalah sebagai ‘tendangan pertama.’ Yang harus ditindaklanjuti sampai ‘bola’nya masuk ke dalam gawang dan permainan menjadi hidup.  

Peringatan pendaratan Cheng Ho menjadi bermakna jika dapat membangkitkan kesadaran dan kemauan untuk bercermin dan belajar kepada sejarah. Dengan membaca dan menginterpretasikan fakta-fakta di masa silam kita akan menemukan kearifan dan keteladanan. Belajar dari kesalahan di masa silam dapat menjadi panduan  mengarungi masa depan. 

Dalam hubungan politik antar kerajaan, hubungan Nusantara dan Cina diwarnai pasang surut seiring dengan pergantian  kekuasaan. Ketika Cina berada di tangan Kubilai Khan dan Kertanegara berkuasa di sebagian Nusantara, ketegangan terjadi. Bahkan pasukan Cina yang datang untuk menghukum Kertanegara dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk menggulingkan Jayakatwang. 

Ketika Dinasti Ming berkuasa, hubungan dengan Cina kembali membaik seiring dengan visi penguasa yang lebih mengedepankan soft power melalui diplomasi yang bersahabat, berbeda dengan rezim sebelumnya yang ekspansionis.  Padahal Majapahit pada saat itu memasuki usia senja, berada di tubir keruntuhannya. Seandainya pada saat itu dilakukan upaya penaklukan, dengan mudah armada Cina yang dipimpin Cheng Ho akan dapat menaklukkan Majapahit. Tetapi misi Cheng Ho memang bukan misi penaklukan. Senjata digantikan oleh cinderamata seperti keramik dan sutra. Dengan demikian, pola hubungan antar kerajaan (baca: negara) bukan kolonialisme seperti yang dijalankan para petualang Eropa.

Sosok Cheng Ho sebagai personifikasi dari diplomasi penguasa Cina pada saat itu, Kaisar Yung Lo dari Dinasti Ming, diterima dengan baik oleh masyarakat Nusantara yang tampak dari berbagai petilasan yang didirikan untuk mengenang Cheng Ho.

Sosok Cheng Ho sendiri merupakan cerminan dari pandangan Kaisar Yung Lo  yang mempunyai wawasan terbuka dan mengakui multi kulturalisme. Cheng Ho sendiri adalah seorang Muslim yang merupakan minoritas. Tetapi mendapat peran sebagai seorang pemimpin dari armada dengan berbagai keyakinan yang berbeda. Tentu ini memiliki keuntungan sendiri karena dapat berhubungan baik dengan berbagai kerajaan yang bercorak Hindu, Islam, maupun Budha. Berbagai petilasan juga diinterpretasikan dengan makna yang beragam sehingga ada Masjid maupun Kelenteng.

Tetapi sesuai dengan pasang surut kekuasaan politik, ekspedisi Cheng Ho yang berhasil ini termakan oleh konflik internal dinasti Ming. Kapal-kapal dibakar,  sehingga banyak catatan sejarah yang sangat bernilai sirna.

Ketika Indonesia sudah menjadi negara merdeka, hubungan baik kembali terbina. Tetapi seiring dengan pergantian rezim, dari Soekarno ke Soeharto, hubungan dengan Cina membeku yang mengingatkan kita dengan era Kartanegara.

Apa yang dapat kita petik dari perjalanan sejarah ini? Hubungan antara masyarakat Nusantara dan Tionghoa telah terjalin lama dan cukup baik,  bahkan mereka mempunyai peran penting  dalam penyebaran  agama Islam di pulau Jawa. Tetapi pasang surut kekuasaan sangat  berpengaruh dalam hubungan ini. Pada era kolonial hubungan ini dimanipulasi untuk kepentingan-kepentingan politik kolonialisme yang muaranya adalah divide et impera. Hubungan ini disekat-sekat oleh pemerintah kolonial, dilakukan diskriminasi secara terprogram, dan dilakukan culture engineering secara sistematis dan berlangsung lama. Rekayasa budaya ini menumbuhkan stereotipe (stereotype) dan prasangka (prejudice)  di tingkat individu maupun komunitas.

Bagiamana mekanisme psikologis terjadinya stereotipe dan prasangaka ini? Dalam proses pengolahan informasi, manusia mengkategorisasikan informasi yang masuk untuk mempermudah dalam memproses, menilainya dan mengambil tindakan. Demikian pula dalam berhadapan dengan komunitas lain, mereka melakukan proses atribusi dengan melekatkan atribut-atribut tertentu. Misalnya orang Batak lugas dan tegas. Sebaliknya orang Jawa sulit untuk bertindak tegas. Atribut ini disimpan dalam ingatan dan menjadi stereotipe. Dalam kenyataan bisa benar atau salah. Misalnya tidak semua orang Batak tegas dan tidak semua orang Jawa tidak tegas.  Stereotipe  juga dapat menyesatkan dan menggiring terjadinya prasangka.

Dalam situasi politik kolonialisme proses stereotipe  ini memang diciptakan dan dilestarikan untuk menjadi penyekat antar kelompok, kelas-Eropa, Keturunan Asia, dan Pribumi. Penyekatan ini kemudian dilestarikan pula dengan pengelompokan secara geografis dan diskriminasi hak-hak sipil.  

Dalam suasana hubungan antar komunitas yang saling tersekat dan interaksi yang dibatasi, stereotipe dan prasangka ’diwariskan’ antar generasi.  Sehingga stereotipe dan prasangka ini  ’hidup’ dari generasi ke generasi. Tugas kitalah di alam demokrasi ini untuk memutus mata rantainya. Inilah yang seharusnya dipahami dengan peringatan 600 tahun pendaratan Cheng Ho: sebuah peluncuran bagi langkah-langkah untuk meluruskan ”stereotipe ”. 

Akhirnya kita dapat menarik dua kesimpulan utama.  Pertama,  hendaknya hubungan dengan anggota masyarakat keturunan  dipahami dalam konteks hubungan kultural antar masyarakat, bukan hubungan politik antara kedua negara. Pasang surut hubungan politik tidak dapat merusak hubungan kultural ini. Inilah mengapa kalangan masyarakat keturunan lebih menyukai disebut ”Tionghoa” ketimbang Cina.

Kedua, peringatan Cheng Ho janganlah terjebak hanya menjadi kegiatan ritual belaka. Tetapi memiliki makna yang mendalam sebagai langkah awal melakukan rekonstruksi kognitif untuk menggerus stereotipe dan prasangka yang sudah berkembang selama berabad-abad dalam masyarakat. Seperti halnya pembentukannya,  perubahan ini  juga memerlukan proses yang panjang dan terencana dengan baik. Inilah tujuan yang paling hakiki dari  peringatan 600 tahun pendaratan Cheng Ho. <Kompas>


*Managing Partner The Jakarta Consulting Group