|
||||||
.: PUBLICATIONS :. Articles |
Mempunyai pola pikir yang ‘berbeda”, seperti tulisan saya terdahulu, tampaknya perlu untuk dipopulerkan. Sebuah pertanyaan yang menggugah pola pikir ‘biasa’ adalah pertanyaan berikut ini. Misalnya jika Anda mau ‘mencetak’ seorang pemimpin Anda lebih memfokuskan kepada kekurangannya untuk kemudian diperbaiki, atau justru sebaliknya memfokuskan kepada kekuatanya untuk “digenjot’ agar lebih baik lagi? Katanya cara pertama akan menghasilkan seorang pemimpin yang “baik”, dan cara kedua akan menghasilkan “Pemimpin Besar”. Gagasan yang bergulir mengenai ”lebih bagus memperkuat yang menjadi kelebihan daripada mencoba memperbaiki apa yang menjadi kekurangan”inilah yang menjadi landasan pola pikir Appreciative Inquiry (AI), yang acap dilakukan dalam perubahan organisasi untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Masa depan adalah wilayah yang tidak diketahui. Sesuatu yang menimbulkan ketidaknyamanan dan juga ketidakyakinan. Agar lebih percaya diri dan merasa lebih nyaman, alangkah baiknya jika bagian dari masa lalu yang akan kita bawa untuk menyusuri masa depan adalah bagian dari masa lalu kita yang terbaik. Ini akan memberikan harapan, cara berpikir positif, ketimbang mengorek masa lalu yang pedih dan menyakitkan. Pendekatan AI macam inilah yang sering dihadapkan dengan pendekatan problem solving, yang biasanya dimulai dengan hal-hal yang jelek dalam organisasi. Mengkorek-korek borok akan terasa menyakitkan, dan kadang-kadang juga mematikan harapan, menurunkan semangat dalam menghadapi masa depan. Proses AI dimulai dari menelusuri hal-hal terbaik di masa lalu. Esensi dari proses ini adalah penemuan melalui dialog. Penelusuran yang berfokus pada hal-hal yang ingin dibawa ke masa depan. Makna Appreciative Inquiry (AI) memang tak terlepas dari dua kata penyusunnya. Apresiasi mengacu pada tindakan mengakui dan menghargai apa yang telah dimiliki dan dilakukan di masa lalu, apakah itu “kekuatan”, ‘kesuksesan”, aset, maupun potensi. Inquiry berarti tindakan eksplorasi dan penemuan. Tindakan ini menyiratkan penyelidikan tentang kemungkinan-kemungkinan baru, dimana pada saat ini berada pada tahap tidak mengetahui atau memahami. Metode AI yang cukup populer adalah 4 D, yang memanfaatkan proses empat tahap yang berfokus pada discover, dream, design, delivery. Fase discovery adalah fase pencarian yang tekun dan ekstensif untuk memahami “apa yang terbaik“ dan “apa yang telah terjadi atau dikerjakan”. Proses ini diantaranya akan menghasilkan gambaran yang kaya terhadap inti positif organisasi. Berbagi dan belajar dari cerita-cerita mengenai praktek terbaik, inovasi yang gemilang, dan tindakan-tindakan yang patut dicontoh di seantero organisasi. Berikutnya adalah fase dream, yang merupakan sebuah eksplorasi yang memberi kekuatan mengenai “apa yang mungkin”. Waktu bagi orang-orang dalam organisasi untuk menelusuri harapan-harapan dan impian-impian dalam pekerjaan mereka, hubungan kerja mereka, organisasi mereka, dan dunia mereka secara keseluruhan. Tujuan dari fase ini adalah untuk mengidentifikasi dan menyebarkan gambaran-gambaran yang memberikan pengharapan di masa depan. Pada fase selanjutnya, design, melibatkan penentuan pilihan mengenai “apa yang seharusnya”. Fase ini adalah penciptaan kembali atau transformasi yang dilakukan secara sadar mengenai sistem, struktur, strategi, proses, dan berbagai aspek organisasi. Gambaran akan menjadi teratur dan berhubungan secara penuh dengan masa lampau organisasi yang bersifat positif dan memiliki potensi yang tertinggi. Terakhir, fase destiny merupakan serangkaian tindakan-tindakan yang mendukung pembelajaran dan inovasi. Karena seluruh siklus 4-D menyediakan sebuah forum terbuka bagi karyawan untuk memberikan kontribusi dan melangkah ke depan dalam menjalankan organisasi, perubahan terjadi dalam semua fase dalam proses AI. Fase destiny, secara spesifik berfokus pada komitmen serta langkah ke depan baik secara personal maupun organisasi Hasilnya adalah perubahan dari seluruh organisasi dalam bidang-bidang seperti praktek-praktek manajemen, proses-proses SDM, sistem pengukuran, sistem layanan pelanggan, struktur dan proses kerja dan aspek lainnya. Mungkin ada baiknya Anda mencoba pendekatan ini dalam melaksanakan perubahan organisasi. <Trust> *GM Strategic Services The Jakarta Consulting Group |
|