|
||||||
.: PUBLICATIONS :. Articles |
Sebelumnya dalam kolom ini kita berturut-turut membahas mengenai berpikir lateral, kemudian appreciative inquiry. Kedua topik ini intinya berbicara bagaimana cara kita memandang suatu fenomena dengan cara yang berbeda. Kali ini dengan semangat yang sama kita berbicara mengenai mindset. Acap kita mendengar kata-kata mindset, dan sering pula didapuk sebagai peran utama dalam perubahan. Katanya, upaya perubahan tidaklah berjalan mulus atau bahkan sia-sia, jika tidak diawali atau disertai perubahan mindset. Mungkin perubahan hanya berjalan sementara, lantas kembali lagi ke asalnya (pseudo change). Tetapi apakah sejatinya mindset itu? Mindset boleh dikatakan sebagai cara pandang dalam melihat dunia, yang dengan sendirinya akan mempengaruhi dalam mememecahkan masalah dan mengambil keputusan. Mindset merupakan posisi atau pandangan mental seseorang yang mempengaruhi pendekatan orang tersebut dalam menghadapi suatu fenomena. Mindset terdiri dari seperangkat asumsi, metode, atau catatan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang tertanam dengan sangat kuat. Karena telah mengakar, maka menciptakan dorongan yang sangat kuat bagi seseorang atau kelompok untuk terus mengadopsi perilaku, pilihan, dan perangkat yang sudah ada itu. Bagaimana dengan mindset organisasi? Reynard mendefinisikannya sebagai sebuah ukuran yang mendasari sikap, asumsi, dan keyakinan dari manajemen. Ini berhubungan dengan hal-hal seperti strategi pengurangan biaya, strategi pertumbuhan, kepuasan pelanggan, dan employee security. Melihat posisinya yang demikian penting, langkah awal melakukan perubahan adalah merubah mindset. Transformasi organisasi diawali dengan mentransformasikan mindset terlebih dahulu. Upaya transformasi sering gagal karena para pemimpin tidak memiliki mindset yang ‘pas’ bagi kesuksesan perubahan. Mindset ‘lama’ menghalangi untuk merasakan denyut dinamika perubahan yang mereka hadapi. Konsekuensinya, mereka merespon dengan strategi dan taktik yang salah pula. Mereka membuat keputusan yang keliru, melewatkan hal yang penting, dan memicu resistensi dari karyawan. Mindset lama sering menjadi penghalang perubahan. Keyakinan bahwa kecepatan adalah hal terpenting menyebabkan para pemimpin mendorong perubahan lebih cepat dari “kesanggupan” karyawan, yang akhirnya justru memperlambat perubahan. Keyakinan bahwa tidak cukup tersedia sumberdaya menyebabkan para pemimpin memperlambat perubahan. Keyakinan bahwa perubahan harus dikendalikan dengan segala cara, sering menyebabkan para pemimpin secara kaku mengikuti rencana proyek yang telah ditentukan sebelumnya. Padahal keberhasilan juga memerlukan perbaikan secara berkala yang disesuaikan dengan perubahan situasi. Keyakinan para pemimpin bahwa tanggungjawab yang paling utama adalah memastikan kesuksesan departemen, daerah, dan proses masing-masing telah menyebabkan pertentangan dan persaingan antar mereka. Ini juga menghalangi para pemimpin untuk mengintegrasikan inisiatif perubahan mereka, menyebabkan pemborosan dan kekacauan yang menghabiskan sumberdaya perusahaan dan memperlambat perubahan. Tampaknya para pemimpin memang harus memiliki kemampuan untuk melihat mindset mereka sendiri, apakah sudah “benar” atau “keliru”. Disinilah masalahnya: ketidaksadaran terhadap kesalahan mindset. Ini bisa berakibat fatal. Bukankah pemimpin memiliki otoritas dan kekuasaan, yang dampaknya sangat besar? Nah, apakah kita sudah menguji mindset kita? Jangan-jangan mindset kita sudah usang dan tidak sesuai dengan situasi baru. Situasi bisnis yang digambarkan penuh ketidakpastian, cepat, dan chaotic. Kabarnya, dalam The New Standard Mindset, perencanaan diganti dengan tindakan, pengendalian hirarkis dengan pengendalian network, efisiensi dengan efektivitas, dan kepemimpinan otoritatif dengan kepemimpinan demokratis. Organisasi mengembangkan dan mengimplementasikan konfigurasi baru, yang bertujuan untuk memfasilitasi kebutuhan manajemen yang sangat mendesak seperti empowerment, kecepatan, inovasi, dan lain-lain. Lantas muncullah True-based Organization, Self-Managing Team, Struktur Virtual, dan perangkat untuk bersaing dalam ”era baru”. <Trust> *GM Strategic Services The Jakarta Consulting Group |
|