logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



Adikarya Wisata
Himawan Wijanarko*


Kembali dunia pariwisata Jakarta  terguncang oleh bom. Kelesuan dunia pariwisata tampak di pelupuk mata. Namun sesungguhnya kelesuan wisata ini juga sudah terbayang, seandainya tidak ada bom sekalipun. Di tengah persaingan global, kualitas industri pariwisata kita masih harus dipacu. Salah satu pemacunya adalah pemberian penghargaan (award).  

Award sangat bermakna bagi perusahaan dalam konteks branding. Dalam branding, citra positif perusahaan yang ditopang oleh publisitas akan mempunyai efek yang lebih panjang jangkauan dan waktunya. Publisitas oleh pihak eksternal ini menjadi lebih berbobot jika didukung pengakuan atas keunggulannya dibandingkan dengan pesaing. Tidak heran jika belakangan ini bermacam-macam award beredar di pasaran. Dalam kondisi seperti ini award dari lembaga yang kompeten dan mempunyai kredibilitas tinggi menjadi sesuatu yang sangat bermakna.

Berbeda dengan penghargaan-penghargaan lainnya, Adikarya Wisata 2004 mempunyai motif berupa pembinaan industri yang tercakup di dalamnya. Pembinaan berupa langkah konsolidasi internal agar industri pariwisata Jakarta benar-benar siap dalam menyambut dan melayani wisatawan. Menilik karakteristiknya, wisatawan yang datang ke Jakarta berbeda dengan wisatawan yang datang ke Bali misalnya. Wisatawan yang datang ke Jakarta didominasi oleh motivasi bisnis dibanding leisure. Untuk membuat wisatawan tipe ini betah berlama-lama di Jakarta tentu saja tidak cukup dengan program promosi “Enjoy Jakarta” semata. Diperlukan kesiapan infrastruktur dan layanan yang memadai untuk mendukungnya. Mulai dari biro perjalanan yang tidak hanya melayani tiket, hotel tempat menginap yang nyaman, restoran dengan sajian istimewa, Event Organizer yang profesional, hiburan dan atraksi wisata yang menarik serta jasa terkait lain yang tak kalah bagusnya.

Bekerja sama dengan The Jakarta Consulting Group, Dinas Pariwisata DKI Jakarta telah mereposisi anugerah wisata tertinggi di DKI Jakarta ini sebagai “Sistem Pembinaan Manajemen Mutu”. Adikarya Wisata 2004 ini benar-benar berbeda dengan anugerah sebelumnya, baik dalam konsep, sistem penyelenggaraan, kepanitiaan, sampai kepada dewan jurinya. Sebagai sistem pembinaan, Adikarya Wisata 2004 ini didesain tidak hanya untuk mencari pemenang semata. Tetapi juga memotivasi peserta untuk melakukan perbaikan berkelanjutan (continues improvement). Hal ini tidak sekedar sebagai harapan normatif tetapi diwujudkan dengan diintrodusirnya Tourism Industry Scorecard.

Dalam konsep anugerah ini, semua industri pariwisata dinilai sebagai unit bisnis yang beroperasi semata-mata berorientasi bisnis, bukan kegiatan sosial. Dengan latar belakang ini sistem penilaian Tourism Industry Scorecard didasarkan atas pendekatan operasi bisnis unggul yang seimbang antara proses dan hasil. Dimensi approach menjawab pertanyaan yang dimulai dengan WHAT, terutama terkait dengan sistem. Dimensi deployment lebih menjawab pertanyaan yang dimulai dengan HOW yang terutama terkait dengan value creation. Sedangkan dimensi result mengukur value delivery, tren, dan pengaruhnya. Aspek yang dinilai mulai dari kepemimpinan dan budaya organisasi yang berperan sebagai driver, strategi organisasi yang membuatnya unggul dalam kompetisi, fokus pada pelanggan dan pasar, pengembangan profesional melalui manajemen SDM, manajemen proses yang menjamin delivery, sampai penerapan dimensi hospitalitas di lapangan.

Selain menggandeng The Jakarta Consulting, kredibilitas dan bobot kewibawaan anugerah ini ditopang oleh lebih dari dua lusin anggota dewan juri yang dipilih berdasarkan kriteria yang sebelumnya telah disusun secara ketat. Mencakup baik integritas, ketokohan dan profesionalisme per individu di bidangnya masing-masing maupun dalam matriks kompetensi secara tim. Jadi berangkat dari kriteria perorangan dan komposisi secara tim yang ketat ini barulah dipilih siapa-siapa orang yang tepat mengisinya, dan bukan sebaliknya. Selain itu, fairness misalnya, dibangun dengan aturan seorang juri tidak boleh menilai industri dimana ia memiliki kepentingan bisnis langsung dan perusahaan atau instansi dimana ia berada juga tidak boleh mengikuti proses penilaian. Lebih jauh, anugerah ini tidak dimaksudkan untuk obral atau arisan, karena satu anugerah berlaku untuk tiap sub-kategori. Sebagai commitment to excellent, Dewan Penilai bahkan mempunyai wewenang penuh untuk tidak memberikan anugerah pada suatu subkategori yang dinilai tidak memenuhi syarat menjadi pemenang.

Dengan demikian anugerah ini dapat mencerminkan citra, reputasi dan jaminan (assurance) keunggulan produk dan jasa pariwisata yang diakui. Apalagi industri pariwisata berurusan dengan pergerakan manusia beserta pemenuhan kebutuhannya yang spesifik. Wisatawan yang datang dan ingin menikmati Jakarta tentu membutuhkan referensi terpercaya dalam menentukan pilihan, dan anugerah ini salah satu jawabannya. <Trust>


*GM Strategic Services The Jakarta Consulting Group