|
||||||
.: PUBLICATIONS :. Articles |
Krisis BBM. Krisis ekonomi. Bom Bali. Krisis lagi. Ketika kita berhadapan dengan krisis, yang terbayangkan adalah kesulitan, dan yang terekspresikan adalah kecemasan. Wajar. Manusiawi. Apa bedanya kecemasan dan ketakutan? Kecemasan terbentuk sebagai reaksi terhadap bayangan atau perkiraan apa yang akan terjadi. Bisa jadi merupakan perkiraan konsekuensi terhadap peristiwa saat ini. Ketakutan adalah reaksi terhadap sesuatu yang riil. Jika seorang wisatawan mendengar suara bom dan kemudian lari, itulah ketakutan. Jika seorang wisatawan membatalkan keberangkatannya ke Bali karena khawatir ada bom lagi, itulah kecemasan. Dalam krisis terbayang sebuah kecemasan. Ahli sejarah mengatakan krisis sebagai turning point in history/life, suatu titik balik dalam kehidupan. Dampaknya memberikan pengaruh yang hebat. Bisa negatif, bisa pula positif. Tergantung reaksi yang ditunjukkan oleh individu, kelompok masyarakat atau suatu bangsa. Ahli strategi menyatakan sebagai zero hour, tidak ada waktu untuk berdiam diri, harus segera melakukan tindakan tertentu. Ada desakan waktu, sehingga penundaan suatu tindakan akan membawa konsekuensi negatif. Menurut definisi psikologi, krisis adalah perubahan tiba-tiba yang dihadapi individu. Situasi ini menuntut adjustment dan acap menciptakan stres. Dalam menghadapi krisis terdapat dua kemungkinan: seseorang dapat mengatasi situasi krisis dengan baik, akan ‘lebih kuat’ dalam menghadapi krisis berikutnya, sebaliknya seseorang yang tidak dapat mengatasi dengan baik akan lebih rentan dalam menghadapi krisis berikutnya. Jadi bagaimana keadaan kita setelah melewati krisis tahun 1998? Lebih kuat ataukah justru lebih rentan dalam menghadapi krisis pada saat ini? Persepsi mengenai krisis adalah modal utama dalam menghadapi sebuah krisis. Optimisme dan sudut pandang positif akan memberi energi yang luar biasa untuk keluar dari sebuah krisis, bahkan dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk meraih puncak keberhasilan yang lebih tinggi. Dalam menghadapi krisis kita dipaksa untuk konsolidasi, memperbaiki diri sebagai sarana pembaharuan. Tidak dapat dipungkiri krisis selalu datang bersama threat, tetapi yang harus digali adalah opportunities yang sebenarnya terbuka justru karena adanya krisis. Krisis meminta perhatian lebih dari para pemimpin di level atas maupun di tingkat yang lebih bawah. Krisis umumnya menyebabkan keteraturan kerja tidak dapat lagi dipertahankan seperti apa adanya, terjadi chaos dalam derajat tertentu. Yang terpenting bagaimana mengambil hikmah dari ketidakteraturan yang terjadi dan mencari jalan keluarnya dalam menghadapi krisis. Tiga hal yang perlu diperhatikan adalah speed, priority, flexibility. Speed merupakan salah satu elemen utama karena kondisi krisis membutuhkan kecepatan tindakan, tidak dapat menunggu perombakan strategi atau taktik secara rinci. Jika tidak segera diselesaikan, krisis dapat berkepanjangan dan memberikan dampak negatif yang lebih hebat. Namun kecepatan tindakan harus didahului oleh ketepatan pemilihan alternatif tindakan yang akan dilakukan, yaitu priority. Penentuan prioritas tindakan dalam menghadapi krisis berdasarkan dua pemikiran. Pertama, pemikiran praktis dan taktis untuk mencegah agar pengaruh krisis tidak berkembang secara cepat harus segera dilaksanakan. Kedua, pemikiran strategis dan visioner, melalui telaah dampak jangka panjang krisis, dan peluang-peluangnya. Berikutnya adalah fleksibilitas. Kondisi krisis biasanya menimbulkan beragam problema sampingan dan efek berantainya kadang-kadang tidak dapat diidentifikasi dengan jelas. Sehingga perlu alternatif tindakan dan tidak hanya terfokus pada satu penyelesaian saja. Konsekuensinya, mengevaluasi kemungkinan perkembangan krisis dan menyusun skenario-skenario yang dimulai dari skenario the best hingga the worst, dari yang paling mungkin sampai yang paling tidak mungkin terjadi. Dalam menghadapi krisis speed, priority dan flexibility tidak dapat berdiri sendiri-sendiri karena ketiganya saling melengkapi. <Trust> *GM Strategic Services The Jakarta Consulting Group |
|