logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



Mengapresiasi (Reformasi) Indonesia
Himawan Wijanarko*


“Harapan akan memberi inspirasi untuk melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan ke arah yang lebih baik”

Sewindu sudah reformasi berjalan, dan kita berhadapan dengan ketidakjelasan hasilnya. Bukan hanya citra bangsa di mata bangsa lain, tetapi juga di mata bangsa sendiri demikian terpuruk. Kita merasakan sesak di dada tatkala kita merasakan betapa besar masalah yang dirundung bangsa ini. Kita jadi pesimis, dan seolah tak ada lagi jalan keluar. Bahkan ada yang sangat pesimis, Indonesia akan bubar. Wah !

Negara Indonesia adalah organisasi yang sangat besar, dengan permasalahan yang sangat kompleks. Jadi reformasi sebenarnya adalah perubahan sebuah organisasi yang bernama negara Indonesia. 

Membedah perubahan organisasi, kita dapat bercermin kepada organisasi yang lebih kecil, perusahaan misalnya. Kita coba pendekatan yang berlandaskan pemikiran positif, apreciative inquiry (AI), yang kira-kira artinya menghargai dan sekaligus menyelidiki (kemungkinan – kemungkinan pengembangannya).

Mengapa AI? Karena kita senang mempelajari dan memanfaatkan apa yang menjadi hal terbaik pada diri kita. AI menawarkan model untuk memanfaatkan imajinasi dan keinginan masing-masing individu terhadap organisasi yang diimpikannya dalam sebuah proses yang dapat diterapkan kepada organisasi secara keseluruhan maupun salah satu bagian dalam organisasi. Proses ini dicapai dengan menggunakan variasi dari empat proses dasar berikut ini.

Pertama, bawalah hal yang baik dari masa lalu ke masa depan. Proses ini dimulai menelusuri hal-hal terbaik yang ada di masa lalu. Adalah penting untuk diperhatikan bahwa penelusuran ini berfokus pada hal-hal yang ingin dibawa ke masa depan –termasuk mengenai bagaimana orang-orang menilai dirinya sendiri dan pekerjaannya, dan apa yang menjadi harapan mereka di masa depan.

Kedua, manfaatkan kekuatan imajinasi dan impian. Proses ini menciptakan berbagai macam kemungkinan dan menumbuhkan hasrat untuk melakukan perubahan melalui imajinasi. Selama sebuah organisasi berada dalam proses ini, beberapa kelompok kecil dari anggota organisasi diundang untuk menggambarkan atau memimpikan, tanpa ada batasan-batasan, seperti apa organisasi yang diimpikan atau diinginkan. Ini memang serupa dengan visi suatu organisasi, tetapi memiliki beberapa perbedaan. Terutama, mimpi ini didasarkan pada kenyataan yang terjadi saat ini maupun masa lalu.

Ketiga, menciptakan blueprint untuk perubahan yang mengintegrasikan masa lalu dan masa depan. Hasrat meraih masa depan menciptakan gejolak yang dapat memotivasi perubahan. ”Gejolak” kreatif ini merupakan ’alat’ untuk mendesain perubahan, dengan menelurkan cita-cita yang ”berani” sebagai hasil dari proses imajinasi dan impian. Nah, ini mungkin yang tidak kita jumpai dalam reformasi negara ini: sebuah cita-cita yang jelas dan berani, serta perangkat pendukungnya berupa sebuah blue print.

Keempat, mulailah melakukan remodeling dengan menyesuaikan sumberdaya yang ada dengan minat dan kemampuan yang dimiliki. Hal-hal yang diinginkan dari masa lalu dibawa ke masa depan. Imajinasi kolektif dari anggota-anggota organisasi telah menciptakan organisasi yang diimpikan. Blueprint telah dirancang, dengan mempertimbangkan siapa, apa, bagaimana, dan kapan sebuah rencana yang jelas dan tersusun rapi diperlukan. Kemudian transformasikan rancangan yang telah disusun menjadi kenyataan. Kuncinya adalah komitmen dan rasa tanggungjawab anggota organisasi. Barangkali inilah salah satu kelemahan pelaku reformasi negara ini: lemahnya komitmen dan tanggung jawab.  

Sejatinya prinsip utama adalah menarik pikiran menuju hal-hal positif. Orang tidak termotivasi oleh ketakutan dibandingkan dengan harapan. Jika kita sudah berpendapat Indonesia akan bubar, tentu tidak menimbulkan motivasi yang kuat.   Kecemasan akan memicu penghindaran terhadap perubahan ke arah yang lebih baik. Sementara harapan akan memberi inspirasi untuk melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan ke arah yang lebih baik.

Bagaimana kalau ini kita terapkan AI untuk negara tercinta: rengkuhlah harapan dengan mengapresiasi sisi-sisi positif bangsa ini, dan lakukan inquiry hal-hal positif apa yang dapat dikembangkan. Misalnya negara Indonesia yang kaya keindahan alam, bangsa yang memiliki keragaman budaya, orang Indonesia yang murah senyum. Bukankah ini potensi pariwisata yang sangat besar?  Paling tidak daripada menunggu investasi yang tak kunjung meningkat, dan ekspor yang menghadapi kompetisi yang sangat berat. Mengapa kita tidak memanfaatkan sisi positif (potensi) ini keluar dari krisis , dengan memberi perhatian lebih kepada pariwisata? <Trust>


*GM Strategic Services The Jakarta Consulting Group