|
||||||
.: PUBLICATIONS :. Articles |
Small is beautiful. Pameo yang menggambarkan betapa istimewanya usaha kecil ini, acap naik turun seiring dengan pasang surutnya jaman. Tapi bagi bank-bank yang sekarang sedang kebingungan menyalurkan kreditnya, tampaknya perlu mempertimbangkan kembali ungkapan ini. Inilah yang dilakukan Danamon. Danamon menggelar program Danamon Simpan Pinjam (DSP) yang menyalurkan kredit mikro, tentu saja kepada pengusaha liliput. Besarnya antara satu sampai sepuluh juta rupiah. Sejak awal tahun ini sudah dibuka 131 gerai DSP di berbagai kota. Rencananya akan menjadi dua ratus gerai pada akhir tahun ini. Dana yang diguyurkan limaratus hingga enam ratus Milyar Rupiah. Tahun depan ditambah lagi menjadi enam ratus gerai. Menurut perkiraan Danamon Indonesia baru mampu melayani 36 persen dari 19,5 juta pelaku usaha mikro dan kecil. Bunga yang ditetapkan juga cukup tinggi dibanding dengan kredit konsumsi seperti KPM atau KPR, bahkan lebih tinggi dari kartu kredit. Sehingga masih ’aman’ untuk membiayai operasi dan mengantongi laba. Tapi bukankah resiko usaha kecil ini cukup tinggi, potensi kredit macetnya (NPL) tinggi? Ternyata kenyataannya tidak demikian. Lihatlah data BRI yang telah puluhan tahun menggeluti bidang ini. Sampai Juni 2004, dari kredit Rp. 16,9 triliun yang dikucurkan, kredit macetnya hanya 2,65 persen. Dan ternyata dari pengalaman, NPL kredit mikro tidak pernah melampaui tiga persen. Prestasi ini jauh lebih baik dari kredit umum. Menurut BRI, usaha mikro lebih responsif terhadap perubahan pasar, lebih tahan terhadap gejolak ekonomi dan efisien dalam penggunaan modal. Ketahanan usaha mikro sudah terbukti terhadap krisis ekonomi. Kinerja pinjaman mikro BRI Unit di era krisis ekonomi justru meningkat, dan tanpa disertai peningkatan NPL yang signifikan! Karena setiap debitur nilai kreditnya kecil, diversifikasi portfolio sangat menyebar. Disertai selektifitas dan upaya pemantauan yang baik, resikonya pun dapat ditekan. Mereka relatif lebih mudah diatur dari pada debitur besar yang sering banyak akalnya dan mempunyai ’power’ untuk mengatur bank. Bank yang bergerak di microbanking ini telah memberikan akses perbankan kepada masyarakat yang sebelumnya unbankable. Mereka sebelumnya harus berhubungan dengan para rentenir dengan bunga yang sangat tinggi. Sebenarnya PBB telah mendeklarasikan tahun depan sebagai ”The Year of Microcredit” sebagai upaya untuk mengurangai kemiskinan. Kita tahu agenda utama PBB abad ini adalah mengurangi separuh penduduk miskin pada tahun 2015. Jadi ceritanya bagi lembaga keuangan yang bergerak di keuangan mikro ini selain membantu mengentas kemiskinan, sekaligus mendapat untung. Membantu orang lain tetapi juga untung. Awal kredit mikro di Indonesia memang bernafaskan charity, ketika pemerintah meluncurkan program Bimas yang disubsidi. BRI-Unit yang menjadi pelaksananya sempat kelabakan ketika program ini dihentikan. Merekapun harus bertransformasi menjadi unit usaha komersial. Kenyataan BEP diraih dalam dua tahun, dan dalam tahun ketiga operasi secara komersial sudah bebas subsidi. Para debitur cilik ini, telah memberikan keuntungan yang memadai sehingga dapat membiayai operasional. Karena pengalamannya inilah, BRI telah mendapatkan tempat yang terkemuka dalam microfinance di dunia. Melalui Desk International Visiting Program yang bekerjasama dengan World Bank, telah menerima ribuan tamu dari 48 negara yang belajar mengenai praktek microbanking. Microbanking adalah sebuah alternatif pasar yang menarik, dan makin banyak bank yang meliriknya. Tapi tentu harus hati-hati dalam mengembangkannya. Kebetulan pada awal Desember ini ada event internasional di Bali mengenai microbanking yang biasanya diselenggarakan di New York atau Washington. Bagi bank yang kesulitan menyalurkan dananya, microbanking adalah pasar yang menarik di negara berkembang seperti kita. <Trust> *GM Strategic Services The Jakarta Consulting Group |
|