logo
  
   

.: PUBLICATIONS :.

Articles
Brand & Marketing
Balance Scorecard
Career
Corporate Identity
Corporate Culture
Family Business
Holding
Human Resources
Leadership
Oil & Gas
Organization Development
Quality
Soft Skill
Strategy
Others



Seratus Hari
Himawan Wijanarko*


Lagu Kris Dayanti “Menghitung Hari” tampaknya akan diingat orang menjelang hari keseratus pemerintahan SBY. Di akhir program seratus hari, orang pun akan bertanya apa yang berubah setelah seratus hari? Opini pun akan berseliweran, ada yang positif, ada yang negatif, ada yang netral.

Apapun pendapatnya, kita tidak akan mungkin mengharapkan masalah-masalah strategis dan bersifat jangka panjang dapat diselesaikan dalam seratus hari. Apa sebenarnya yang diharapkan masyarakat?  Perubahan!  Program ”Seratus Hari” harus dikomunikasikan sebagai sarana change awareness, bahwa  perubahan itu memang akan dilakukan. Jangan sampai terjadi salah persepsi dan justru akan menjadi bumerang. Ketika ekspektasi masyarakat terlalu tinggi, dan mereka merasa harapannya tidak  terpenuhi di hari keseratus, maka semangat untuk berubah menjadi luntur. Jadi mengkomunikasikan apa tujuan ’program 100 hari’ harus benar-benar jelas. Sebuah upaya social marketing harus diterapkan.

Program seratus hari adalah bagian dari action plan, perencanaan jangka pendek. Di atasnya adalah strategic plan yang merupakan penjabaran dari strategi. Dan hiraki tertinggi adalah visi, yang menyatakan kemana kita akan menuju di masa depan, sebuah jendela masa depan.

Janji kampanye adalah janji perubahan. Suatu pergeseran dari kondisi masa kini yang pahit dan getir menuju kondisi yang diinginkan, masa depan yang penuh harapan.  Kondisi yang diinginkan inilah yang mesti tertuang dalam sebuah visi. Tentu saja bersifat jangka panjang.

Untuk mencapai pulau harapan, perubahan yang diperlukan adalah perubahan yang direncanakan (planned change) dan dikelola (managed change) ingat perubahan selalu berwajah ganda, satu wajah menuju kebaikan dan wajah lainnya menuju kehancuran.

Seyogyanya perubahan mencakup tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap implementasi dan tahap pengelolaan hasil perubahan. Dalam tahap persiapan, mesti dirumuskan bentuk-bentuk perubahan yang perlu dilaksanakan, serta mengembangkan strategi dan kerangka kerja untuk melaksanakan aktivitas perubahan ini. Strategi yang ditetapkan sebaiknya berdasarkan ‘skenario masa depan’ yang tidak berharga mati, dengan mengikutsertakan contingency plan.

Implementasi perubahan memerlukan keteguhan niat karena seringkali terdapat ketidakjelasan hasil dalam masa-masa tertentu, yang berakibat munculnya godaan-godaan untuk merubah arah yang telah digariskan.

Dalam implementasi perubahan, harus dipertimbangkan dan diseimbangkan masalah-masalah yang bersifat teknis, politis, dan budaya. Juga harus dilaksanakan dalam jangka waktu yang tepat. Terlalu lama, hasil yang disasarkan tidak tercapai karena kehilangan momentum. Terlalu cepat, ‘korban’ nya banyak Tantangan yang besar juga dihadapi pasca implementasi perubahan, yaitu bagaimana mengelola hasil perubahan.

Dalam melaksanakan perubahan  terdapat tiga kaidah yang selalu melekat  dalam proses perubahan dan harus selalu dicermati. Pertama adalah Law of Native. Perubahan yang dilakukan harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Kaidah  kedua, adalah Law of Chaos. Harus disadari, bahwa dalam setiap perubahan pasti timbul kekacauan. Kita harus menerima fakta ini dan memiliki strategi yang tepat untuk mengelola kondisi tersebut. Berikutnya, adalah Law of Eden. Agar orang mau berubah tentu harus dijanjikan ‘surga’. Perubahan membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Jika tidak ada iming–iming kondisi yang lebih baik, tentu  orang enggan untuk melaksanakan perubahan.

Jadi mesti diingat bahwa program seratus hari, dan segala pola pikir jangka pendek harus diimbangi visi dan strategi jangka panjang, yang hasilnya tidak dapat dirasakan segera, bahkan membutuhkan pengorbanan. Anak-anak akan memilih permen yang diberikan hari ini, daripada sepeda yang diberikan pada tahun depan. Kita harus mendewasakan  masyarakat kita untuk berpikir jangka panjang. <Trust>


*GM Strategic Services The Jakarta Consulting Group