|
|
17 February 2009 14:36
17 February 2009 14:35
17 February 2009 14:35
17 February 2009 14:34
17 February 2009 14:33 Majalah Eksekutif
Teka-Teki Suksesi Perusahaan Keluarga
A. B. Susanto*
Suksesi barangkali merupakan masalah paling pelik dalam keberlangsungan perusahaan keluarga. Menurut The Mass Mutual Financial Group, dari 24 juta perusahaan keluarga di Amerika Serikat, 55% perusahaan yang CEO-nya berusia lebih dari 61 tahun dan diharapkan untuk pensiun, dalam lima tahun terakhir belum memilih seorang penerus. Bagaimana dengan di Indonesia? Menurut Survei The Jakarta Consulting Group, ternyata hanya 59% perusahaan keluarga kelas menengah atas di Indonesia yang mempersiapkan penerus melalui perencanaan suksesi.
Padahal Ward menemukan hanya 20% perusahaan keluarga di Amerika Serikat yang bisa bertahan melampaui 60 tahun pada keluarga yang sama. Tetapi, mengapa fenomena ini bisa terjadi?
Salah satu penghambat perencanaan suksesi adalah karena pemilik mengangggap suksesi berkaitan dengan kematian. Di sisi lain anak-anaknya memiliki kekhawatiran terhadap kemampuan mereka tanpa kehadiran orang tua. Sebagian anak khawatir akan pecahnya konflik sepeninggal orang tua mereka.
Bagi pemilik, perusahaan adalah bagian dari identitas mereka sehingga menimbulkan keengganan untuk melakukan suksesi. Mereka khawatir apakah penerus mereka akan menghormati warisan pendahulunya atau malah menghancurkannya.
Pemilik juga menghadapi dilema saat harus memilih salah seorang dari anak-anaknya untuk melanjutkan kepemimpinan. Ini bukanlah hal yang mudah karena dapat berpotensi menyalahi prinsip memberikan perlakuan yang sama kepada setiap anak.
Hal lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah adanya figur pemilik, yang sekaligus sering berperan sebagai ayah, yang sangat berkuasa. Berada di bawah bayang-bayang kepemimpinan pemilik memang tidak mudah, terutama bagi anak laki-laki pertama yang dianggap sebagai penerus potensial kepemimpinan perusahaan. Seperti yang dialami oleh Thomas Watson Jr, anak pendiri IBM Thomas Watson Sr. Pada masa mudanya ia merasa tidak mampu memenuhi harapan-harapan ayahnya untuk meneruskan usaha yang dirintis ayahnya. Ia memandang ayahnya sebagai orang yang begitu berpengaruh, sehingga Watson Jr. merasa sebagai seorang yang tidak memiliki arti penting, dan membuatnya sering merasa tidak yakin terhadap kemampuannya.
Opsi Suksesi
Keluarga memiliki beberapa opsi pada saat harus memutuskan masalah suksesi. Namun setiap opsi yang ada akan menimbulkan konsekuensi tersendiri. Apakah akan tetap diberlakukan aturan bahwa anak pertamalah yang akan dipilih untuk meneruskan kepemimpinan perusahaan? Bagaimana jika anak pertama bukan yang paling capable atau tidak tertarik untuk menjalankan bisnis perusahaan?
Memang terdapat solusi yang praktis dalam mengatasi masalah suksesi ini. Misalnya dalam bentuk pembagian kepemilikan dan manajemen ataupun sistem rotasi dalam kepemimpinan perusahaan. Tetapi strategi ini berpotensi menyebabkan kelumpuhan organisasi. Namun jika berjalan dengan baik, akan sangat bermanfaat. Agar berhasil, perlu sikap saling percaya diantara para anggota keluarga. Solusi lain adalah merekrut manajer profesional yang berasal dari luar anggota keluarga yang memfokuskan diri pada usaha-usaha meningkatkan kinerja perusahaan, ketimbang berurusan dengan perselisihan dan konflik diantara anggota keluarga.
Solusi lainnya adalah membagi-bagi atau memecah bisnis yang ada, dimana setiap anak memimpin unit bisnis atau departemen yang berbeda. Ini dapat memberikan nilai tambah yang tinggi serta dapat mencegah perpecahan keluarga lebih jauh. Pilihan berikutnya adalah menjual perusahaan, go public, ataupun likuidasi.
Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang harus memilih pengganti? Apakah pemimpin yang ada sekarang? Dewan keluarga? Dewan direksi? Atau gabungan dari seluruh unsur di atas? Apakah anak-anak perlu diberi kesempatan untuk menentukan pilihan diantara mereka sendiri? Namun karena proses psikologis sangat mempengaruhi penilaian, maka keputusan sebaiknya jangan hanya dibuat oleh satu pihak.
Hambatan Suksesi
Leburnya identitas bisnis perusahaan dengan identitas pribadi pendirinya menyebabkan pendiri enggan untuk sepenuhnya menyerahkan kekuasaan yang dipegangnya kepada orang lain. Keengganan ini berakar pada kecenderungan untuk belum bisa mengakui kemampuan penerusnya. Padahal, tidak mungkin pendiri bisa memimpin selamanya. Namun masalah akan timbul jika kepemimpinan harus dialihkan secara tiba-tiba. Regenerasi jelas membutuhkan waktu, makin pendek masa transisi maka makin besar potensi untuk munculnya beragam masalah. Dengan demikian, mutlak diperlukan persiapan khusus bagi para penggantinya untuk bisa optimal menahkodai bahtera perusahaan. Hal ini tidak hanya berlaku di Indonesia, tetapi sudah menjadi isu global. Sebagai ilustrasi, di Amerika Serikat, hanya 28% dari perusahaan keluarga yang mempunyai rencana suksesi dengan hati-hati, sedangkan yang lain hanya menyiapkan warisan.
Perencanaan suksesi merupakan sesuatu yang pelik dan membuat pendiri enggan untuk melakukannya. Keengganan tersebut bisa saja karena kekhawatiran akan matinya perusahaan, keengganan untuk menyerahkan kendali atas perusahaan, ketakutan akan hilangnya identitas diri, atau bahkan perasaan cemburu atau rivalry terhadap penerusnya. Alasan lain tidak dipersiapkannya suksesi adalah pendiri merasa generasi muda tidak tertarik untuk berpartisipasi di perusahaan, atau sulit untuk menentukan anak mana yang berkompetensi untuk meneruskan bisnisnya. Sementara si anak merasa memiliki beban untuk memajukan perusahaan sebagaimana yang telah dilakukan orang tuanya atau beban untuk mempersatukan anggota keluarga bila terjadi konflik internal.
Fenomena keruntuhanterutama karena tiga alasan berikut ini: generasi penerus yang kurang persiapan, fragmentasi keluarga saat perusahaan menjadi lebih besar dan bertambahnya anggota keluarga, dan lingkungan emosional yang diciptakan oleh generasi yang sedang memimpin. Alasan pertama bersumber dari keluarga, sementara dua alasan terakhir berdasarkan alasan bisnis. Apapun dilema atau isu di dalam perusahaan keluarga, kunci untuk mencapai sukses terletak pada keluarga tersebut. Seperti yang terjadi di perusahaan Laird Norton di Seattle yang telah berlangsung selama hampir 150 tahun dengan 6 generasi.
Meski para pendiri perusahaan keluarga menyadari pentingnya suksesi, namun mereka sering menghadapi penghalang psikologis. Salah satu penghalang yang sulit dihilangkan adalah keengganan pemilik perusahaan untuk berfikir tentang kematian pada saat mereka masih merasa sehat dan kuat. Hal ini memang sulit bagi semua orang. Pada akhirnya mereka mungkin mencari-cari alasan agar terhindar dari hal-hal yang berhubungan dengan perencanaan suksesi.
Untuk membahas perencanaan suksesi, perlu dibicarakan pula dukungan kepemimpinan dan proses perencanaan suksesi. Ward menyebutkan bahwa 40% dari seluruh perusahaan di dunia mengantisipasi atau menghadapi proses suksesi saat ini, yaitu pelimpahan bisnis dari generasi senior yang sedang menguasai bisnis ke kepemimpinan dan kepemilikan generasi berikutnya.
Masih menurut Ward, sekitar 25 tahun yang lalu, hanya 5-10% perusahaan keluarga di Amerika Serikat yang dimiliki dan dijalankan oleh tim dari saudara-saudara sekandung. Sisanya dipimpin oleh pemimpin-pemimpin tunggal, terutama laki-laki. Dewasa ini, 40-50% perusahaan keluarga di Amerika Serikat akan dimiliki dan dipimpin oleh kelompok-kelompok kakak beradik.
Bagaimana dengan di Indonesia? Dari hasil survei The Jakarta Consulting Group, prioritas penerus perusahaan keluarga tertumpu pada anak kandung yang bisa diperinci lagi menjadi satu anak kandung (45%) dan beberapa anak kandung (31%). Kriteria lain adalah anggota keluarga yang kompeten (8%), anggota keluarga pemegang saham (7%), anggota keluarga lain (3%), non-anggota keluarga profesional (2%), sesuai keputusan pemegang saham (2%), dan yang lainnya (2%) belum memikirkan bahkan merencanakan suksesi.
Bagaimana persiapan yang dilakukan perusahan keluarga di Indonesia untuk mendukung perencanaan suksesi? Sebanyak 40% responden menyekolahkan calon penerus hingga ke jenjang S1 atau S2, 34% mulai melibatkan calon penerus dalam aktivitas perusahaan, 12% mengikutsertakan dalam job training di perusahaan. Persiapan lainnya adalah dengan mengikutkan mereka dalam internship (magang) di perusahaan lain dan informal training (masing-masing 6%), dan ada yang hanya berdasarkan dukungan senior (1%) dan kharisma/kompetensi yang bersangkutan (1%).
* Managing Partner The Jakarta Consulting Group
|