• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Business Transformation

Menggoyang Si Mapan

SINDO WEEKLY MAGAZINE
Himawan Wijanarko*

Jejaring-jejaring sosial semacam Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan sebagainya, yang saat ini begitu populer, tak pernah memproduksi konten berita, informasi dan gambar-gambar seperti surat-surat kabar, televisi, majalah, dan situs-situs berita  yang lebih dulu eksis. Yang mereka sediakan hanyalah fasilitas dan sarana untuk saling berinteraksi dan  berbagi untuk para penggunanya. Read More ...

Melepas Jerat Keterpurukan

SINDO WEEKLY MAGAZINE
Himawan Wijanarko*

Di penghujung sembilanpuluhan, keuangan Lego babak belur. Perusahaan mainan asal Dernmark ini tergilas  video game dan beragam mainan “modern” lainnya. Di tengah situasi suram ini, Jørgen Vig Knudstorp didapuk sebagai CEO. Knudstorp mengisahkan bahwa saat pertama kali masuk Lego, praktis tidak ada yang berjalan dengan benar di perusahaan yang berdiri tahun 1949 ini. Read More ...

Gemilang Bisnis Rintisan

SINDO WEEKLY MAGAZINE
Himawan Wijanarko*

Gemilang bisnis rintisan sungguh menyilaukan. Kabarnya  raksasa Samsung kepincut  untuk menerapkan budaya rintisan sebagai upaya  mempertahankan “kebugarannya” di tengah gempuran kompetisi yang ketat. Mereka acap menuai sukses dengan cepat, dan menjadi pemuncak perusahaan dunia, macam  Facebook, Twitter, Instagram. Tetapi di balik kemilaunya banyak pula yang meraih kesuksesan sesaat dan kemudian terbenam.  Read More ...

Kebangkitan

Dalam kilasan sejarah, ada perusahaan yang rela bersusah payah melakukan perubahan meski tidak sedang mengalami krisis. Mereka berani mengubah praktek lama yang telah mengakar, mengerahkan sumber daya yang mereka miliki untuk mewujudkan cita-cita menjadi pemimpin industri. Read More ...

Rasio dan Emosi

Bisnis selalu dilandasi rasionalitas agar efisien dan menggaet laba besar.   Namun apakah nurani dan emosi harus diamputasi ?        Perhatikanlah contoh berikut ini. Ada sebuah perusahaan yang memasang sebuah fitur dalam produknya. Namun fitur itu jarang digunakan oleh pelanggan. Secara rasional, perusahaan akan melepas fitur itu dari produknya sehingga biaya produksi turun. Namun setelah perusahaan melakukan hal itu, pelanggan justru protes. Mengapa? Hal ini karena pelanggan sudah terlanjur memiliki ikatan emosional dengan fitur itu meski jarang dipakai. Saat fitur tidak ada, pelanggan merasa kehilangan.

Saat ini, semakin banyak perusahaan kelas dunia yang peduli terhadap sisi emosional manusia dalam berbisnis. Selama ini, orang cenderung didorong untuk mengesampingkan faktor emosi dalam berbisnis. Alasannya: emosi sulit diukur secara kuantitatif  Emosi juga dianggap menyebabkan orang kehilangan objektivitas. Padahal berdasarkan hasil penelitian Gallup, emosi ternyata berperan jauh lebih besar sebagai penentu hasil akhir (business outcomes) pada berbagai industri. Kesalahan yang terjadi selama ini adalah menganggap setiap masalah yang muncul dapat diselesaikan secara rasional. Padahal konteks yang melingkupi setiap masalah seringkali bersifat khas. Ada pula anggapan bahwa semakin banyak informasi, semakin baik keputusan yang dihasilkan. Padahal menurut Kahneman, saat membuat keputusan seseorang ternyata tidak sepenuhnya rasional, termasuk keputusan yang dibuat oleh pelanggan.

Namun perlu diingat bahwa tidak semua jenis emosi berguna bagi kesuksesan organisasi. Ada emosi-emosi yang justru bersifat menghancurkan, misalnya merasa diabaikan, frustrasi, jengkel dan tertekan. Shaw menyebutnya sebagai gugusan penghancur (destroying cluster). Jenis emosi lainnya adalah apa yang disebut gugusan perhatian (attention cluster). Emosi jenis ini berperan menstimulasi rasa ingin tahu seseorang. Gugusan perhatian tidak menjamin  seseorang tetap setia. Dengan kata lain, gugusan perhatian hanya bersifat jangka pendek. Jenis-jenis emosi ini diantaranya kepedulian, fokus, dan kepercayaan. Dan terakhir adalah gugusan advikasi dan rekomendasi (recommendation and advocacy cluster). Inilah gugusan emosi yang akan menjamin loyalitas dalam jangka panjang. Emosi yang terkandung didalamnya adalah bahagia dan senang. Agar sukses, organisasi harus menunjukkan bahwa mereka peduli dan dapat dipercaya, untuk kemudian secara terus menerus menyenangkan dan membahagiakan orang lain.