• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Rendang Juara 1 Dunia, Nasi Goreng Runner Up

Sindo Weekly

Himawan Wijanarko*

 

Pembaca mungkin sudah mendengar tentang survei CNN yang menempatkan rendang sebagai juara satu makanan terlezat di dunia. Masakan daging asal Sumatera Barat yang menggunakan campuran dari berbagai bumbu dan rempah-rempah ini ternyata telah mendunia. CNN menobatkan rendang sebagai masakan nomor satu terlezat di antara 50 masakan terbaik di dunia, mengalahkan masakan lain yang dianggap lebih “bergengsi” dan mendunia, semisal sushi, dim sum, dan lasagna. Hal ini berdasarkan jejak pendapat dalam jaringan (daring) terhadap 35 ribu orang responden stasiun televisi yang bermarkas di Atlanta, Georgia, AS itu. Nah, yang mungkin banyak diketahui, ternyata selain rendang, nasi goreng menduduki peringkat 2, tepat di bawah rendang. Masakan lain asal Indonesia yang juga masuk daftar 50 masakan terbaik di dunia adalah sate, berada di urutan ke-14.

Hasil jejak pendapat ini seharusnya dimanfaatkan untuk promosi pariwisata Indonesia. Jangan sampai “prestasi rendang” ini lenyap tanpa meninggalkan manfaat apapun bagi dunia pariwisata Indonesia. Peristiwa-peristiwa seperti ini memang harus dimanfaatkan dari waktu ke waktu yang akan membentuk citra positif dan dalam waktu yang panjang akan terakumulasi menjadi reputasi.

Agar citra positif Indonesia lebih terbangun dan dapat bertahan lebih lama, kegiatan mengangkat citra Indonesia sebagai sebuah destinasi harus terkait dengan pembangunan ekonomi dan budaya negeri ini serta harus dilakukan dengan proaktif, terencana, dan berorientasi kepada pengunjung yang dikemas dalam pemasaran destinasi (destination marketing). Dalam memasarkan sebuah destinasi, harus mempertimbangkan serta mengintegrasikan kepentingan para pemangku kepentingan semisal pemerintah, pengunjung, penyedia layanan tempat tujuan, dan komunitas sekitar. Melalui pemasaran destinasi yang unggul, pengunjung akan semakin banyak. Mereka pun akan senang datang kembali. Keuntungan ekonomi yang lebih besar pun akan diraih. Sayangnya, di Indonesia pemasaran destinasi ini masih belum digarap maksimal.

Dalam melaksanakan kegiatan pemasaran destinasi, pertama-tama perlu dipahami ciri khas sebuah lokasi yang membuat orang tertarik untuk berkunjung. Ciri khas tersebut dapat berupa iklim yang nyaman, pemandangan yang indah, kekayaan alam, tempat-tempat bersejarah, dan tradisi yang hanya dapat ditemui di sebuah lokasi. Tak perlu diragukan Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Namun ciri khas ini akan sia-sia tanpa didukung layanan yang unggul, infrastruktur, kebersihan, fasilitas kesehatan, dan keamanan lokasi daerah tujuan.

Berikutnya memposisikan (positioning) destinasi di benak wisatawan, mempertimbangkan ekspektasi dan pengalaman yang akan mereka jalani. Agar sukses, persepsi positif terhadap citra tempat tujuan harus dibangun, yaitu manfaat apa yang akan diperoleh dari kunjungannya dari destinasi tersebut. Juga harus diusahakan agar wisatawan merasakan pengalaman yang berbeda dan mengesankan. Dimulai saat pengunjung tiba di tempat tujuan, selama pengunjung berada di tempat tujuan, hingga saat pengunjung akan meninggalkan destinasi dan kembali ke daerah asal. Keunikan ini penting lantaran semakin banyak tujuan wisata yang menawarkan hal yang nyaris sama, seperti atraksi budaya, warisan sejarah, keramahtamahan masyarakat, dan sebagainya.

Rencana pemasaran menjadi inti dari pemasaran destinasi, yang mencakup visi, misi, dan sasaran yang ingin dicapai sebuah destinasi berikut strategi untuk mewujudkannya, jangka pendek maupun jangka panjang. Termasuk didalamnya adalah membangun merek destinasi.

Pemasaran destinasi tidak akan berhasil tanpa penerimaan dan dukungan komunitas di tempat tujuan, terutama terkait faktor budaya. Perbedaan sistem nilai, gaya hidup, dan tradisi antara pendatang dan pengunjung berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan konflik. Oleh karenanya, pemahaman terhadap budaya komunitas wajib diperhatikan.

Tak kalah penting adalah kualitas sumber daya manusia yang berekecimpung dalam pemasaran destinasi. Tanpa itu, cita-cita menjadikan daerah tujuan menjadi kawasan yang disegani hanyalah mimpi.

 

* Penulis Buku Power Branding