• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Taksi

Beberapa tahun silam ada sebuah survey mengenai taksi yang menjadi top of mind. Seperti yang diduga Blue Bird berada di urutan teratas. Yang mengagetkan urutan kedua diduduki oleh sebuah perusahaan taksi yang mempunyai citra negatif. Agaknya memang di taksi ini populer, tetapi dengan atribut yang negatif. Sehingga jika ada teman atau saudara dari luat kota, selalu mendapat pesan jangan sampai pesan taksi ini. Para calon penumpang pun acap mengurungkan niatnya ketika yang lewat taksi ini.

Saat kami mengadakan Anugerah Adikarya Wisata 2004, ada satu kategori yang sempat membuat peyelenggara sempat tertegun karena minimnya jumlah peserta. Kategori anugerah pariwisata DKI paling sepi tersebut tidak lain adalah taksi. Usut punya usut, ternyata ada semacam keyakinan diantara para pemain industri itu sendiri bahwa pemenangnya sudah hampir dapat dipastikan adalah sang penguasa pasar.

Keyakinan ini pulalah yang mengakibatkan merebaknya protes di kalangan pengusaha taksi kalangan ini atas diberlakukannya regulasi baru di bandara Soekarno-Hatta. Citra Bandar Sorkarno Hatta sempat tercoreng karena ulah sebagian sopir taksi yang nakal. Dan mereka acap tidak punya pilihan, karena ‘dipaksa’ untuk memakai taksi berdasarkan urutan. Regulasi ini memang memberi keleluasaan pilihan kepada konsumen, dan membuka pintu bagi penguasa pasar untuk memangkas pangsa pasar armada lain di bandara.

Keyakinan yang begitu kuat ini juga terlihat dari strategi kamuflase yang ditempuh beberapa pengusaha taksi yang kelihatan frustasi dalam mendapatkan kue pasar. Strategi ini tidak hanya meniru (me too) tetapi bahkan dapat dikatakan menyamarkan identitas aslinya sehingga identik dengan sang penguasa pasar.

Apakah strategi kamuflase ini berhasil? Merujuk pada beberapa kasus, dalam jangka pendek memang ada hasilnya, konsumen terkecoh. Tetapi jika tidak dibarengi dengan perbaikan kualitas yang signifikan secara berkelanjutan hasil tadi untuk jangka panjang justru potensial menjadi bumerang. Perlu diingat bahwa konsumen terkecoh memakai jasa tidak sepenuh hati. Dalam hal ini, jika ekspektasi pengguna tidak terpenuhi maka justru makin menguatkan hipotesis awal dan jangan salahkan mereka jika merasa menyesal telah terkecoh. Pada akhirnya hal ini justru mengerucutkan opini publik bahwa market leader memang terbukti yang terbaik dan mendidik konsumen untuk loyal kepada market leader.

Menyangkut pertaksian, selama ini media lebih banyak terisi oleh berita suram dan mencekam. Bahkan dalam sepekan kemarin, Polda Metro Jaya telah menerima tiga kasus perampokan yang terjadi di dalam taksi. Dalam tiga kasus perampokan di dalam taksi itu, korbannya adalah wanita. Seorang korban penjarahan di dalam taksi bahkan wanita yang tengah hamil tua. Sajian media ini bersama dengan berita dari mulut ke mulut memegang peran yang begitu penting bagi konsumen dalam memilih taksi. Dengan demikian, aspek keamanan dan keselamatan menjadi hal yang paling mendasar bagi bisnis taksi. Keamanan dan keselamatan menjadi pijakan pertama konsumen dalam menentukan citra dan kredibilitas sebuah perusahaan taksi. Baru kemudian aspek pelayanan lainnya, seperti keramahan dan fairness dalam tarif.

Dalam mengambil keputusan calon penumpang dituntun oleh persepsinya terhadap sebuah ’brand’ taksi. Suatu merek taksi sebagai subyek dalam persepsi calon penumpang akan dihubungkan dengan sejumlah atribut utama. Atribut-atribut yang melekat ini, kemudian diperbandingkan dengan kriteria-kriteria yang dianggap penting dalam memakai jasa taksi, misalnya keamanan, keramahan, dan fairness dalam tarif. Ketika keluar dari Bandara dan calon penumpang disodorkan kepada sejumlah pilihan, maka dia akan memlih berdasarkan preferensinya yang telah terbentuk sebelumnya. Dan inlah untungnya perusahaan taksi yang memiliki citra yang baik di mata konsumen.

Nah, masalahnya tidak mudah membangan brand image. Apalagi  untuk perusahaan taksi, yang citranya sangat ditentukan oleh para sopir taksi. Harus ada konsistensi antara yang diinginkan manajemen dengan perilaku sopir di lapangan. Karena itulah diperlukan sebuah organisasi yang bagus agar dapat menciptakan dan menopang sebuah merek yang unggul: strateginya, sistemnya, strukturnya dan kulturnya.

Diantaranya harus dilakukan brand culturalization, penciptaan sebuah budaya perusahaan yang selaras dengan citra yang ingin dibangun, yang akan membentuk pola perilaku yang konsisten sesuai dengan brand promise. Perilaku yang konsisten ini akan dirasakan sebagai pengalaman dalam berhubungan dengan merek oleh konsumen dan akan membentuk citra merek di mata mereka.

 

[Majalah Trust]