• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

Terkaman “Detroit Timur”

SINDO WEEKLY

Himawan Wijanarko*

 

“Detroit dari Timur”. Itulah julukan untuk Thailand terkait posisi negara itu sebagai produsen otomotif komersial terbesar ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat (AS) dan China. Matt Bradley, Presiden Regional Ford, memuji Thailand sebagai model bagi industri perakitan otomotif. Kejayaan industri otomotif Thailand juga ditopang oleh kuatnya industri komponen di negara itu. Saat ini, sekitar 80% komponen otomotif di negara itu dipasok oleh perusahaan-perusahaan lokal. Persentase ini adalah yang tertinggi di Asia Tenggara. Tiga produsen otomotif terbesar di Thailand adalah Toyota, Isuzu, dan Honda. Kebanyakan menghasilkan pikap dan mobil-mobil kecil. Namun merek-merek lain mulai masuk.

Tak puas dengan kendaraan komersial, Dewan investasi Thailand yang meluncurkan Eco-car programme. Melalui program ini, produsen mobil di Thailand berhak mendapatkan insentif, seperti dikecualikan dari pajak selama 8 tahun, bila mampu menghasilkan paling sedikit 100 ribu buah dalam kurun waktu lima tahun pasca memulai kegiatan.

Saat meluncurkan mobil ramah lingkungan pada tahun 2010, Dewan investasi Thailand menargetkan negeri itu mampu masuk jajaran 10 produsen mobil terbesar di dunia. Dua tahun kemudian Thailand telah bertahta di peringkat 9 dunia dengan produksi 2,4 juta mobil, satu juta diantaranya diekspor. Jumlah devisa yang diserap sekitar 490 Miliar Baht, setara dengan 200 Triliun Rupiah.

Di negeri Gajah Putih itu, mobil-mobil yang masuk kategori ramah lingkungan diantaranya adalah Nissan March, Honda Brio, dan Mitsubishi Mirage. Saat ini, program mobil ramah lingkungan ini berhasil meningkatkan kapasitas pabrik Thailand sebanyak 600 ribu unit per tahun. Mobil-mobil ini juga yang gencar masuk ke Indonesia sebagai city car. Pasar Indonesia yang besar adalah makanan empuk mobil ramah lingkungan Thailand.

Data dari Kementerian Perdagangan Thailand menunjukkan ekspor produk otomotif dan suku cadang tahun lalu sebesar 3,865 Miliar Dolar AS (sekitar Rp. 45 Triliun). Indonesia harus bersiap-siap menghadapi serbuan mobil ramah lingkungan asal Thailand, yang telah memiliki basis kuat di negeri asalnya.

Agaknya, pemerintah Indonesia ingin meniru keberhasilan Thailand. Maka lahirlah kebijakan mobil murah yang kontroversial itu. Pangkal kontroversi kebijakan mobil murah adalah insentif yang diberikan pemerintah untuk mobil-mobil hemat energi dan harga terjangkau atau Low Cost Green Car (LCGC). Tapi berbeda dengan Thailand yang mendapat dukungan penuh dari bangsanya, LGCC ini justru mendapat tantangan yang serius dan terancam gagal jika pemerintahnya berganti.

Apa salahnya? Komunikasi kebijakan yang buruk! Berbeda dengan Thailand yang justru menyembunyikan atribut “murah” dan hanya menyebut sebagai Eco-car Programme, pemerintah justru menonjolkan atribut murah. Mungkin maksudnya ingin menarik simpati, tapi justru menjadi bumerang. Tujuan untuk merangsang tumbuhnya industri komponen otomotif lantaran kewajiban produsen LCGC menggunakan komponen lokal hingga 80 persen, seolah tenggelam.

Menurut Ericson dan Johanson, di benak konsumen otomotif, harga mobil yang tinggi dipersepsikan memiliki kualitas yang tinggi. Demikian pula sebaliknya, tingginya kualitas mobil identik dengan harga mahal. Mobil murah juga dianggap menurunkan gengsi. Maka tak heran bila sangat banyak proyek dan penawaran mobil murah yang gagal. Bukan hanya Mazda MR dan Timor saja, Tato Nano di India pun hasilanya tidak memuaskan

Para penentangnya seolah mengabaikan fenomena globalisasi yang tengah menghadang, pasar bebas ASEAN yang sudah di depan mata. Jika mobil LCGC ini dibatalkan, tetapa saja city car dari Thailand akan masuk ke sini dengan harga murah, karena memang mendapat insentif dari pemerintahnya. Ketika peraturan mengenai LCGC disetujui, city car dari Thailand ini berani memberi diskon sampai 25 juta rupiah.

Jadi walaupun program mobil murah lokal ini dihentikan, tetap saja mobil murah Thailand tetap menyerbu dalam konsep pasar tunggal ASEAN. Dan Jakarta tetap saja bertambah macet.

 

* Penulis buku “Power Branding”