• In-House Training
    JCG TRAINING SESSIONS are tailored to participants’ needs.  Topics range from organizational development to motivation.  We focus in increasing performance by engaging the participant in active discussions.  Our training provides an avenue for in-depth analysis and problem solving of various management issues.
  • Executive Assessment
    JCG ASSESSMENT CENTER helps your organization assess the right talent and potential people based on what is the most critical to your organization. More than a psychological test, assessment will unearth individual strengths and fitness for a position.
  • Executive Search
    JCG EXECUTIVE SEARCH aims to provide the highest standard in recruitment services. In matching our candidates and clients, we opt for competency and culture fitness. Part of IRC Global Executive Search Partners, we are connected in 6 continents and 70 cities worldwide.
  • Consultation
    THE JAKARTA CONSULTING GROUP aims to be the partner for Indonesian Corporation in undertaking their corporate issues. In the past 30 years, we have been trusted in supporting our clients in dealing with strategic issues, corporate culture, human resources, and as part of their Corporate turnaround partner.

UMKM Bebas Formalin

Sinyalemen tentang pemakaian bahan-bahan kimia tidak pada tempatnya seperti formalin, boraks, dan pewarna dalam pengolahan sejumlah makanan bukanlah fenomena yang baru. Namun demikian, intensitas pemberitaannya belum pernah segencar akhir-akhir ini. Pemberitaan tentang ditemukannya pemakaian formalin pada sejumlah mie basah, tahu, dan ikan asin telah menimbulkan dampak yang luar biasa. Demikian telak memukul lebih dari delapan juta pelaku usaha di sektor industri makanan terkait yang sebagian besar berasal dari kalangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Belum lagi pemberitaan tentang bakso tikus yang secara akumulatif makin menambah efek dramatis dari carut-marutnya kondisi dunia perjajanan.

Bagi pelaku usaha yang dalam prakteknya memang mempergunakan bahan-bahan yang membahayakan kesehatan, pemberitaan ini menjadi relevan, lantas bagaimana dengan pelaku usaha yang lurus? Pelaku usaha yang menyajikan produknya secara higienis sesuai standar kesehatan tetapi baik secara langsung maupun tidak langsung terkena imbasnya. Istilah Jawanya, ora melu mangan nangkane, nanging kena pulute (tidak ikut merasakan nikmatnya buah nangka, tapi harus ikut menanggung getahnya). Bukankah tidak fair jika kalangan terakhir ini harus tiarap menerima semua dampak yang timbul di saat-saat seperti ini?

Sebelum pemberitaan ini mengemuka, di lapangan, pelaku usaha yang lurus sudah dirugikan dengan persaingan yang tidak sehat. Bagaimana tidak, produsen makanan dengan bahan-bahan yang membahayakan kesehatan seringkali justru lebih kompetitif dalam harga dan penampilan. Bahan-bahan tersebut seringkali lebih murah harganya, lebih mudah didapatkan dan dipergunakan, serta memberi hasil yang lebih instant. Pemakaian bahan-bahan tersebut telah menyulap produk mereka terlihat seakan lebih segar dan menarik, sungguh suatu perbedaan yang signifikan. Lebih parah lagi, konsumen yang selama ini belum teredukasi dengan baik juga mudah terkecoh sehingga makin menyudutkan pelaku usaha yang lurus.

Dengan demikian, mencuatnya pemberitaan ini dapat dipandang sebagai momen of lose bagi pihak yang melakukan ‘malpraktek’ tetapi di sisi yang lain menjadi momen of truth bagi pihak yang lurus.  Sebagai tonggak yang menyadarkan kembali konsumen terhadap nilai dari produk yang sehat. Kesadaran yang dilandasi oleh kejelasan (clarity) di atas puing-puing kesimpang siuran dan segala distorsi yang membingungkan. Tinggal bagaimana kreativitas dari pelaku usaha yang lurus untuk memanfaatkan momentum ini. Tidak saja untuk melepaskan diri dari belitan pulut (getah) yang terimbas tetapi lebih dari itu justru memanfaatkannya dengan counter attact yang efektif. Melepaskan diri dari pulut berarti keluar dari suasana yang crowded menuju kejelasan identitas, lebih dari sekedar berbeda. Lebih dari sekedar bebas formalin!

Dalam hal ini diperlukan fleksibilitas yang tinggi dan ditopang oleh  kecepatan bertindak dengan akurasi yang tinggi. Kunci utamanya adalah mendapatkan kepercayaan (trust) yang menjadi dasar dalam pengambilan keputusan konsumen dalam bertransaksi. “It’s all about trust”.  Dalam kondisi krisis seperti ini, tindakan yang cepat dan akurat akan dengan serta merta disambut khalayak. Bukankah pahlawan akan terlihat kepahlawanannya saat berhasil tampil di saat terjadi krisis? Ini berlaku untuk semua pelanggan, yang dari awal memang menuntut bukti. Kalau respon di momen penting itu positif, relevan dan akhirnya memuaskan pelanggan maka akan terciptalah ‘moment of trust’. Pihak yang melakukan tindakan ini tidak hanya akan dikenang, tetapi dihargai dan dicintai. Transaksi yang menimbulkan kepercayaan ini pada gilirannya akan berbuah pada hubungan (relationship) yang lebih baik. Fenomena tersebut saat ini dinikmati oleh beberapa pemimpin pasar. Sebut saja Pocari Sweat setelah wabah demam berdarah melanda tanah air dan Tamiflu setelah mewabahnya flu burung menghantui dunia.

Kita sepakat bahwa tidaklah mudah bagi UMKM untuk dengan cepat melewati saat sulit seperti ini menuju terjalinnya relationship yang lebih baik, tetapi semua ini bukannya tidak mungkin. Ketekunan, keluwesan, dan kreativitas yang saat krisis moneter lalu menyelamatkan UMKM sehingga sanggup bertahan (survive) hingga sekarang menjadi modal yang senantiasa diperlukan.

 

[Majalah Trust]